“Kebodohan memang menyebalkan. Juga merepotkan,” kata Eko Kuntadhi (Lihat di SINI)

Betul sekali pernyataan ini. Yang menyebalkan juga ialah politik pembodohan, dimana orang-orang dibodohi supaya gampang dikendalikan, atau gampang dipecahbelah.

Serunya juga ialah kalau orang yang tidak bodohpun juga dibodohi he he . . . Seperti presiden Hollande yang dibodohi atau ditakut-takuti dengan terorisme sehingga dia bikin keadaan darurat seluruh Perancis. Macron belum mau dibodohi sejauh itu, atau masih menunggu sebentar lagi he he . Tetapi kalau dia bikin keadaan darurat juga di seluruh Perancis karena terorisme bearti sama ‘pintar’nya dengan Hollande, artinya bisa dibodohi.







Yang pintar ialah, seperti dikatakan Jokowi, bahwa terorisme tidak perlu ditakuti. Atau seperti JK bilang terorisme tidak ada kaitannya dengan agama Islam. Ini berkebalikan dengan Hollande yang bilang bahwa teror Nice tempo hari itu adalah teror Islam. Pernyataan 2 orang inilah (Jokowi dan JK) yang betul dan pintar.

Dan memang terlihat keadaan dunia akhir-akhir ini, terorisme semakin meredup, tetapi politik adu domba dengan cara lain (selain terorisme) sedang digiatkan, meskipun memang semakin tertelanjangi pula seperti gerakan adu domba di Charlottesville Virginia. Di sini, dibentuk 2 kelompok yang bertentangan dan diadu di jalan. Grup pertama namanya Antifa (antifasis) dari kumpulan orang-orang multikulti, dan grup ke dua namanya The White Supremacist, dikumpulkan dari orang-orang putih AS. Dikabarkan juga bahwa inti utama kedua kelompok ini datang di Charlottesville dengan menumpang truk yang sama.




Walikota Charlottesville menyuruh polisi yang bertugas ‘stand down’, tidak boleh mencampuri perkelahian kedua grup, sehingga polisi jengkel.

Seorang polisi bilang:

“We [Charlotesville police] were ordered to bring the rival groups together. As soon as they were in contact with each other, we were told to stand down. It was outrageous. We weren’t allowed to arrest anyone without asking the mayor first. We weren’t even allowed to stop the driver as he sped away.”

“The event was being set up as far back as at least May and it went like clockwork.”

 

Pemrakarsa Politik pembodohan ini jelas harus punya pengetahuan psikologi tentang KONTRADIKSI, yang memang sangat dikuasai oleh pemain divide and conquer internasional ini. Mereka ini mengerti ‘the mental processes and the social pattern of the masses’. Di sittulah kuncinya.

Di situ juga kuncinya untuk menangkis serangan divide and conquer internasional ini. Dengan menyebarnya dan meningkatnya pengetahuan psikologi kontradiksi ini ke publik yang luas . . . politik pembodohan dan politik divide and conquer semakin meredup. Dunia semakin aman.

FOTO HEADER: Aljazeera










Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.