Hidup itu lucu ya, Ma. Mama yang capek, melahirkan, merawat, berjuang untuk membesarkan aku. Tapi mama gak pernah minta apa-apa, gak pernah nuntut pengembalian. Padahal seumur hidup mama diabdikan untuk membesarkan anak-anaknya.

Hidup itu lucu ya, ma. Kita diminta merayakan Hari Ibu setahun sekali, berbakti dan berbuat baik pada ibunda. Padahal, bagi mama, setiap detik adalah hari anak. Setiap detik adalah perbuatan baik pada anak-anaknya. Bagaimana kami bisa menghapuskan kebaikan sepanjang waktu dengan hujan setahun sekali?







Tapi, ma, itulah kami. Anak-anak yang hobi dengan seremoni. Yang suka dengan perayaan, hingga hari ibu jadi momentum untuk mengatakan, saya telah berbuat baik kepada ibu. Lalu melupakannya di hari lain.

Hidup itu lucu ya, Ma. Waktu terus berputar, tapi ada yang tidak berubah di matamu. Bagi Mama, saya tetaplah anak lelaki kecil yang harus terus dilindungi. Yang akan Mama bangunkan kembali ketika terjatuh.

Hidup itu lucu ya Ma. Di depanmu, aku berharap tidak pernah beranjak dewasa…

FOTO HEADER: Penulis (kiri) bersama ibunya (kanan)








Leave a Reply