Kolom M.U. Ginting: KENNEDY, SOEKARNO, DAN HARTA KARUN

0
623

Dalam komentarnya saat peluncuran buku Trilogi Soekarno di Museum Nasional [Kamis 30/11], Megawati berkesan ketika dia dan ayahnya (Soekarno) berkunjung ke AS bahwa presiden Kennedy mengerti dan peduli dengan keadaan negeri-negeri berkembang atau yang baru merdeka. Soekarno bertemu Kennedy 1961 di Washington, dan keakraban dua presiden ini sangat lumrah memang, karena JFK termasuk humanis yang bisa mengerti dan memperhatikan keadaan rakyat negeri berkembang termasuk Indonesia pada masa itu.

Sayangnya JFK tidak bisa meneruskan apa yang dia cita-citakan karena bertentangan dengan nafsu imperialistis kaum globalis neolib penyerakahi  duit dunia dengan perang dan politik pecah belahnya.







Kennedy menentang politik neolib soal Cuba dan Vietnam. Kaum neolib terpaksa menyingkirkan Kennedy dan digantikan oleh seorang boneka neolib tulen Lyndon Johnson (Wapres). Johnson langsung memulai perang di mana-mana termasuk perang Vietnam yang terkenal sangat tidak berperikemanusiaan itu, menghasut, pecah-belah, pemmbantaian di Indonesia, dan mengkudeta presiden Soekarno.   

Seorang penulis bernama James DiEugenio menulis dalam bukunya ‘Destiny Betrayed’ soal kudeta itu

“It was a multi-layered, interlocking masterpiece of a clandestine operation. A coup d’etat that was so well disigned, so beautifuly camouflaged, so brilliantly executed”.

Desain yang ‘indah’ ini dimaksudkan oleh DiEugenia ialah adanya 2 tingkat penting dalam kudeta itu.

Tingkat Pertama, kudeta semu oleh Untung 30 September yang memang direncanakan akan gagal dan sudah dipersiapkan sejak setahun sebelumnya. Setelah kudeta Untung yang direncanakan akan gagal itu dipentaskan, esoknya 1 Oktober pelaksanaan kudeta tingkat ke dua, kudeta sungguhan, dimana Untung sendiri dan pasukannya ditumpas habis, disusul dengan pembantaian PKI dan membikin Soekarno sebagai tahanan rumah tanpa kekuasaan. Dia dikelilingi militer tak bisa bergerak, putus hubungan kemana-mana, terisolasi, Soekarno sudah dilumpuhkan total.

Inilah yang memang menjadi tugas utama kudeta semu 30 September dan kudeta sebenarnya 1 Oktober, menyingkirkan penghalang ke SDA dan duit yaitu Soekarno dan kekuatan progresif di Indonesia ketika itu.




Selesai kudeta ‘indah’ ini, bebaslah gerombolan neolib menguasai SDA Indonesia, hutan dan tambang, seperti Freeport Papua dikeruk tanpa suara selama setengah abad. Duit, duit, SDA, SDA . . . adalah tujuan utama Greed and Power neolib internasional seluruh dunia, dengan menciptakan perpecahan, perang, terorisme, dan kudeta. Terakhir atau sekarang ini, usahanya yang paling giat selain perang (terorisme) dan pecah belah ialah PEREDARAN NARKOBA.

Soekarno dan pembantaian PKI hanyalah sebagai pengalihan isu menuju duit, duit, duit. Karena duit adalah segala-galanya bagi gerombolan penyerakah duit ini. Money controls and rules human lives. Duit bisa bikin segala-galanya. Pemilik dan penguasa duit serta aliran duit adalah penguasa segala-galanya.

Bayangkan segelintir manusia bikin segala-galanya di dunia sejak permulaan abad 20. Untungnya dizaman keterbukaan ini sudah banyak manusia yang memahami soal ini dan semakin sulit bagi neolib internasional deep state untuk bikin seenaknya seperti pada abad lalu dimana publik tidak mengerti banyak atau tidak mengerti sama sekali hakekat persoalannya (duit).

Megawati menyebut ayahnya sangat sedih ketika Kennedy dibunuh. Padahal Bung Karno optimis Kennedy bisa datang ke Indonesia, bisa melihat sendiri dan lebih memahami kondisi negeri berkembang sehabis penjajahan seperti Indonesia saat itu.

Disebarkan akhir-akhir ini (sejak 2008) bahwa ada persetujuan antara Soekarno dan JFK tahun 1963 di Geneva, seminggu sebelum kematian JFK. Green Hilton Memorial Agreement namanya kesepakatan ini. Persetujuan ini katanya yang memancing pembunuhan atas Kennedy, untuk menutupi emas Soekarno seberat 57.000 ton yang diambil AS. Lihat di SINI.








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.