Ini hari Minggu. Bukan saatnya menulis yang susah-susah. Hidup sudah ribet, kata Bambang Kusnadi, kenapa tulisan juga dibuat ribet. Maka, menuliskan tentang sesuatu yang menyenangkan. Misalnya mengenai teman-temanmu.

Baiklah, kataku. Maka hari ini saya akan menulis soal teman-teman saya.

 

Ada sebuah sore yang tidak terlupakan di pojok jalan dekat komplek perumahanku. Aku ingat, jalan itu cukup ramai. Ada gubuk kecil yang sudah lama tidak dipakai. Dulu di sana seingat saya digunakan orang untuk berjualan gado-gado. Tapi kini ditinggal begitu saja, setelah penjualnya dapat durian runtuh, memenangkan undian Toto (togel dari Singapura).

Sore itu, saya lihat seorang lelaki, usia masih 28-an sedang beres-beres di lokasi tersebut. Dia sendirian. Rambutnya ikal dengan wajah yang selalu tersenyum. Sambil beres-beres sepanjang waktu mulutnya gak berhenti bernyanyi. Aku ingat lagunya : Cucokrowo Didi Kempot.







Esoknya di lokasi itu ada spanduk: Warung Bubur Bambang Kusnadi, SMA. Aku penasaran kenapa dia memakai SMA di belakang namanya? Apakah itu singkatan dari namanya? Atau gelar sarjana?

“Maksudnya ya Sekolah Menengah Atas, mas. Aku memang lulus SMA,” ujar Bambang Kusnadi.

Lalu dia melanjutkan. “Sejak dulu sebetulnya aku bercita-cita jadi Polwan. Makanya aku ngotot sekolah sampai SMA, walaupun gak punya biaya. Tapi, apa daya, mas. Saya cuma lelaki.”

Nah, sejak itulah hampir setiap ada waktu luang, saya mampir ke warung buburnya. Saya suka rasa tusukannya. Sate usus dan ampela. Buburnya juga enak. Bambang memilih dari sore sampai malam. “Bubur ayam dijual pagi terlalu mainstream mas. Kecuali hari Minggu..”

Di warung itu saya juga sering bertemu Abu Kumkum. Ini jenis pengusaha sejati. Dia mendagangkan apa saja: batu cincin, obat kuat, gelang bahar, penumbuh bulu, dan berbagai jenis minyak-minyakan. Bisnis utamanya adalah berjualan minyak telon oplosan dan jamu tolak angin. Itu yang didefinisikan sebagai bisnis Migas. Dia juga suka dipanggil orang untuk memijat.

Abu Kumkum ke mana-mana mengenakan rompi cokelat. Celananya kadang cingkrang, kadang jeans, kadang bergamis. Kadang memakai kupluk putih, kadang topi biasa, kadang rambutnya dibiarkan saja terbuka. Biasanya jika dia habis menyemir rambutnya. Bersepatu sandal, dengan tas kecil berisi barang dagangannya dan perangkat pengobatan.

Di bagian belakang rompinya terdapat tulisan bordir : Abu Kumkum, Pijat Stamina. Lalu tertera dua buah nomor handphonenya.

Teman saya yang lain adalah Denny Siregar. Saya pertama kali jumpa dengannya di Mal Kasablanka. Sebelum bertemu saya sering membaca tulisan-tulisannya. Caranya menulis bagi saya asyik: ringan, jenaka dan menohok.

Terus terang Denny yang menyemangati saya untuk terus menulis.

“Nulis terus, bro. Itu yang saat ini bisa kita sumbangkan buat bangsa,” katanya suatu ketika.

Selama ini saya memang menulis kadang-kadang. Tapi, menulis untuk bangsa, baru terfikir saat DS membicarakan itu.

Lalu dia bercerita soal gawatnya bangsa ini jika kaum intoleran dibiarkan merajalela.

“Tugas kita adalah menghambat mereka merajalela. Kita harus bikin mereka meraja lele aja,” katanya, meskipun seingat saya, DS juga tidak suka makan pecel lele.




Pertemuan saya waktu itu bukan berdua saja dengan DS. Ada Birgalso Sinaga juga di sana. Ketika saya bertemu dia langsung menyambutnya dengan salam yang hangat dan pelukan. Wuih, dipeluk Batak berbadan besar begitu serasa naik motor matik dipepet Metromini.

Birgaldo ini juga tulisannya sudah tersebar di toko-toko obat terkemuka. Ciri tulisannya selalu membakar semangat. Maklum, dia adalah panglima laskar horehore. Dia adalah pejuang yang membela Ahok secara militan. Di mana ada demo membela Ahok, di situ ada Birgaldo.

Lihat saja tatto sementara di pangkal lengannya bertuliskan: Ahok Forever. Tato itu dua hari sekali ditebakan lagi dengan pulpen. Ketika aku tanya kenapa gak dibuat tatto permanen aja. Birgaldo menjawab dengan suara lantang, “Gue takut jarum bro…”

Lain dengan Abu Janda. Saya berjumpa dengannya di sebuah rumah makan dekat Hotel Bidakara. Waktu itu ada meeting sebuah acara. Saya duduk di sebelahnya hanya gak sempat berkenalan.

Ketika pembicaraan teman-teman menyangkut seksi yang aku koordinasikan , Abu Janda nyeletuk, “Kalau gitu kita harus nunggu Mas Eko Kuntadhi dulu. Biar informasinya valid. Dia mau datang, kan?”

Seorang teman nyeletuk, “Lha itu di sebelahnya.”

Lalu dia terbelalak. Membuka tangannya lebar-lebar dan memeluk saya. Pelukannya hangat, sehangat namanya : Abu Janda.

Keceriaan tidak pernah lekang dari wajahnya. Sifatnya ekspresif dan tulus. Setahu saya penguasaan bahasa Inggris dan Mandarinnya bagus. Permadi, nama aslinya, tadinya adalah profesional di dunia investasi. Tapi panggilan dan kecintaanya pada NKRI membuat dia lebih aktif di dunia yang kita kenal sekarang.

Ada seorang lain yang juga saya kenal berkat media sosial. Malam itu saya diundang Kopdar sebuah group WA keagamaan. Lokasinya di sebuah pesantren di Bekasi. Di sanalah saya pertama kali bertemu Kyai Enha, pengelola pesantren tersebut.




Orangnya ramah, asyik, dan meski sering bicara penuh hikmah kita tidak akan merasa sedang dinasehati. Seperti ngobrol sama teman. Kyai Enha ini piawai dalam menulis. Tapi dia kadang iri sama saya.

“Ente enak bisa nulis apa aja. Bebas. Lha, ane. Kan harus mikirin status ustad dan pengelola pesantren. Jadi ana nulisnya di koridor pengetahuan agama aja.”

“Ya, bagi-bagi peran, Kyai. Saya bagian ngaconya. Kyai bagian nasehati orang,” jawab saya.

Dunia memang luar biasa. Saya kini dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa. Mereka adalah guru-guru saya sekaligus teman yang menyenangkan.

Hari Minggu ini, bubur di warung Bambang Kusnadi terasa lebih nikmat.














Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.