“Perbedaan adalah Energy,” demikian dikatakan oleh Andi Safiah di kolomnya hari ini (Lihat di SINI).

 

Wow, bayangkan kalau dalam listrik tidak ada positif dan negatif . . . tidak mungkin ada energinya he he . . Dalam taktik divide and conquer energi perbedaan inilah yang selalu dimanfaatkan oleh pemrakarsa taktik ini. Selama ini, digunakan oleh kekuatan neolib internasional seperti dalam kudeta 1965.

Pengetahuan utama di sini ialah pengetahuan tentang PERBEDAAN atau biasa juga disebut pengetahuan tentang kontradiksi. Sering begitu tajamnya perbedaan sehingga energinya mampu membantai 3 juta orang. Makin tajam dan makin dipertajam perbedaan itu, energinya semakin besar. Terlebih lagi kalau dibantu dengan kekutan DUIT.







Gerakan pecah belah Saracen tidak mungkin tanpa duit, seperti membiayai ratusan ribu akun internet. Gerakan 411 dan 212 juga duitnya berhamburan, walaupun bagi pendemo cukup dengan nasi bungkus saja, mereka sudah siap baris dan teriak di panas terik sepanjang hari.

Gerakan pecah belah Saracen tepat bersamaan waktunya dengan gerakan pecah belah di Charlottesville Virginia. Persamaannya ialah bahwa kedua gerakan ini dibelejeti oleh pihak kepolisian. Saracen dibongkar dan dibasmi habis oleh Polri, dan di Charlottesville oleh polisi Kota Charlottesville.

Polisi kota ini bilang kalau Walikotanya yang sudah mengatur perpecahan dan pertikaian yang makan korban jiwa itu. Polisi di lapangan jengkel karena oleh walikota tidak dibolehkan mencampuri perkelahian kedua grup itu.

“Polisi harus ‘stand down’,” kata walikota.

Walikota ini tadinya bekerja dengan Obama dalam pemerintahannya. Persamaan lainnya ialah sama-sama bertujuan menjatuhkan presiden yang ada. Charllottesville mau membusukkan Trump dan Saracen mau menjatuhkan Jokowi lewat Ahok ketika itu.

Pembelejetan taktik divide and conquer ini langsung tertelanjangi siapa di belakangnya. Sangat berbeda dengan kejadian setengah abad lalu seperti 1965 Soekarno dimana masih berlaku abad KETERTUTUPAN. Berlainan dengan kejadian di Abad Keterbukaan Internet, seperti Saracen dan Charlottesville, langsung bisa dibuka oleh publik/ polisi, karena zamannya sudah terbuka atau era KETERBUKAAN.




Tujuan divide and conquer ini (selain duit atau dengan duit) ialah New Worl Order. Setelah Trump naik takhta di AS, dan kepastian era keterbukaan sudah di depan mata, penganut world hegemony ini sudah banyak yang ‘putus asa’. Rocthschild, misalnya, bilang kalau program ke NWO (new world order) sudah kolaps, atau finished, katanya.

Dan banyak lain-lainnya yang selama ini sangat getol mempropagandakan NWO itu sudah menyatakan dan mengakui kegagalan program busuk ini. Walaupun busuk tetapi selama setengah abad mereka berhasil sukses di mana-mana. Apa yang mereka tidak mau mengakui ialah kebusukan itu.

Artinya, di mana-mana mereka bikin perang dan pembunuhan kejam, termasuk sangat banyak pemimpin nasionalis bangsa-bangsa dunia yang dibunuh dengan kejam. Terakhir ialah Kaddafi di Libya. Kaddafi telah berbuat banyak untuk rakyat Libya. Sayangnya tidak banyak di dunia yang mengetahui kebaikan Kaddafi dan libya. Yang diketahui dan tersebar luas ialah ‘kebusukannya’. Itulah hasil MSM (Main Stream Media) dunia neoliberal yang berdominasi soal berita dari Libya. MSM menyaring dan mensesor semua berita Libya dan Kaddafi.










Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.