Sebuah Film Dokumenter Tentang Jakarta di Masa Ali Sadikin dan Hoegeng (Lihat Videonya di Bawah)

 

Ali Sadikin dan Hoegeng adalah dua tokoh pupuler sekaligus populis di zamannya, mereka berdua mencoba menjawab problem-problem sosial dan politik yang tampil apa adanya.

Memang harus diakui, soal kebersihan kota Jakarta sudah terkenal kumuh sejak dulu kala. Orang-orang bisa mandi, cuci baju, cuci beras sambil menyaksikan pemandangan orang boker di kali. Itu adalah kenyataan yang biasa bagi mereka.







Reporter yang membuat film pun sampai tidak tahu harus berkata apa soal kenyataan yang dia saksikan. Inilah wajah Indonesia yang kumuh, innocence, tapi tetap bisa melempar senyum pada kenyataan.

Mungkin saja bangsa ini memang ditakdirkan menjadi bangsa yang “buta tuli” pada kenyataan, bahwa apapun yang coba dilakukan tidak akan merubah apa-apa.

Gubernur Jakarta silih berganti dengan berbagai janji yang mengikutinya. Namun, Jakarta tetap saja tampil kumuh. Malah semakin kumuh dan cenderung tidak mau ambil pusing dengan apapun yang terjadi.

Rakyat miskin kota yang jumlahnya terbilang banyak justru sedang melewati sebuah transformasi besar-besaran menjadi masyarakat super religious.

Di era 1970an, religiositas masih menjadi konsumsi minoritas di kalangan elite agama. Mungkin mereka baru menyadari, bahwa jumlah warga yang bodoh memang sejak dulu cukup banyak, dan kepolosan mereka bisa ditransformasikan menjadi kekuatan politik massa.

Lihat saja, di tahun 1970an. Tukang becak jumlahnya mayoritas di jalanan, sehingga Ali Sadikin harus membuat kebijakan ketat terhadap para tukang becak “Pribumi” alias Jakarta dan tukang becak “Non Pribumi” alias luar Jakarta.

Saya lebih sepakat pada sang reporter yang mengajukan argumen sederhana atas becak, bahwa kendaraan umum macam becak tidak menghasikan polusi macam oplet atau kendaraan umum lainnya. Namun, nampaknya argumen sang reporter tidak begitu menarik bagi Gubernur Ali Sadikin.

Pada sisi lain, gambaran masyarakat yang “pasrah” atas keadaan membuat sang reporter bergumang, bahwa senyum-senyum tulus mereka berpijak di atas kenyataan bahwa rakyat Indonesia memang masih terjebak dalam kelaparan, hantu ekonomi akibat korupsi yang memang sudah menjadi kebiasaan di republik ini.




Namun di balik senyum-senyum manis bangsaku, aku tetap bisa menyaksikan bahwa di masa depan senyum-senyum itu akan berpijak di atas kewarasan dan rasionalitas. Tidak ada lagi kelaparan, atau bahkan penindasan atas bangsanya sendiri.

Menyaksikan betapa mereka punya potensi yang luar biasa besar jika digarap dengan pendekatan Ilmu Pengetajuan dan Teknologi dibandingkan dengan pendekatan agamis yang berorientasi pada kematian, bukan kehidupan.

#Itusaja!

suasana kota jakarta di tahun 1970 masih murni tanpa gadget kaget saya tukang becak lancar berbahasa inggris heheh

Posted by Ýáńg on Tuesday, September 19, 2017








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.