Pertanyaan besar publik saat ini adalah, seberapa besar kekuatan gerakan 212 dalam menumbangkan Jokowi? Apa saja skenario mereka? Mungkinkah gerakan 212 berbau politis ini bisa menumbangkan Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang?

Adalah terlalu naïf jika ada pihak yang meremehkan, mengabaikan atau tak memperhitungkan kekuatan gerakan 212 dalam peta politik di Indonesia saat ini. Gerakan 212 jelas punya kekuatan mumpuni untuk menjungkalkan Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang. Jika gerakan ini dicap sebagai gerakan politik, maka hal itu sah-sah saja di alam demokrasi.







Pasca ‘kemenangan’ gerakan 212 di Pilkada DKI Jakarta, gerakan ini semakin intens dalam mengkonsolidasi kekuatannya ke depan. Dengan klaim bahwa berkat aksi 212 Ahok dapat ditumbangkan dan bahkan memasukkannya ke dalam penjara, gerakan 212 akan dijadikan motivasi besar untuk menumbangkan Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang.

Lalu bagaimana kekuatan gerakan 212 itu?

Kekuatan gerakan 212 bisa dilihat dari 3 partai yang ada di belakangnya selama ini. Ada PKS, Gerinda dan PAN yang melebur dengan cerdik dalam gerakan ini. Ketiga partai ini ‘ketiban rejeki nomplok’ dengan menunggangi gerakan 212 termasuk Amin Rais untuk mencapai kepentingan politiknya. Ormas-ormas radikal semacam FPI dan HTI (telah mencari nama lain setelah dibubarkan) adalah juga kekuatan inti dari gerakan ini. Ditambah sejumlah tokoh antithesis seperti Amin Rais, Fadli Zon, Fahri Hamzah dan pendatang politikus baru semacam Ahmad Dhani, AA Gym, Ustad Kiwil dan seterusnya, maka kekuatan gerakan ini cukup mendapat banyak dukungan.

Dengan 3 partai yang berkolaborasi dengan sejumlah ormas radikal, maka bisa diperkirakan bahwa kekuatan gerakan 212 sudah melebihi 58% di DKI. Di Jawa Barat dan Banten kekuatannya gerakan 212 bisa mencapai 50%. Kalkulasi ini berdasarkan presentase kemenangan Anies vs Ahok di DKI Jakarta. Sementara di Jawa Barat yang dikuasai oleh PKS selama 10 tahun, kekuatan ini diperkirakan juga mencapai 50%.

Di level nasional dengan menggabungkan kekuatan tiga partai Gerinda, PKS dan PAN, maka secara real kekuatan gerakan 212 itu sudah mencapai 25% sesuai dengan hasil pemilu 2014 yang lalu. Ditambah dengan Ormas dan simpatisannya, maka secara kasar kekuatan gerakan 212 sudah mencapai 30%. Belum lagi simpatisan dari partai lain, maka hitungan kasar kekuatan gerakan 212 tidak bisa dipandang remeh. Jika kekuatan kasarnya sudah mencapai 30%, maka tinggal mencari 20% plus satu untuk menumbangkan Jokowi.

Lalu, dari mana diperoleh kekuatan 20% plus satu agar bisa menjungkalkan Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang?

Ada 4 skenario untuk memperbesar kekuatan gerakan 212 itu agar raihan 58% seperti yang terjadi di DKI dapat terulang di pentas nasional.

Pertama, lewat serangan langsung kepada Jokowi. Isu yang pasti digoreng lagi adalah isu komunis (walapun sudah mulai digebuk Jokowi), utang dan penjualan BUMN (diiklankan kepada rakyat yang kurang paham bisnis, dan isu otoriter Jokowi (UU Ormas). Isu-isu ini bisa dipastikan akan menjadi menu utama yang dibahas di tempat-tempat ibadat di seluruh Indonesia dengan strategi ala Eep Syaifullah. Lewat serangan ini saja partai Gerinda sudah mulai memanen hasilnya. Menurut hasil salah satu Survei, elektabilitas Gerinda kini sudah menyalib PDIP. Jika isu-isu ini tak bisa diredam oleh para pendukung Jokowi, maka lewat isu ini saja Jokowi akan bisa ditumbangkan oleh lawannya.




Ke dua, lewat pintu Anies di Jakarta. Motto Anies: “bahagiakan warganya” akan terus dimainkan oleh Anies-Sandiaga lewat APBD, Pergub dan kebijakan lainnya. Dana hibah Rp. 1,7 Triliun yang dikucurkan kepada Ormas, lembaga dan seterusnya adalah bertujuan untuk membahagiakan warga Jakarta. Anggaran untuk DPRD yang membengkak juga bertujuan untuk membahagiakan anggota DPRD. Begitu juga pembiaran preman dan PKL di Tanah Abang dan di tempat-tempat lain bertujuan untuk membahagiakan warga.

Untuk membahagiakan para Ketua RT dan RW, Anies berencana menaikkan biaya operasional RT dan RW tanpa perlu melaporkannya. Pemakaian Monas, pemberian izin motor melewati jalan protokol aneka pencabutan Pergub masa Ahok adalah cara Anies mengambil hati warga Jakarta. Nantinya strategi Anies yang sukses membahagiakan warga Jakarta, akan dijadikan iklan oleh Anies dalam bursa Capres 2019. Ingin bahagia seperti warga Jakarta? Pilihlah Anies menjadi presiden. Jokowi yang bermotto: kerja, kerja, kerja bisa tidak menarik lagi bagi pemilih.

Ke tiga, membangun opini bahwa Jokowi adalah musuh Islam, musuh ulama, antek asing dan aseng. Jelas kampanye ini amat laku di kalangan rakyat yang tidak kritis. Bisa dipastikan bahwa serangan terhadap Jokowi yang akan dicap sebagai musuh Islam dengan iklan mengkriminalisasi ulama, akan semakin gencar dilakukan. Asalkan iklannya pas, maka Jokowi sebagai musuh Islam, musuh ulama, bisa mempengaruhi pemilih pada Pilpres 2019 mendatang. Jika hal ini terjadi, maka Jokowi bisa ditumbangkan dengan mudah.

Ke empat, menunggu terpelesetnya Jokowi. Gerakan 212 ibarat macan, harimau atau singa di padang rumput, buaya di sungai dan elang di udara yang sedang mengintai mangsanya. Para lawan-lawan Jokowi kini terus menunggu dan bahkan aktif memancing dan menjebak Jokowi agar terpeleset. Mereka mengharapkan Jokowi melakukan blunder kata-kata seperti Ahok. Jika ada sedikit saja kesalahan verbal, Jokowi maka kesalahan itu akan mereka gelembungkan berkali-kali lipat lewat demo. Jika hal ini terjadi maka apa yang dialami Ahok, bisa juga terjadi pada Jokowi.

Reuni ala 212 yang baru saja dilakukan, hanyalah konsolidasi kekuatan menjelang Pilpres 2019. Dengan dana tak terbatas dari para pewaris Orba, maka gerakan 212 dalam sekejap dapat berubah menjadi demo besar dengan tujuan untuk melahap Jokowi. Ketika Jokowi melakukan blunder, para alumni 212 siap bereaksi sekali seminggu, sekali dua minggu atau sekali sebulan dengan tanggal cantik.




Nah, pada saat demo-demo itulah nantinya Riziq yang saat ini masih kabur ke Arab Saudi, akan kembali memanfaatkan situasi. Ia mungkin disambut bak pahlawan dan sebagai figur pujaan penentang Jokowi. Jika Rizieq ditangkap oleh aparat, maka gerakan 212 akan bereaksi membelanya. Jika aparat melakukan kekerasan, maka demo-demo dilakukan lebih gegap untuk menekan Jokowi. Pada saat itulah pesona Riziq dan Amin Rais kembali berkibar. Demo pun akan semakin ditingkatkan untuk menarik simpati lebih banyak pihak untuk menentang Jokowi.

Jadi, kesimpulannya, gerakan 212 saat ini cukup kuat dan sangat berpotensi menumbangkan Jokowi. Jika salah satu dari 4 skenario di atas berhasil, maka kekuatan gerakan 212 dengan 3 partai di belakangnya beserta sejumlah Ormas radikal, tinggal memilih pasangan Capres dan Cawapresnya. Apakah pasangan Prabowo-Anies atau Anies-Rizieq, Ahmad Dhani atau AA Gym yang dipilih, tinggal dikocok-kocok sesuai dengan selera.

Lalu, bagaimana strategi Jokowi dalam menghadapi gerakan 212 tersebut? Apakah Jokowi bisa disamakan dengan Ahok yang sukses ditumbangkan oleh gerakan ini? Simak tulisan kami selanjutnya. Salam Towi-towi.










Leave a Reply