KAFIR disingkat menjadi “Kami Anti Faham Intoleran & Radikalisme”, tapi yang melahirkan istilah ini datangnya dari mereka yang mencap dirinya ISLAM. Apa yang mereka protest atau lawan adalah mereka yang juga sedang memperjuangkan ISLAM dalam kaca mata KUDA yang tentu saja berbeda.

Mereka tidak pernah sadar bahwa Islam adalah alat politik yang paling empuk bagi para pemburu rente kekuasaan. Bagi mereka, semua cara harus digunakan untuk sampai pada cita-cita “mulianya” berkuasa.

Di sinilah titik awal bagi kaum nasionalis sekuler, kaum rasional, kaum humanist, kaum Freethinkers, kaum Tradisionalis, dan semua kaum Waras untuk melakukan perlawanan secara konstitusional, karena hanya lewat jalur konstitusional agenda-agenda busuk mereka bisa dibongkar.







Kita singkirkan dulu perbedaan KEYAKINAN AGAMA yang selama ini menjebak GERAKAN perlawanan yang dilakukan secara sporadis dan personal. Kita perlu memikirkan bersama bagaimana bersatu dalam rumah besar Indonesia. Jika terus-terusan ribut soal menjelaskan ISLAM ORI dan ISLAM KW maka pada waktunya tidak ada ada lagi yang namanya “kebebasan beragama dan berkeyakinan” di republik ini karena, ketika para pemburu rente kekuasaan berkuasa dan berhasil mempecundangi Islam, maka semua akan rusak. Bukan hanya Islam, tapi semua yang ada dan pernah diperjuangkan di republik ini akan rusak total.

Dan mimpi mereka untuk menawarkan negara KHILAF akan menjadi kenyataan serius. AHOK sudah mengingatkan kita semua, bahwa mereka cuman mau berkuasa. Bukan mau melakukan perbaikan-perbaikan dalam wilayah kekuasaannya. Bahkan presiden Jokowi sekalipun tidak akan punya KUASA untuk membendung semangat mereka yang sedang “menyala” serius.

Kita harus bangkit melawan, atau akan menjadi korban penindasan yang sudah terjadi hingga saat ini. Jangan lupa bahwa kawan kita AHOK, OTTO, DONALD, AKING dan mereka yang menjadi korban PERSEKUSI di luar sana banyak. Mereka ditindas dan dihakimi secara langsung-karena memang harga NYAWA manusia di Republic ini bisa saya katakan MINUS alias tidak ada nilai tawarnya.

Jadi, terlibat dalam gerakan-gerakan politik bukan lagi sebuah lelucon tapi ini adalah sebuah keniscayaan. Kalau boleh jujur, mereka selangkah lebih jauh soal gerakan politik. Lihat saja idola kaum “EVORIUM” saat tampil di ILC. Mereka seperti orang tolol yang dihajar bolak balik akibat tidak terbiasa bersentuhan dengan perbedaan. Debat-debat keras dalam forum-forum telah menjadi makanan anak-anak HTI sejak mereka masih orok.

Denny Siregar dan Ustad Abu Janda bukanlah apa-apa dibandingkan dengan mereka. Jika sinyal ini masih belum bisa dibaca oleh mereka yang mencap diri nasionalis, maka saya mempertanyakan kenasionalisan mereka.

Sudah saatnya KAFIR terjun bebas ke dalam POLITIK. Menelan stigma bahwa politik itu KOTOR dan BUSUK hanya akan membuat kenyataan perpolitikan di negeri ini semakin BURUK dan KOTOR. Saya ingat suatu waktu Ahok pernah berteriak dalam LIRIH, bahwa orang-orang baik harus segera bermain dalam politik. Jika tidak, maka yang akan berkuasa adalah orang bodoh dan anda harus siap diatur-atur oleh orang bodoh.




Apa yang terjadi, ke khawatiran Ahok menjadi kenyataan. Kita hanya bisa menulis puisi indah atas realitas yang busuk di republik ini. Kita masih tetap berharap bahwa PAKDE bisa melakukan sesuatu dan saya tidak bisa percaya sepenuhnya dengan harapan KOSONG itu. Kita harus menggantungkan harapan pada gerakan-gerakan yang kita bangun secara Independent dan massive. Jika hanya menulis PUISI di FACEBOOK sambil bersembunyi di GOA kenyamanan, maka jangan protest lagi, jangan menghibur diri lagi dengan menyatakan bahwa itu semua hanyalah OKNUM, bukan ISLAMNYA yang salah tapi OKNUMNYA.

Argument pembusukan ini yang selalu menjadi bumbu penyedap rasa di tengah kenyataan yang memang busuk.

#Itusaja!








1 COMMENT

Leave a Reply