EMMY F. PURBA. JUHAR. Siapa yang tidak mengenal Jeruk Pernantin yang kesohor pada masanya sekitar tahun 1970an. Buah dengan ukuran besar dan rasa daging buah yang manis membuat jeruk ini diminati banyak orang, tidak hanya di daerah asalnya Sumatera Utara tapi sampai ke Pulau Jawa.

Pada saat itu, penduduk Desa Pernantin sekitarya berlomba-lomba menanam jeruk ini karena nilai hasil penjualannga yang besar dan Jeruknya laris di pasaran. Namun, tidak demikian halnya pada zaman sekarang. Pada saat ini, ada hama yang menghambat dan mengurangi hasil panen petani jeruk di Desa Pernantin (Kecamatan Juhar, Kabupaten Karo).







Hama ini bernama citcit atau lalat buah yang mengakibatkan jeruk cepat busuk. Warga Desa Pernantin mengeluh akan hasil panen yang mereka dapatkan. Dinas Pertanian Kabupaten Karo sudah pernah mengadakan penyuluhan tentang cara mengatasi hama ini, yaitu dengan menggunakan sistem perangkap di samping obat pompa yang sudah lebih dulu dilakukan. Namun, hasilnya belum maksimal karena warga desa belum seluruhnya kompak melaksanakan solusi ini.

Di samping hama, musim hujan juga mengurangi hasil panen jeruk Desa Pernantin karena hujan yang terus menerus mengakibatkan buah jeruk cepat busuk.

Renson Kaban yang biasa ikut menyusun jeruk menjelaskan kepada Sora Sirulo, harga jual jeruk di Pernantin saat ini sekitar Rp 6.000/ kg.








Leave a Reply