Sepertinya suasana Pilgub Jakarta akan dicontek Jawa Tengah. Ada sejumlah kesamaan. Pertama, orang yang didorong maju adalah sama-sama bekas menteri yang dipecat Jokowi. Bukan dipecat sih, dalam bahasa Anies disudahi jabatannya. Di Jakarta ada Anies Basewedan, di Jateng dihadirkan Sudirman Said.

Ke dua, isu agama akan mulai dimainkan. Ganjar Pranowo akan disematkan isu anti Islam. Dengan back ground sebagai politisi PDIP, gerakan mendeskriditkan PDIP sebagai partai nasionalis mulai digencarkan. Lihat saja, kini isu penjualan Indosat di jaman Megawati kembali diangkat.

Ke tiga, Sudirman Said didukung oleh PKS, dan kemungkinan besar Gerindra. Kita tahu dong, gaya partai ini dalam berpolitik. Agama dijadikan tunggangan. Strateginya sama seperti di Jakarta. Memperjuangkan Gubernur yang dianggap dapat menampung aspirasi kelompoknya.




Jika melihat konstalasi politik, Jabar dan Jatim memang sudah agak susah dimasuki secara serius. Di Jabar kandidat yang memiliki elektabilitas tinggi adalah Ridwan Kamil dan Deddy Mulyadi. Sementara Deddy Mizwar justru ditolak oleh Gerindra. RK dan DM dianggap susah untuk dipegang oleh kelompok garis keras.

Sedangkan di Jatim ada Syaefullah Yusuf dan Khofifah yang kental ke-NU-annya. La Nyala Mantili mencoba mengambil peran untuk mewakili kelompok ini, tapi sampai sekarang kayaknya tetap mendem.

Satu-satunya peluang untuk menguasai Jawa, ya, di Jawa Tengah. Kandidat yang akan diusung adalah Sudirman Said itu. Kabarnya Sudirman sangat dekat dengan kelompok PKS. Bahkan ada yang menyangka dia adalah salah satu kader senior yang dipersiapkan.

Lihat saja sekarang, gerakan sholat subuh berjamaah sebagai bagian dari politisisasi masjid mulai ramai dijalankan di Jateng. Sebetulnya gerakan subuh berjamaah itu bagus-bagus saja. Yang gak enak, jika di dalamnya terselip tujuan politis. Apalagi pengajian dengan pembicara dari kelompok garis keras juga makin semarak.

Ganjar Pranowo akan kerepotan menangkis isu e-KTP yang menyerempet dirinya. Eskalasi pemeriksanaan dan bahkan sampai proses persidangan Setya Novanto tentu bisa menjadi senjata untuk menjatuhkan Ganjar. Apalagi Sudirman Said adalah tokoh Masyarakat Transparansi Indonesia, sebuah LSM yang memang memiliki kaki kuat di kalangan aktivis antikorupsi.

Ganjar diharapkan mampu menispis isu e-KTP yang membelit dirinya. Tapi sekali lagi, yang namanya momentum politik seperti Pilkada, isu ini akan terus digulirkan. Plus nanti provokasi agama, lengkaplah sudah senjata mereka.

Dengan dua bekas menteri maju sebagai Gubernur, Jokowi akan mendapat hadangan yang tidak ringan. Kedua mantan ini tentu sakit hati karena dicopot dari jabatannya. Keduanya didukung oleh PKS. Itulah modal mereka untuk menjadi penghalang Jokowi di Pilpres nanti.

Kemarin sempat saya baca Babo (Uda Eryjeli) menuliskan informasi bahwa sekarang ada kelompok yang mulai disiapkan untuk mengusung Anies jadi Capres. Kelompok ini mulai bekerja secara serius.

Tapi, kalau targetnya Capres, tentu saja akan berbenturan dengan Prabowo, yang sampai sekarang masih memimpikan diri jadi Presiden. Beliau tidak puas jika cuma main Presiden-presidenan.

“Masa disamain sama Fakrurozi, yang cuma jadi Gubernur-gubernuran, mas,” celetuk Bambang Kusnadi.








Leave a Reply