B. KURNIA P.P. KABANJAHE. Peneliti  utama di BPTP Sumut (Sortha Simatupang) mengatakan, produksi rata-rata cabai merah di tingkat petani di Sumatera Utara maupun nasional adalah 5 – 9 ton/ ha.

Dengan penerapan teknologi Produksi Lipat Ganda (Proliga) cabai merah bisa mencapai 20 ton/ha. Demikain dikatakan oleh Sortha pada pertemuan Kerjasama Penelitian Pengkajian dan Pengembangan Pertanian Strategis (KP4S) Smard 2017 dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Utara.







“Temu Lapang” kajian percepatan penerapan teknologi Proliga cabai merah di tingkat petani mendukung capaian 20 ton/ ha di Sumatera Utara, khususnya di Desa Bukit (Kecamatan Dolat Rayat, Kabupaten Karo) [Rabu 7/12].

Menurut Sortha, Proliga cabai merah dapat dilakukan dengan menggunakan varites unggul, persemaian sehat dengan populasi yang optimal (pas).  Selain itu, dilakukan dengan pengelolaan hara (makanan tanaman) yang sesuai dengan penerapan pengendalian hama terpadu.

Adapun varietas unggul adalah; a.l. varietas Kencana, varietas Lingga dan varietas Temper (lokal Karo). Persemain sehat untuk bibit tanaman dilakukan di tempat yang tertutup seperti kelambu untuk tanaman. Hal tersebut diperlukan untuk mencegah kutu Kebul yang menularkan penyakit keriting sejak tanaman masih muda. Karena penyakit keriting merupakan penyakit utama dari cabe merah. Sedangkan untuk pengolahan lahan kata peneliti utama di BPTP Sumut ini, dilakukan dengan cara mencangkul sampai kedalaman 30 -40 cm.

Lahan dibiarkan terkenan sinar matahari selama 2 minggu, dengan jarak tanam 60 x 50 cm baris ganda zig-zag. Pada tiap bedengan terdapat 2 baris tanaman. Adapun jumlah tanaman sebanyak 12.500 batang/ ha. Di dataran rendah 20.000 – 23.000 batang/ ha dengan umur lebih pendek.

Pemberian kapur pertanian diperlukan saat pH tanah kurang 6,2. Pemberiannya dilakukan saat pengolahan tanah agar merata. Kebutuhan kapur tergantung PH tanah serta mempertimbangkan pupuk kandang ayam  yang ada kalanya sudah mengandung kapur. Pupuk organik yang diberikan bisa dari berbagai sumber seperti kandang ayam, kandang sapi, kandang kambing, sampah organik yang sudah diolah.

Untuk pupuk kandang sapi diberikan sebanyak 30 ton/ ha. Pupuk organik, kata Sortha, sebaiknya sudah diberi mikro organism Trichoderma. Pupuk diberikan sesuai dengan kandungan bahan makanan yang tersedia di tanah. Untuk pengecoran, diberikan pupuk dengan selang waktu 2 miinggu yaitu, NPK 2 g/liter, sebanyak 200 ml per tanaman.




Boleh juga ditambahkan pupuk kandang sebanyak 50 kg per hektar yang dikocorkan juga.Selain itu kata Sortha Simatupang, perlu ditanaman tanaman pelindung di sekeliling lahan yaitu jagung. Karena kutu Kebul  yang merupakan musuh utama tanaman cabe merah adalah serangga kecil yang menularkan penyakit virus kuning yang menyebabkan tanaman menjadi keriting.  Untuk menghadangnya, jagung ditanam sebelum menanam cabe di sekeliling lahan tanaman cabe.

Pertemun ini diadakan seusai “Temu Lapang”  di lahan cabai merah milik kelompok wanita tani, Latersia, Bunga Mawar, Beru Silima. Selain itu diadakan “Temu Lapang” di lahan kelompok tani Taruna Bina Tani (TBT).  Temu Lapang tersebut dilaksanakan  koordinasi dengan PPL Desa Bukit (Hanna Linda S Tarigan SP) dan penyuluh  swadaya (Yunus Sembiring).Hadir dalam acara tersebut Kepala BPTP Sumut yang diwakili Nazaruddin Hutapea SP, Camat Dolat Rayat diwakili oleh Kasi Trantip (Junaidi Bangun SSi) didampingi Kasubbag Umum Basita Bukit SH serta para ketua dan anggota kelompok tani di Desa Bukit berjumlah 50 orang.








Leave a Reply