Ketika kemarin Polisi menangkap seorang wanita berumur 51 tahun karena ujaran kebencian dan fitnah melalui media sosial, ada sesuatu yang mengejutkan. Kejutan itu adalah bahwa wanita itu diberitakan adalah seorang dokter.

Tidak dipungkiri, untuk meraih gelar dokter, tentu butuh kecerdasan. Butuh proses panjang menggunakan otak dan rasionalitas dalam berpikir. Namun, kenapa gelar dokternya yang harus ditempuh bertahun-tahun tercoreng oleh perilaku sepele dan memfitnah? Ada apa ini?

Memang, saat Plipres 2014, isu SARA telah membuat bangsa ini dipaksa untuk terbelah. Ada 2 koloni besar yang semuanya merasa dan menyuarakan kebenaran. Ada yang lebih oriented agama. Ada yang lebih oriented nasionalisme.







Satu per satu telah jatuh korban karena luapan emosi yang tidak terkontrol. Satu persatu terciduk dan dicokok Polisi hanya karena korban politik. Hal yang seharusnya sepele dan bisa dihindari.

Kerja politikus memang sengaja memancing emosi. Politikus sengaja membuat simpatisannya agar fanatik. Di akar rumput sengaja dibuat agar “cinta mati” pada partai atau tokoh tertentu. Dengan cara apa saja sekalipun dengan agama.




Semakin fanatik, itu yang diharapkan. Semakin bisa menguasai konstituen, itu semakin bagus. Politikus akan tertawa keras ketika 2 kubu “otot-ototan” adu argumeni. Mereka akan tos sambil mengangsurkan gelas .

“Kita berhasil, kawan,” itu teriak mereka sambil menerima segepok uang gaji sebagai politikus.

Jadi, yang suka dengan Pak Jokowi, itu lebih bagus. Karena track record Pak Jokowi lebih jelas.

Jika tidak suka sama Pak Prabowo juga gak apa-apa. Juga bagus. Yang penting jangan memfitnah. Ingat, memfitnah bukan sebagian dari iman.

Entah kalau kata mereka ….





Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.