Kolom Joni H. Tarigan: PDIP DUKUNG RIDWAN KAMIL?

2
624

Apakah anda pernah mendengar pepatah ini?: “You may not think about politics, but politics thinks about you.” Saya pertama kali mendengar pepatah ini ketika menonton film “The Lady” beberapa tahun yang lalu. Film ini mengisahkan bagaimana Aung San Suu Kyi memperjuangan demokrasi di Myanmar yang dikuasai oleh rezim militer.

Film ini bagi saya sangat menarik karena berkaitan dengan sejarah di Myanmar. Tentunya sejarah setiap negara perlu kita pahami sehingga kita tidak harus mengalami sebuah konflik untuk bisa mempelajarinya.







Semenjak kepulangan saya pada September 2009, dari Vlissingen (Belanda) ke Indonesia, saya memang semakin tertarik menambah wawasan di bagian sosial dan politik. Lewat sejarah, wawasan itu akan semakin diperkaya. Saya sangat terkesan dengan pepatah Aung San Suu Kyi, sang penasehat negara Myanmar ini. Dengan kata lain, pepatah ini membuat saya semakin larut dalam setiap perkembangan sosial dan politik, khususnya di Indonesia.

Baru-baru ini berita nasional di Indonesia didominasi oleh pemberitaan penahanan, sidang praperadilan, dan juga sidang perdana dakwaan terhadap mantan Ketua Umum Golkar, Setya Novanto. Setelah praperadilan Novanto dinyatakan gugur, maka Golkar dengan cepat menggelar Rapat Pleno DPP [Rabu 13/12]. Hasil rapat pleno memutuskan memilih Airlangga Hartanto sebagai Ketua Umum Golkar menggantikan Setya Novanto.

Saya berdiskusi dengan teman tentang dinamika politik ini. Saya menyampaikan bahwa dinamika Golkar ini akan semakin menarik. Menariknya PILKADA 2018 merupakan satu paket dengan PEMILU 2019. Sehingga peta dukungan PILKADA 2018 ini akan menjadi gambaran dukungan PEMILU 2019. Jika melihat pernyatan-pernyataan Airlangga di media, bahwa Golkar tetap mendukung pencalonan JOKOWI, ini merupakan hal  yang baik bagi  kemungkinan Jokowi periode ke -2.  Akan tetapi, apakah pernyataan dukungan terhadap Jokowi itu masih sejalan dengan dukungan di PILKADA 2018?

Kemarin [Senin 18/12], berbagai media online memberitakan bahwa Golkar mencabut dukungan terhadap pencalonan Ridwan Kamil (RK) di Jawa Barat. Saya pribadi melihat ini tidak konsisten terhadap dukungan terhadap Jokowi. Ada beberapa alasan ketidakkonsistenan ini. Pertama, ketika Novanto sebagai ketua umumnya, alasan Golkar tidak dukung Dedy Mulyadi adalah elektabilitas Dedy yang tidak mampu mengimbangi RK. Itu berdasarkan survey internal Golkar. Setelah Airlangga memimpin, dukungan dicabut karena menganggap RK tidak jelas mengenai wakil gubernur dari Golkar. Jadi tidak ada penjelasan mengenai survey elektabilitas terbaru setelah pergantian ketua umum.

Jika elektabilitas RK masih yang tertinggi, dan Golkar tidak mendukung, maka ketidakkonsistenan kedua adalah perihal keseriusan Golkar memenangkan Jokowi di 2019.




Jika mengacu ke survey yang ada, misalnya SMRC yang dipublikasi oleh Kompas pada 2 November 2017, maka potensi kemenangan ada pada RK. Ini artinya jika memenangkan RK akan menambah kekuatan pendukung Jokowi periode ke-2. Keterkaitan Jokowi dan Ridwan Kamil, menurut saya, sangat jelas ketika RK menolak dicalonkan oleh Gerindra karena harus mendukung pencalonan Prabowo pada 2019. Selain itu, ketika hendak diadu dengan Basuki-Djarot di Pilkada DKI yang telah lewat, RK memilih untuk tidak bertarung. Ia bahkan menyatakan “Indonesia tidak hanya Jakarta”.

Melihat survey ini, dan jika memang Golkar benar-benar ingin mendukung Jokowi pada 2019, maka bukankah dukungan itu seharusnya dipertahankan?

Melihat sikap RK ketika Pilkada DKI-2017 dan juga sikapnya terhadap diharuskan mendukung Prabowo pada 2019, jika ingin didukung Gerindra, maka jelas  menunjukkan keinginan baik RK untuk berbuat baik bagi masyarakat. Ia ingin memimpin untuk melayani rakyat. Orang yang benar-benar ingin melayani, ketika  sudah melihat kebaikan yang dilakukan seseorang, maka orang tersebut akan melihat peluang memperbaiki keadaan di tempat lain, bukan mengatakan yang baik itu jadi buruk. Seseorang tidak akan menjadi lebih baik  ketika menuduh keburukan orang lain, apalagi orang yang dituduh itu sudah melakukan kebaikan bagi masyarakat.

Saya kira, RK adalah orang baik yang tulus ingin melayani.

Seandainya Golkar benar-benar tidak mendukung RK, bagaimana nasib RK kemudian?Dari yang saya pahami, RK adalah seorang pebisnis yang masuk ke politik dan menjadi pemimpin daerah untuk melayani rakyatnya. Maka, dalam keadaan terburuk, jika  ia tidak dicalonkan maka tidak ada hal yang mengecewakan bagi RK. Justru, masyarakatlah yang rugi jika memiliki pemimpin yang tidak sepenuhnya ingin melayani rakyat.

Akan tetapi, dalam keadaan yang sangat dinamis ini, bagaimana peluang RK?

Saya sangat yakin bahwa RK ini sangat tulus melayani rakyat, hasil survey dapat dijadikan salah satu rujukan. Sehingga dengan demikian, pihak yang ingin benar-benar memenangkan Jokowi pada 2019, akan sangat mempertimbangkan hasil kerja RK ini. Sekalipun Golkar benar-benar mengalihkan dukungan, keyakinan saya tidak berkurang untuk RK.

Anda mau tahu kenapa saya begitu yakin?




Saya sangat yakin karena masih ada PDI-P.  PDI-P memang belum memutuskan calonnya, bahkan sebelumnya tidak mau mendukung RK karena bukan kader internal. Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, maka saya yakin PDI-P akan mencalonkan Ridwan Kamil saat detik-detik terahir.

Bagimana jika prediksi ini salah? Kalau prediksi ini salah,  artinya  saya salah memprediksi. Tapi, saya kok sangat yakin, ya?

Salam semangat dan perjuangan.

FOTO HEADER: BRIL!O










2 COMMENTS

  1. Analisa yang menarik walaupun ‘rumit’ he he
    Tergantung perkembangan dukungan kang Emil terhadap nasionalist Jokowi, karena PDIP akan selalu mendukung nasionalisme yang sekarang sebagai arah perkembangan dunia. Internaionalisme komunis/sosialis maupun globalisme neolib (NWO) sudah kollaps atau ‘finished’ kata bankir besar neolib Rotschild.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.