Makin ke sini, bangsa ini sepertinya dicekoki pemahaman agama yang semakin kontroversial. Makin nggladrah. Makin seenak perutnya sendiri. Semua menurut seleranya sendiri. Apa yang terjadi? Waktu, tenaga dan pikiran terkuras untuk sesuatu yang sangat tidak produktif. Sangat sia-sia. Hingga berakibat munculnya bibit-bibit kebencian.

Ketika negara-negara yang dianggap kafir, yang makannya saja Be A be I, binatang yang diblack list tidak boleh dimakan, yang minumnya alkohol yang juga sangat tidak boleh ditenggak walau setetes, namun negara-negara tersebut justru lebih damai. Relatif lebih tenteram. Manusianya justru berlomba-lomba untuk kemakmuran dan kesejahteraan.







Yang lebih luar biasa, para pengungsi dan imigran gelap, setengah gelap, bahkan yang terang, imigran dari Timur Tengah lebih memilih negara yang dianggap kafir. Yang dihujat “kalian masuk nerakaaa”. Mereka ogah ngungsi di negara yang satu golongan. Kenapa? Pokoknya ogaaaahh..

Di bawah ini ada fenomena sebagian tokoh agama Jaman Now.

Ada yang mengaku ustadz tapi suka marah-marah malah dianggap ucapannya adalah hujah dan bahkan dipuja bagaikan manusia yang tidak punya salah.

Ada yang mengaku ustadz namun suka memprovokasi. Dia justru dianggap orang suci. Diundang ke sana ke mari meski penuh kontroversi. Pulang bawa amplop yang penuh isi.




Ada yang mengaku ustadz baru belajar agama kemarin sore namun suka menyalahkan para ulama yang belajar agama sejak kecil, yang berpuluh-puluh tahun nyantri dari pondok ke pondok.

Ada yang jadi ustadz baru kemarin sore sudah membuat onar soal vaksin. Alhasil, ketika penyakit Diftery memakan banyak korban, apa mau tanggungjawab dia?

Yang lebih celaka, lagi-lagi ada seorang ustadz yang mengatakan “siapa yang mengucapkan Natal bisa dipenjara” karena tindakan itu dianggap menistakan agama.

Ini lebih sangar. Seorang yang ujug-ujug mempunyai “titel” GUS, namun suka memaki ketika ceramah. Yang merasa sok suci namun ternyata sering dapat rengginang mekangkang dengan sambil mendesah “abi purun?”

Ketika Islam Nusantara dianggap lebih baik, bahkan banyak negara-negara Timur Tengah ingin belajar pada Nahdlatul Ulama, kaum ubur-ubur malah menjiplak budaya Arab. Itupun tidak dengan cara yang santun. Buktinya sudah tidak terhitung patung yang kena penthung.

Entahlah, mana yang “Abu jahal” mana yang “Abu Janda”, semua merasa yang paling benar. “Golongan ane yang di Jalan Allah,” itu katanya.

Fenomena Ngustadz Jaman Now.





Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.