Kata ketua MUI Kyai Maruf Amin: “Untuk apa ada reuni 212? Persoalan Ahok sudah selesai.”

Ah, Kyai Maruf kayak gak tahu aja. Gerakan ini memang bukan cuma mensasar Ahok. Jadi, gak otomatis bubar ketika kasus Ahok selesai. Ahok hanya sasaran antara. Sasaran berikutnya jelas yang lebih tinggi dari sekadar Gubernur.

Lihat saja komentar seorang tua tentang Jokowi dalam sambutannya. Dia bilang Jokowi memecah belah umat Islam. Padahal dia yang ke mana-mana memusuhi Presiden. Atau statemen seorang politisi yang nyinyiri Jokowi yang memilih menghadiri acara para guru di Bekasi, ketimbang ontran-ontran di Monas.

Ada beberapa pihak yang mau mengambil manfaat dari kumpulan 700 triliun manusia di Monas tadi pagi. Pertama adalah mereka yang ingin meraup suara untuk Pemilu 2019. Dari kelompok ini ada mister 08, yang menurut kabar bukunya dibagikan kepada peserta reuni tanpa sekolahan itu.







Orang ke dua yang mau memetik manfaat elektoral adalah Gubernur. Dia datang –seperti biasa– bicara dengan bahasa yang manis. Dia juga yang memberikan rekomendasi digunakannya lapangan Monas untuk acara ini. Bahkan dengan menggubah surat keputusan Gubernur sebelumnya yang melarang Monas dijadikan lokasi kegiatan keagamaan karena memang lahan milik semua agama.

Ke tiga adalah PKS, yang berharap gelora semangat Islam politik ini akan berdampak pada kenaikan suaranya nanti pada Pemilu. Makanya PKS adalah partai yang paling ngotot untuk urusan reuni 212. Salah seorang pentolannya, HNW juga ikut berbicara di panggung.

Yang ke empat –ini yang paling berbahaya– adalah mereka yang terus menerus mendesakkan berdirinya khilafah. Meski secara hukum organisasi HTI dibubarkan, tapi rupanya keinginan mengubah Indonesia itu masih menggelora.

Jika ketiga pihak di atas orientasinya yang penting dapat suara dalam Pemilu nanti, berbeda dengan kelompok terakhir, mereka mengharamkan Pemilu dan tujuannya justru mau mengubah dasar negara.

Mau bukti? Bendera-bendera HTI bertebaran di acara tadi. Juga spanduk-spanduk seruan menegakkan khilafah.

Salah satu usaha mereka untuk meletakkan pondasi sistem khilafah adalah dengan memaklumatkan lagi pengangkatan Rizieq Shihab sebagai Imam Besar pada acara hari ini. Apa tujuannya? Buat mempersiapkan khilafah-khilafahan itu.

Pengangkatan Rizieq sebagai Imam Besar pada tahun lalu (sebelum buron karena kasus mesum), lalu sekarang digaungkan lagi, menurut saya bukan perkara main-main. Ini bukan seperti melantik Fahrurozi jadi Gubernur-gunernuran. Tapi, itu adalah sebuah landasan yang mereka persiapkan.

Memang namanya sekarang baru Imam Besar (entah apanya yang besar). Artinya belum menggunakan istilah khilafah seperti Abubakar Albagdhadi. Tapi logikanya, ini bukan seperti mengangkat marbot masjid. Ini adalah sebuah jalan yang sedang diretas untuk menggantikan sistem pemerintahan Indonesia.

Bahasanya boleh dihaluskan menjadi Jakarta bersyariah. Atau Indonesia bersyariah. Tapi kita tahu ujungnya.

Jadi reuni ini tidak ada urusannya sama Ahok, seperti yang diherankan Ketua MUI Kyai Makruf Amin.

Ini adalah gerakan politik yang mencampurkan berbagai macam kepentingan. Ini adalah tambang suara umat Islam yang dianggap mudah digiring-giring, sesuai kepentingan penggiringnya.

Padahal Giring Nidji sudah jadi kader PSI. Dia jadi pendukung Jokowi yang militan.








1 COMMENT

  1. “Ini adalah gerakan politik yang mencampurkan berbagai macam kepentingan. Ini adalah tambang suara umat Islam yang dianggap mudah digiring-giring, sesuai kepentingan penggiringnya.” (EK)

    Betul memang, suara massa umat islam sebagai tambang suara dalam pemilihan legislatif maupun pilpres. Suara massa umat yang dianggap mudah untuk digiring ke tujuan tertentu, disini jelas untuk tujuan politik. Dan dalam politik dikatakan oleh presiden FD Roosevelt begini: “In politics, nothing happens by accident, you can bet it was planned that way.” Jadi sesuai dengan pengalaman Roosevelt, gerakan 411, 212 ‘reuni’ dll sudah ada yang menyiapkan prosedurnya dan untuk apa, karena ini adalah gerakan politik walaupun berkedok agama.

    Siapa yang merencanakan? Tentu yang menggiring itu. “we are dominated by the relatively small number of persons…who understand the mental processes and social patterns of the masses. It is they who pull the wires which control the public mind.” Ini dikatakan oleh Edward Bernays si jago public relations (propaganda dan iklan) 1928.

    Apakah semudah itu menggiring dan mengutak-ngatikkan massa banyak itu? Terlebih karena gerakan massa ini bukan kebetulan, seperti dikatakan oleh Roosevelt itu.

    Menggerakkan dan memanipulasi massa, mudah dan sulit he he . . . Mudah bagi segelintir orang itu, yang sudah pandai dan sudah mempelajari psikologi massa, yang tahu ‘mental processeses and social patterns of the masses’, ditambah lagi dengan biaya yang tak kurang. Mereka ini bukan sembarangan orang dalam menghadapi dan menggiring massa. Buktinya mereka selalu berhasil dan sukses besar dalam pekerjaan besar, seperti pecah belah 1965, 411, dan yang barusan saja Reuni 212 dua hari lalu.

    Memang massa yang digerakkan dalam 411, 212 relatif sangat jauh jaraknya dari golongan terpelajar secara umum, tetapi kerendahan pengetahuan ini agaknya bukan juga jadi alasan 100% bisa gampang dimanipulasi. Kalau kita bandingkan dengan masyarakat Eropah Barat yang juga sering dimanipulasi begitu gampang. Presiden Hollande yang bikin darurat seluruh Perancis karena ditakut-takuti oleh terorisme. Presiden Jokowi malah bilang teroris tidak perlu ditakuti. Hollande bilang kalau teror Nice adalah teror islam, wapres JK malah bilang kalau teroris tidak ada kaitannya dengan islam. Jelas dalam hal ini yang betul ialah Jokowi dan JK. Jadi bisa diduga bahwa pengetahuan (psikologis) dalam memanipulasi dan menggiring massa itulah yang semakin tinggi dikalangan segelintir manipulator itu. Sepertinya siapa saja bisa berhasil dimanipulasi oleh segelintir pemanipulasi ini.

    Kalau kita tinjau lebih jauh, selain tujuan dekatnya menyingkirkan Jokowi dalam pilpres mendatang, karena Jokowi seorang pemimpin nasionalis penjaga kepentingan nasional nation Indonesia, dan mengingat pula bahwa KONTRADIKSI POKOK dunia sekarang adalah antara kepentingan nasional bangsa-bangsa dunia kontra kepentingan interansional neolib deep state. Jokowi sudah dikenal sebagai orang nasionalis tulen oleh neolib internasional yang anti-nasionalis seluruh dunia. Menyisihkan Jokowi dari kekuasaan negara RI termasuk dalam usaha utamanya menyingkirkan semua pejuang nasional bangsa-bangsa demi tujuan ‘world hegemony’nya.

    Hal-hal seperti ini sudah sering terjadi, di Indonesia 1965, dan jauh sebelumnya sudah juga banyak terjadi, seperti pernah juga dikatakan oleh British Prime Minister Benjamin Disraeli, 1876:

    “The governments of the present day have to deal not merely with other governments, with emperors, kings and ministers, but also with the secret societies which have everywhere their unscrupulous agents, and can at the last moment upset all the governments’ plans.”

    Agen rahasia dan gerombolan rahasia ini memang ada dimana-mana, bisa bercokol dibawah meja PM Disraeli, dan tentu juga bisa muncul di Jakarta atau di tugu Monas. Karena itu mempertinggi kewaspadaan dan terus- menerus mempelajari dan mendalami taktik dan strategi ‘secret societies’ ini adalah tugas utama seluruh bangsa, politisi, akademisi dan intelektual nasional bangsa Indonesia.

    MUG

Leave a Reply