Jangan terlalu buta terhadap patriotisme sehingga Anda tidak dapat menghadapi kenyataan. Salah, ya salah. Tidak peduli siapa yang melakukannya atau mengatakannya.

Malcolm X

 

Dia adalah seorang aktivis dan pejuang hak-hak kebebasan di USA, yang berjuang melawan penindasan atas nama apapun. Di Indonesia, tokoh macam ini tidak kita miliki. Yang nongkrong di podium-podium aksi yang biasa kita saksikan adalah karakter yang bermental hipokrit dan oportusnis sejati. Mereka tidak punya ideologi apalagi prinsip.

Suara-suara sumbang yang berhamburan di atas speaker-speaker raksasa ternyata tidak sanggup melahirkan kesadaran pada massa. Mereka dalam bahasa saya tidak nyambung satu sama lainnya. Mereka hanya bisa berkumpul seperti domba. Walaupun berada di lapangan terbuka; tetap saja terjebak dalam satu pintu.

Inikah yang dimaknai oleh mereka sebagai kebebasan yang di ada dalam sistem demokrasi? TIDAK!







Mereka sama sekali tidak mengerti apa itu kebebasan (liberty), karena orang-orang yang paham apa itu kebebasan tahu bagaimana menjadi manusia yang merdeka dari berbagai jebakan politik.

Orang-orang seperti Malcom X, Martin Luther King Jr sadar bahwa apa yang mereka perjuangkan adalah masa depan. Walau ancaman kematian selalu menghantui mereka setiap saat, tapi bukan kematian yang mereka khawatirkan. Justru hilangnya kebebasan itulah yang mereka khawatirkan selalu.

Kita, memaknai kebebasan dengan paradigma yang jumpalitan. Kumpulan pasukan wong gendheng 212 mamahami kebebasan dengan bergaya mayoritas. Seolah-olah dengan kemayoritasan, mereka bisa seenaknya berbuat sesuatu secara publik. Padahal, makna dari kebebasan bukanlah soal mayoritas apalagi minoritas, tapi melainkan, terjaminnya hak-hak manusia secara utuh dan menyeluruh.




Jika anda bebas bersuara dengan menggunakan pengeras suara, maka saya pun punya kebebasan yang sama, jika anda punya hak untuk menyampaikan opini dan pendapat secara terbuka, maka saya juga punya hak yang sama.

Artinya, kebebasan itu dijamin oleh konstitusi; bukan karena anda adalah mayoritas, apalagi yang selalu salah diartikan adalah mayoritas beragama Islam. Ini adalah kesalahan mendasar dan fundamental dalam menterjemahkan kebebasan.

Di Perancis, fondasi utama dari negara mereka adalah Liberte, kemudian Egalite, lalu Fraternite. Jika anda ingin bertemu dengan kesetaraan, maka yang perlu anda lakukan adalah menyediakan arena bebas. Tanpa arena bebas kita tidak akan pernah memahami apa itu setara. Hanya dengan kebebasanlah kita bisa belajar mengenal banyak hal. Tanpa kebebasan omong kosong kita akan bertemu dengan pemahaman yang luas.

Kebebasan melahirkan kesetaraan dan kesetaraan melahirkan persaudaraan sejati. Jika disuruh memilih antara kebebasan dan kebahagiaan, saya akan memilih kebebasan.

#Itusaja!








1 COMMENT

  1. Kalimat terakhir yang luar biasa, jika disuruh memilih antara kebebasan dan kebahagiaan. Maka pilihannya adalah kebebasan. Filosofis sekalI. Salam kebebasan. Tentu saja kebebasan yang dimaksud tetap berdasar dan dipertanggungjawabkan. Vive la liberte!!!

Leave a Reply