Kolom Ganggas Yusmoro: DESEMBER, KAPAN TIDAK KELABU LAGI?

0
327

Selalu dan selalu. Setiap bulan Desember, ada hal yang membuat bulan ini terasa berbeda. Terasa selalu ada kejutan-kejutan yang membuat banyak orang mengernyitkan dahi. Satu per satu akan selalu muncul spanduk kontroversial soal atribut Natal hingga pelarangan mengucapkan hari kebesaran umat Nasrani.

Lalu, terjadilah polemik. Terjadi “perang” argumentasi. Terjadi “adu otot” yang, jika diamati, menjadi bibit-bibit percikan disharmonisasi dalam berbangsa dan bernegara. Bahkan yang lebih membuat sangat memprihatinkan, polemik ini telah masuk di komunitas keluarga, komunitas yang seharusnya mengedepankan silaturrahmi.







Siapa yang benar, siapa yang salah, bagaikan melihat angka 6 dari sudut yang berbeda. Saling ngotot yang tidak berkesudahan.

Ketika di sebagian negeri ini “eyel-eyelan” hanya soal mengucapkan Natal dan Tahun Baru, di belahan bumi yang berbeda, di tanah yang konon sebagai sumber berita dalam bingkai agama, nyatanya negara tersebut dilanda perang. Bom dan desingan peluru menjadi ancaman. Nyawa, darah dan air mata seperti tidak berharga. Tangisan pilu kehilangan sanak keluarga yang diakibatkan oleh perang selalu terjadi.

Ketika negeri mereka tidak lagi menjanjikan kedamaian dan masa depan, yang terjadi adalah, mereka terpaksa meninggalkan tanah kelahiran. Meninggalkan dengan penuh kesedihan negeri tercinta yang, meski satu agama, namun telah tercabik dan terkoyak oleh aroma darah dan mesiu.

Para pengungsi Suriah tiba di Belanda.

Ke mana mengungsi? Ke mana mencari harapan itu? Ke mana mencari kedamaian dan perlindungan? Mereka pergi ke negri yang faktanya memberi rasa aman. Ke EROPA..!! Negeri yang oleh sebagian golongan dianggap kafir!

Jadi, Orientasi kehidupan setiap umat manusia adalah mencari kedamaian. Mencari kehidupan yang lebih baik. Bersaudara dalam suasana yang harmonis. Bersaudara dan bersahabat dengan siapa saja.

Jika sahabat dan saudara kita yang Nasrani mengucapkan “Minal Aizin wal Faizin” mohon maaf lahir batin sambil menikmati KETUPAT dan opor ayam, apa yang dipersoalkan ketika kita mengucapkan “Selamat Hari Natal dan Tahun Baru”? Apa lalu merusak Akidah? Apa lalu berdosa? Apakah juga saudara-saudara kita yang makan ketupat lalu Akidahnya juga rusak?

Damai itu Indah, kawan. Kenapa Desember musti dibuat kelabu? Jangan mikir yang neko-neko. Tuhan juga ikut senang jika manusia ini rukun.

Entah kalau Tuhan mereka …








Leave a Reply