Ketika Pilkada DKI membuat bangsa ini terbelah antara manusia-manusia waras versus yang mengaku paling beragama, hingga ayat-aya suci diajak berpolitik, bahkan jika yang memilih Ahok dikatakan sesat, kafir, dan membela penista Agama, jujur saya saat itu sering melenguh pelan:  “Agamaku, oohh.. agamaku..”




Ketika ternyata di kemudian hari orang-orang yang bersuara lantang membenci Ahok karena agama, ada yang ditangkap karena jadi bajingan duit rakyat. Ada yang lari lintang pukang karena kasus chat mesum ditambah puluhan kasus termasuk menistakan Pancasila. Saya makin gelisah. Kutekan dada ini. Dada sendiri sambil bergumam: “Agamaku, oohh, agamaku….”

Ketika ada pemimpin yang menang dan terpilih karena agama, namun ternyata telah menimbulkan kerusakan, nilai moral dan iman diabaikan. Terbukti telah mengirimkan uang rakyat senilai Rp. 40 milyar ke alamat palsu lalu dengan entengnya mengatakan “itu hanya kesalahan kecil dan kesalahan administrasi”, saya lagi-lagi bergumam: “Agamaku, ooh…. agamaku.”

Dan, ketika lagi-lagi tersiar kabar ada Reuni 212 yang sudah gampang ditebak ada agenda politik untuk 2019, maka bukan lagi gumaman, bukan lagi berkata lirih, kutulis ini agar semua bisa tahu bahwa saya lagi berkeluh kesah.

Agamaku, ooh…. agamaku..








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.