Begini, sejak lengsernya Pak Karno, Pak Harto dan Seterusnya, Hanya Pak Jokowi yang bernilai plus diantara presiden-presiden setelah Pak Karno. Bukan berarti mengecilkan kontribusi para presiden sebelumnya, namun Pak Jokowi yang lahir dan tumbuh serta dibesarkan dari rakyat biasa, telah membuktikan dan konsisten dalam prestasi sejak menjadi Walikota.

Pak Jokowi memikirkan saudara-saudara kita di Papua dengan kebijakan BBM satu harga.

Bayangkan. Bayangkan saja, dengan kondisi alam yang sulit, jangkauan transportasi yang harus ditempuh melalui udara, tentu kebutuhan bahan pangan serta harga BBM harus disesuaikan dengan biaya pengeluaran transportasi. Tentu saja hal itu membuat harga-harga di pedalaman Papua luarbiasa mahal.




Itu terjadi selama 70 tahun sejak Indonesia Merdeka. Harga BBM di sana sekitar 50 ribu rupiah. Apakah ada presiden yang memikirkan hal ini termasuk SBY yang terpilih dua kali? Faktanya tidak, bukan?

Pak Jokowi dengan dibantu oleh menteri-menterinya yang juga hebat, lalu mencari solusi. Mencari jalan keluar agar bisa merealisasikan kebijakan itu. Setelah dikaji dengan seksama, maka yang harus dibenahi adalah Proses Pembelian Minyak dan Gas yang melalui CALO bernama perusahaan PETRAL.

Jika Pak Mantan Tidak bernyali membubarkan Petral karena ditenggarai ada kong kali kong dengan Keluarga Cendana, Pak Jokowi dengan sigap dan berani menempuh resiko, (risikonya Pak Jokowi tentu dimusuhi, bahkan ditenggarai demo yang berjilid-jilid juga untuk mendongkel Pak Jokowi), Petral yang sudah menelikung keuntungan Pertamina diberangus. Milyaran Rupiah diselamatkan. Duitnya untuk apa? Salah satunya untuk mensubsidi saudara-saudara kita di Papua agar bisa menikmati harga BBM seperti kita-kita yang hidup di Indonesia bagian Barat.

Banyak hal yang sudah dilakukan oleh Pak Jokowi untuk membangun negeri ini. Bahkan waduk dan jalan tol yang mangkrak sejak Era Soeharto, oleh Pak Jokowi diselesaikan.

“Aahh, tapi untuk membangun semuanya itu duitnya kan dari ngutang?”

Iya, memang. Tapi siapa sih saat yang menjadi presiden tidak ngutang? Bahkan Jaman Soeharto yang Sumber Daya Alamnya, mulai hutan, emas, timah, dan lain-lin masih melimpah-limpah, uang hasil penjualan Sumber Daya Alam Jaman Soeharto dikemanakan? Kenapa tetap ngutang?

Yakinlah, di sana ada srikandi ekonomi yang bernama IBU SRIMULYANI, begawan ekonomi dan keuangan yang tentu akan mengambil kebijakan terukur bahwa resiko mengejar ketertinggalan dari bangsa ini adalah membangun infrastruktur yang didanai dari investasi asing. Yang oleh pembenci Pak Jokowi digembar-gemborkan sebagai hutang.

Cerita tentang kebijakan BBM satu harga di Papua hanyalah salah satu bukti bahwa Pak Jokowi adalah presiden hebat setelah Pak Karno.

Sudahlah, Pak Jokowi Saja.








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.