Ah, hujan ini semakin menambah dingin saja. Pagi ini, setelah berangkat dengan keadaan gerimis di Bandung, disambut lagi dengan gerimis dan berkabut di Pangalengan tempat sehari-hari bekerja. Saya yang terbiasa dinggin di kampung halaman, masih saja merasa dingin. Ini sebenarnya belum bisa mengalahkan Winter 2009 di Kota Vlissingen, Netherland. Akan tetapi hari ini memang tergolong dingin.

Teman, seorang pelajar bernama Felix dari Jerman, yang sedang magang di kantor, mengungkapkan hal yang sama. Ia  mengenakan syal di lehernya serta mengenakan jeket serta berujar: “Its winter time in Indonesia.”




Sambil sesekali membayangkan kopi Arabica datarang tinggi di Pangalengan, lamunanku pun melihat kembali apa yang telah lewat, di mana aku sekarang, dan kemudian ke mana aku hendak berjalan (quo vadis).

“Kopi Arabica dataran tinggi Pangalengan berpindah ke dataran tinggi kampung halaman Paribun. Keunggulan kopi ini mungkin bisa menggantikan jeruk yang sudah tidak manis lagi karena hama lalat buah,” gumamku dalam hati.

Aku terus berucap dalam hati “sudah 33 tahun usia, apa arti hidupku ini, apakah hidup ini memang memberi arti?” Begitulah campur aduk kopi Arabica dan lamunan hidup dalam dinginnya hari ini.

Lamunan arti hidup ini terus berlanjut. Aku bertanya bagaimana aku menemukan arti hidup itu sendiri.

Dahulu ketika kecil, aku pernah membuat orangtua begitu marah. Kadang aku bercanda berlebihan sehingga mereka tersinggung. Di hari lain, aku membuat orangtuaku bertengkar karena uang yang aku curi dari dompet ibu ketika itu. Mengingat-ingat masa kecil ini saya menyadari tentu saja perbuatanku itu tidak berdampak bagiku dan orangtua.

Suatu ketika, setelah menjelang kuliah program D3 teknik mesin selesai, aku diterima di Hogeschooll Zeeland, Vlissingen, Netherland, untuk meneruskan kuliah S1. Ibuku tidak bisa membendung airmatanya, ketika lewat telephone aku memberikan kabar gembira itu. Airmata itu tentu terharu, karena anak yang dilahirkan di barung-barung (dusun) akan sampai ke negeri kincir angin.

Di tempat kerja, pernah suatu ketika aku didemo oleh puluhan orang. Demo itu karena ada perkataanku yang menyinggung mereka. Mereka tersinggung karena aku mengatakan mereka tidak disiplin, sehingga memepengaruhi pekerjaan saya. Ucapanku membuat orang lain tersakiti. Kendatipun aku bertujuan baik, perkataanku dapat mendatangkan hal buruk bagi orang lain.

Dalam keseharian di rumah, aku merasa melakukan yang terbaik, dan juga berkata dengan tujuan yang baik pula. Akan tetapi aku tidak bisa menghindari tetesan air mata istriku, akibat perkataan dan perbuatanku sendiri. Itu bukan satu dua kali, mungkin sudah sering. Ahirnya, aku putuskan tidak merubah sikapnya. Akan tetapi yang sangat mungkin aku ubah adalah caraku untuk berkata dan berbuat.

Ah, di usia 33 tahun sore ini, aku menemukan cara bagaiman melihat keberartian hidup. Berkaca kepada diri sendiri memang bisa membantu, tetapi ada kecenderungan kita akan mengarti hidup terpaku pada diri sendiri atau egois. Akupun berkesimpulan, aku harus merenung dalam dirimu, dalam diri orang lain untuk menemukan makna hidup ini. Berarti tidaknya hidup ini adalah bagaimana kita membuat orang lain menemukan betapa berharganya hidup ini. Dengan kata lain, kita memerlukan orang lain untuk membentuk hidup yang berarti.

Pandanglah sekeliling kita dan perbuatlah kebaikan untuk semua, maka sekeliling akan menorehkan keberartian hidup kita.

Salam semangat dan perjuangan.








Leave a Reply