Tidak dipungkiri, sejak Balita, anak anak sudah “dipaksakan” untuk membaca dan menghapalkan ayat-ayat. Bersama berjalannya waktu, ketika anak anak bisa hapal, banyak orangtua merasa bangga. Bangga bahwa anaknya kelak diharapkan menjadi anak yang baik. Anak yang soleh. Anak yang berbakti buat bangsa dan negara.

Agama adalah way of life. Segala galanya untuk membentuk karakter dan Akhlak Manusia. Itu anggapan siapapun sebagai orangtua.

Maka, jika banyak sekolah berbasis agama, dengan nama ke Arab-araban, tentu menjadi daya tarik. Sekolah berbasis agama laris manis. Menjadi simbol bahwa sekolah tersebut menjadi jaminan mutu untuk “mencetak” manusia yang hebat. Hebat dalam beragama.




Namun, ketika sains dan tehnologi tiba-tiba berkembang luar biasa cepat, tiba-tiba hidup harus berkompetisi, dalam usaha apapun ternyata kompetitor semakin banyak, apakah ahli agama bisa menjawab tantangan zaman?

Ketika kebutuhan hidup makin konsumtif. Ketika hidup musti mengikuti zaman, ketika gebyarnya dunia mau tidak mau harus dibeli. Dibeli dengan uang. Para ahli agama tentu juga mengaktualisasikan dirinya agar tetap eksis. Eksis sebagai ahli agama tentunya.

Ke mana para ahli agama mengakomodasikan ilmunya untuk “cari makan”?
> Ada yang jadi ustadz
> berafiliasi dengan partai politik.
> berdagang sesuai dengan basik keilmuannya
> bahkan ada yang mengkhususkan diri berprofesi menangkap hantu.




Apakah fenomena membludaknya ahli agama berdampak positif dalam berbangsa dan bernegara? Harusnya sih, iya.

Namun, ketika agama itu sendiri faktanya terpecah menjadi banyak golongan, maka, jika ada ustadz yang nyeleneh dan cenderung Kontroversial, selalu membuat situasi panas dan tidak kondusif. Itu karena demi eksistensi.

Maka, jika ada ustadz seperti orang kesambet mengatakan tanda plus dan palang merah itu adalah Kristenisasi, itu juga musti dimaklumi. Jika ada ustadz yang suka ngetweet teriak kofar kafir, ya harus sabar. Ustadz juga manusia. Ustadz juga kepingin hidup mewah sukur-sukur punya istri banyak.

Jika bermodal agama bisa mencukupi semua kebutuhan, kenapa harus kerja keras? Dan juga dimaklumi, jika Jazirah Arab selalu perang, di sana bukan lagi ahli, namun pakar agama berserakan!





Leave a Reply