Bagi yang malas berpikir pasti akan bilang apa yang dilakukan 3 orang penggerak KBB itu kurang dahin. Jadi teringat perjuangan untuk menyatakan Guru Patimpus sebagai pendiri Medan itu. Baru tahun 1975 lah disepakati Guru Patimpus pendiri Medan. Dan tanggal hari jadi Kota Medan adalah 1 Juli 1590.

Sampai tahun 1970 pun hari jadi Kota Medan ditetapkan tanggal 1 April 1909. Itu tanggal Belanda menetapkan Medan sebagai kota dengan adanya gementee atau pemerintahan.

Tahun 1971 mulailah penelitian hari jadi Kota Medan. Dibentuklah Panitia Peneliti Hari Jadi Kota Medan. Duduk sebagai Ketua adalah Prof. Mahadi SH, Sekretaris Syahruddin Siwan MA, Anggotanya antara lain Ny. Mariam Darus SH dan T. Luckman Sinar SH.




T. Luckman Sinar sangat paham tentang sejarah Kota Medan dan hubungannya dengan Karo. Beliau pula yang menulis sejarah Perang Sunggal (Perang Karo) dan menolak Perang Sunggal dinamakan Perang Batak (Batak Oorlog). Karena tak ada orang Batak dalam peperangan 23 tahun lamanya itu.

Untuk lebih mengintensifkan kegiatan kepanitiaan ini dikeluarkan lagi Surat Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Kotamadya Medan No.618 tanggal 28 Oktober 1971 tentang Pembentukan Panitia Penyusun Sejarah Kota Medan dengan Ketuanya Prof. Mahadi SH, Sekretaris Syahruddin Siwan MA dan Anggotanya H. Mohammad Said, Dada Meuraxa, Letkol. Nas Sebayang, Nasir Tim Sutannaga, M. Solly Lubis SH, Drs. Payung Bangun MA dan R. Muslim Akbar.

Ada pak Payung Bangun dan pak Letkol. Nas Sebayang di dalamnya.

DPRD Medan sepenuhnya mendukung kegiatan kepanitiaan ini sehingga merekapun membentuk Pansus yang diketuai M.A. Harahap, dengan Anggotanya antara lain Drs. M. Hasan Ginting, Ny. Djanius Djamin SH, Badar Kamil BA dan Mas Sutarjo.

Nama Guru Patimpus disebutkan sebagai pembuka sebuah kampung di pertemuan Sungai Babura dan Sungai Deli, di sebuah kampung yang bernama Medan Puteri. Walau sangat minim data tentang Guru Patimpus sebagai pendiri Kota Medan.

Maka ditetapkan berdasarkan prakiraan bahwa tanggal 1 Juli 1590 diusulkan kepada Walikota Medan untuk dijadikan sebagai hari jadi Medan dalam bentuk perkampungan, yang kemudian dibawa ke Sidang DPRD Tk. II Medan untuk disahkan. Berdasarkan Sidang DPRD tanggal 10 Januari 1973 ditetapkan bahwa usul tersebut dapat disempurnakan.

Sesuai dengan hal itu oleh Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Medan mengeluarkan Surat Keputusan No.74 tanggal 14 Februari 1973 agar Panitia Penyusun Sejarah Kota Medan melanjutkan kegiatannya untuk mendapatkan hasil yang lebih sempurna.

Berdasarkan perumusan yang dilakukan oleh Pansus Hari Jadi Kota Medan yang diketuai oleh M.A. Harahap bulan Maret 1975 bahwa tanggal 1 Juli 1590.

Secara resmi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tk. II Medan menetapkan tanggal 1 Juli 1590 sebagai Hari Jadi Kota Medan dan mencabut Hari Ulang Tahun Kota Medan yang diperingati tanggal 1 April setiap tahunnya pada waktu-waktu sebelumnya.

Hanya ada 3 orang Karo di kepanitian itu. Tapi bisa MELURUSKAN SEJARAH KOTA MEDAN.




Apa muncul saat itu ucapan ini? : “Aahh…. itu kurang dahin?” Atau muncul ucapan : “Apa untung ruginya kalau bukan Guru Patimpus pendiri Medan?”

Mungkin saja ada. Tapi itu biasanya omongan orang malas berpikir.

Kemarin ada 3 orang pendukung KBB yang menyatakan Karo Bukan Batak, dan kalimat-kalimat itu juga muncul. Lalu menuduh: Kurang dahin. Padahal seharusnya yang melihat diajak untuk berpikir: Betulkah? Apa ya arti Batak itu?

Semoga hanya segelintir para pemalas itu. Karena wacana yang meragukan Guru Patimpus sebagai pendiri Medan pun sudah ada. Abislah kita kalau tak ada yg mempertahankan sejarah kita sendiri. Digilas dengan argumen-argumen yang menentang Karo sebagai pendiri Medan.

Saya pun jadi ingat, bahwa hari jadi Kabupaten Karo pun baru ditetapkan. Tanggal 8 Maret 1946 akhirnya ditetapkan sebagai awal berdirinya Kabupaten Karo. Penetapan ini setelah digelarnya seminar yang berlangsung cukup alot di Convention Hall Hotel Internasional Sibayak Berastagi, Kamis – Jumat (24 – 25/8/2017).

Sungguh heran baru tahun 2017 berkumpul, berdiskusi dan menyepakatinya. Apa karena kita malas membahas sejarah atau merasa tak ada gunanya?

Mari kita berkaca.








4 COMMENTS

  1. Pas itu..kita ya kita,n kita bukan orang lain..kalo di sama2 kan,ap pn bs sma klo kt mau.,tp nyata kan,kt bukan sama walau secara umum.,cara bicara,motivasi pribadi acara umum,adat,dll.

  2. “apa yang kita yakini benar memang harus diperjuangkan” (FAP)

    Betul memang, nasib dan masa depan suatu kultur/suku harus diperjuangkan oleh suku atau pemilik kultur itu sendir, tidak bisa diserahkan kepada suku lain atau kultur lain, terutama kalau mengingat lagi ethnic competition yang bisa bikin punah suatu etnis/kultur tertentu.

    Tiap kultur/suku, untuk menjaga existensinya dan survivalnya ‘memang harus diperjuangkan’ sendiri secara aktif oleh kultur bersangkutan.

    Belakangan sudah banyak juga perubahan sangat positif. Lihatlah bagaimana pemuda-pemuda Karo bawa spanduk besar dikota Medan mengatakan bahwa KARO BUKAN BATAK. Sama dengan keaktifan dan kegesitan pemuda Mandailing mengobarkan bahwa Mandailing Bukan Batak. Perjuangan dan Pernyataan ini semua adalah adil dan karena itu harus dilakukan. Selain adil juga perlu untuk PENCERAHAN bagi semua publik Indonesia dan dunia.

    Apa yang benar dan yang adil harus dikedepankan, juga karena KEBENARAN dan KEADILAN adalah perlu bagi SEMUA. Tidak ada keadilan tanpa kebenaran, juga tidak mungkin berlaku kebenaran kalau tanpa keadilan.

    Semua ini harus diperjuangkan, dengan:

    katakan apa yang harus dikatakan
    tulis apa yang harus ditulis
    bikin apa yang harus dibikin

    Kalau diam saja tidak akan ada perubahan.

    Tanpa bikin perubahan, suatu suku/kultur pasti akan lenyap dimakan zaman yang selalu dan tetap berubah itu.

    MUG

  3. Bujur,tulisanndu kembali mengingatkan kita bahwa apa yang kita yakini benar memang harus diperjuangkan walaupun awalnya hanya oleh 3 orang, dan kita orang karo juga harus lebih banyak membaca buku dan berdsikusi secara sehat untuk kemajuan dan kemandirian bersama. salam mejuah juah man banta kerina

Leave a Reply