Di satu majelis, seorang lelaki dusun bertanya: “Ya Rasul, kapan kiamat tiba?”

Saat itu sudah memasuki waktu sholat. Nabi tidak sempat menjawab pertanyaan tersebut. Selesai sholat, Rasulullah berkata: “Siapakah tadi orang yang bertanya soal kiamat?”

Lelaki dusun itu menunduk malu: “Saya yang bertanya, ya Rasul…”

“Apa yang sudah engkau siapkan untuk menghadapi kiamat itu?”

“Tidak ada. Ibadah saya sedikit,” jawabnya. Wajahnya tidak berani diangkat. “Tapi saya amat mencintaimu, ya Nabi Allah…”

Nabi terseyum. “Engkau nanti berasamaku. Setiap orang akan dibangkitkan bersama sesuatu yang dicintainya.”

Lelaki dusun itu tetap merunduk. Dia tidak berani menatap Nabi. Tapi dia tahu jawaban itu telah membuat hatinya berbunga. Seperti cinta yang berbalas. Begitulah kanjeng Nabi memposisikan mereka.

Sama seperti lelaki dusun itu, kita juga ingin berkata –dengan perasaan malu yang menghimpit : “Ya, Rasul. Ibadah kami cuma sedikit. Dosa kami tidak terkira. Engkau minta kami menjaga hak orang lain, kami sering mengabaikannya. Engkau meminta kami bermanfaat untuk masyarakat, yang kami pikirkan hanya diri sendiri. Kami malu mengaku sebagai pengikutmu. Tapi, ya Rasulullah, kami mencintaimu. Mencintai keluargamu. Mencintai orang-orang yang engkau cintai…”

Leave a Reply