Reuni akbar 212 adalah test case untuk mengkalkulasi serta mengukur langkah ke depan sebagai salah satu skenario besar dalam rangka mengehentikan langkah Pak Jokowi.

Acara keagamaan dalam Reuni 212 hanyalah trik agar bisa mengumpulkan massa. Faktanya, siraman rohani sebagaimana biasa jika acara keagamaan agar menyejukkan umat ternyata ‘jauh panggang dari api’. Justru acara agama dalam reuni akbar yang bertepatan dengan Maulud Nabi berisi hujatan, mendiskreditkan pemerintah dan ngrasanin Pak Jokowi.







Kenapa mereka memaklumatkan Habib Risik sebagai Imam Besar Indonesia?

Dalam hal ini, para politisi tentu sudah menghitung betapa urgensi FPI untuk mendukung rencana itu. Organisasi FPI yang sudah tersebar di seluruh Indonesia, yang militan dan gampang dikipas-kipas supaya sedikit lebih ekstrim sebagaimana Pilkada DKI, tentu diharapkan bisa menjadi ujung tombak di masyarakat.

Itu kenapa, meski Habib Risik berada jauh di negeri orang, suara serta sosok Habib Risik dengan jabatan yang waahh sebagai Imam Besar, tentu akan memuluskan skenario besar ‘MenDKIkan Indonesia’.

“Jakarta sudah kita rebut, selanjutnya Indonesia,” ini slogan mereka.

Slogan di atas bukanlah slogan main-main. Slogan yang musti direalisasikan. FPI sudah dalam “genggaman”. jika sewaktu-waktu “dipakai” tentu tinggal ngontak Sang Imam Besar sambil mengirim semua “fasilitas” agar bisa seperti harimau yang dicocok hidungnya. Agar bisa merealisasikan perintah.

Langkah awal sudah selesai, bersamaan dengan itu, operasi senyap yang sudah dilakukan oleh PKS melalui tokoh agama di mimbar tempat ibadah untuk membenci Pak Jokowi semakin masif.

Jika konstelasi tahun politik untuk Pilpres 2019 semakin panas, bila perlu sepanas DKI, jangan terkejut. Banyak cara untuk menakut-nakuti para pemilih yang mendukung Pak Jokowi. Banyak yang bisa dilakukan agar pendukung Pak Jokowi enggan pergi ke TPS.

Jika Grand Desain serta skenario besar mereka bisa mendulang sukses seperti halnya DKI, tentu ini harapan besar mereka.

Dari beberapa informasi, 2019 orientasinya adalah gak penting siapa yang menjadi lawan tanding Pak Jokowi. Bisa Prabowo, bisa Anis, atau siapa saja. Yang penting ASAL BUKAN JOKOWI.

Kenapa? Biar bisa bancakan duit negara. Dan bisa jadi REVOLUSI PUTIH menjadi program Nasional agar rakyat wajib “MIMIK SUSU”

Ini bukan kura-kura.








Leave a Reply