Kolom Eko Kuntadhi: WABAH VIRUS KARENA KEBODOHAN

1
507

Kebodohan memang menyebalkan. Juga merepotkan.

Ada sekelompok orang bodoh yang lagaknya sok bawa-bawa agama. Dia menolak vaksinasi, karena katanya, vaksin bukan barang yang terjamin kehalalannya. Makanya anak-anak mereka menolak divaksin. Biar jadi anak halal.

Bukan kelas anak biasa. Bahkan, sekelas artis, yang menjadi pembicara keagamaan juga ikut menyebarkan semangat anti vaksin ini. Sialnya, banyak orangtua bloon yang mengikuti langkah tersebut. Demi alasan keagamaan yang tidak jelas, mereka menelantarkan anaknya sendiri.







Akibatnya, kini dirasakan di Indonesia. Wabah Difteri kembali mengganas. Kementerian Kesehatan sudah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) karena penyakit mematikan yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae ini telah memakan puluhan korban jiwa setidaknya di 20 provinsi.

Data Kementerian Kesehatan menujukkan sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia.

Sementara pada kurun waktu Oktober hingga November 2017, ada 11 provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri, antara lain di Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur.

Padahal, Indonesia sebelumnya sudah bisa dikatakan bebas Difeteri. Kenapa muncul lagi? Karena di sebuah masyarakat adanya imunity gap, atau kekosongan kekebalan. Ini karena ada sebagian warga yang menolak divaksin. Di tubuh merekalah bakteri mematikan itu berkembangbiak. Bahkan akan merembet ke orang lain lagi.

Biasanya penyakit ini menimpa anak-anak. Tapi, sekarang ditemukan kasus pada orang tua yang memang saat mereka kecil dulu belum ada program vaksin.

Idealnya diseminasi vaksin harus mencapai 80% dari total penduduk untuk mengurangi bakteri berkembang biak. Jika hanya mencapai 60% saja, ini akan sangat berbahaya bagi kehidupan masyarakat. Sebarannya akan mengancam kesehatan banyak orang.




Mereka yang anti vaksin, meski katanya untuk dirinya dan keluarganya sendiri, pada akhirnya juga ikut mengembangbiakkan bakteri berbahaya dalam masyarakat. Itulah sialnya kebodohan, bukan hanya berbahaya bagi dirinya, juga menyebabkan orang lain celaka.

Di dunia kesehatan kita saksikan orang bodoh sok berdalil agama pada akhirnya menyebabkan kerugian orang lain. Ada lagi virus atas nama agama lain yang disebarkan untuk orang-orang yang malas berfikir: khilafah!

Mereka bilang, khilafah adalah jawaban dari segala persoalan. Padahal mereka gak tahu, adakah negara yang sudah menggunakan sistem ini, dan terbukti sukses? Yang ada malah kacau negaranya. Sampai sekarang tidak ada contoh keberhasilan sebuah negara modern yang mengusung sistem khilafah.

Terus, kini disorong-dorong untuk menegakkan sistem yang gak ada contohnya. Emang Indonesia ini punya nenek lu?!

Mimpi mereka soal khilafah, sama seperti keinginan melihat suster ngesot lomba balap karung. Wong, jalan aja susah!

Yang merepotkan sekarang banyak PNS yang digaj dari duit rakyat, malah merasukan virus khilafah. Mereka mendukung sistem yang bertujuan menghancurkan negaranya. Ini benar-benar PNS kampret! Kalau mereka mau main khilafah-khilafan, lalu keluar dari Indonesia sih, sebodo teuing. Bukan urusan kita. Pergi saja dari Indonesia, cari negara yang cocok. Tapi, sialnya, ada orang yang jihad ke Suriah karena mau hidup dalam negeri khilafah, kini malah balik lagi ke Indonesia.

Selain itu banyak pencaramah agama juga terus mengasong virus khilafah ke mana-mana. Mereka menyebarkan bakteri berbahaya bagi kehidupan umat dan bangsa.

Kini MK sudah menolak gugatan mereka. UU Ormas telah disyahkan. Ini adalah satu langkah untuk mencegah virus khilafah terus berkembang biak.

Langkah lainnya adalah imunasasi: Beragamalah dengan akal! Sebab, Tuhan menurunkan agama hanya untuk orang-orang yang berakal. Hanya untuk orang-orang yang mau mengambil pelajaran.

“Aku dulu waktu kecil diimunisasi pesek, mas. Makanya sekarang agak mancungan,” celetuk Bambang Kusnadi.








1 COMMENT

  1. “Kebodohan memang menyebalkan. Juga merepotkan.” kata EK
    Betul sekali pernyataan ini. Yang menyebalkan juga ialah politik pembodohan, dimana orang-orang dibodohi supaya gampang dikendalikan, atau gampang dipecah belah.

    Serunya juga ialah kalau orang yang tidak bodohpun juga dibodohi he he . . . seperti presiden Hollande yang dibodohi atau ditakut-takuti dengan terorisme sehingga dia bikin keadaan darurat seluruh Perancis. Macron belum mau dibodohi sejauh itu, atau masih nunggu bentar lagi he he . Tetapi kalau dia bikin keadaan darurat juga diseluruh Perancis karena terorisme bearti sama ‘pintar’nya dengan Hollande, artinya bisa dibodohi.

    Yang pintar ialah seperti dikatakan Jokowi, bahwa terorisme tidak perlu ditakuti. Atau seperti JK bilang terorisme tidak ada kaitannya dengan agama islam, berkebalikan dengan Hollande yang bilang bahwa teror Nice tempo hari itu adalah teror islam. Pernyataan dua orang inilah (Jokowi dan JK) yang betul dan pintar.

    Dan memang terlihat keadaan dunia akhir-akhir ini, terorisme semakin meredup, tetapi politik adu domba dengan cara lain (selain terorisme) sedang digiatkan, walaupun juga semakin tertelanjangi pula seperti gerakan adu domba di Charlottesville Virginia. Disini dibentuk dua grup yang bertentangan dan diadu dijalan. Grup pertama namanya ‘antifa’ (antifasis) dari kumpulan orang-orang multikulti, dan grup kedua namanya ‘the white supremacist’, dikumpulkan orang-orang putih AS. Dikabarkan juga bahwa inti utama kedua grup inti datang di Charlottesville dengan menumpang truk yang sama.

    Walikota Charlottesville menyuruh polisi yang bertugas ‘stand down’, tidak boleh mencampuri perkelahian kedua grup, sehingga polisi jengkel.

    Seorang polisi bilang:

    “We [Charlotesville police] were ordered to bring the rival groups together. As soon as they were in contact with each other, we were told to stand down. It was outrageous. We weren’t allowed to arrest anyone without asking the mayor first. We weren’t even allowed to stop the driver as he sped away.”
    “The event was being set up as far back as at least May and it went like clockwork.” Bisa dilihat disini:

    POLICE: CHARLOTTESVILLE WAS ‘INSIDE JOB’ TO IGNITE RACE WAR – EVIDENCE OF A STAGED EVENT

    Pemrakarsa Politik pembodohan ini jelas harus punya pengetahuan psikologi tentang KONTRADIKSI, yang memang sangat dikuasai oleh pemain divide and conquer internasional ini. Mereka ini mengerti ‘the mental processes and the social pattern of the masses’. Disittulah kuncinya.
    Dan disitu juga kuncinya untuk menangkis serangan divide and conquer internasional ini. Dengan menyebarnya dan meningkatnya pengetahuan psikologi kontradiksi ini ke publik yang luas . . . politik pembodohan dan politik divide and conquer semakin meredup, dunia semakin aman.

    MUG

Leave a Reply