Saya dicap sebagai manusia yang anti Agama, anti Tuhan dan sebagai manusia yang bermasalah. Bisa jadi mereka memang benar. Atau bisa juga salah total. Pasalnya, saya sendiri pun tidak mengerti mengapa otak saya ketika berhadapan dengan Agama dan Tuhan selalu resisten menolak. Menolak semua logika keagamaan dan ketuhanan yang ditawarkan.

Karena saya menyadari bahwa urusan Agama dan Tuhan sebenarnya tidak layak beredar dalam ruang-ruang publik yang menuntut rasionalitas sekaligus kewarasan.







Mungkin inilah alasan yang paling kuat dalam kesadaran saya sebagai manusia, bahwa kita bisa berdebat soal apapun asalkan berpijak di atas bukti-bukti empiris yang bisa kita uji bersama. Sementara Agama dan Tuhan bukanlah wilayah empiris. Dia hanya ada dalam imaginasi dan angan-angan manusia. Antara satu angan-angan dengan yang lainnya berbeda. Inilah yang membuat Agama dan Tuhan menjadi masalah “permanent” dalam kesadaran manusia.

Bagi manusia-manusia paripurna, semacam Spinoza, sudah menyadari hal ini sejak lama, dan tingkat kesulitan menjelaskan posisi Agama dan Tuhan memang luar biasa. Bisa jadi lebih mudah menjelaskan pergerakan particle dari pada pergerakan konsep Agama dan Tuhan, karena particle bisa diamati, sementara Agama dan Tuhan tidak bisa diamati secara langsung.

Namun eksistensi agama dan Tuhan ada pada diri dan pergerakan manusia. Einstein pernah bilang: “Jika tidak ada pergerakan, maka tidak ada apa-apa.” Manusia senantiasa melakukan pergerakan sehingga tidak heran jika Agama dan Tuhan berjamur di mana ada species manusia.

Bisakah Agama dan Tuhan dibuang dalam sejarah pergerakan manusia? Saya kira tidak, tapi Agama dan Tuhan bisa disimpan dalam kotak Pandora kesadaran manusia. Untuk urusan itu, Agama dan Tuhan perlu dibatasi pada urusan individual yang private.

Sementara yang sifatnya terbuka dan publik biar diselesaikan oleh kesadaran empiris manusia. Hanya dengan itu harmoni antara materi dan anti materi bisa berjalan, karena masing-masing berjalan pada jalurnya, bukan saling bertabrakan atau berbenturan.

#Itusaja!








1 COMMENT

  1. “Agama dan Tuhan perlu dibatasi pada urusan individual yang private.” (AS) di Sora Sirulo.

    Kenyataan bahwa agama telah bisa berubah menjadi masalah pribadi telah terjadi di masyarakat negeri maju Eropah Barat terutama sekali terlihat di negeri-negeri Skandinavia. Tetap di negeri-negeri berkembang masih menjadi persoalan orang banyak atau massa penduduk, karena sejak semula juga religion ini adalah masalah ‘opium’ bagi massa rakyat banyak yang tertindas dan tersiksa di era feodal dan terutama sekali pada permulaan pembangunan dan perluasan industri di barat.

    Kekejaman dan penindasan atas hamba tani dan terutama kaum buruh pada zaman Marx itu sangat luar biasa memang, dan kita tidak bisa membayangkan sekarang ini. Ditindas dan dipaksa kerja 12-14 jam atau lebih dengan gaji yang sering tak cukup buat makan saja, tak cukup untuk memanasi rumah pada musim dingin, apalagi yang namanya untuk menyekolahkan anak-anaknya.

    Marx menuliskan soal penderitaan rakyat ini, dan salah satu dari kalimatnya ialah ‘religion is opium for the people’. Tetapi banyak tambahan penjelasan dari Marx apa maksudnya dengan ‘opium’ itu. Lenin mengambil kalimat ini tersendiri dan memberikan penjelasan dan pengertiannya soal ‘opium’ ini, yang ternyata sangat berlainan dengan apa yang dimaksudkan oleh Marx dalam tulisan kritiknya terhadap Hegel itu. PKI terutama pimpinan Aidit juga mengambil text kalimat Marx ini tersendiri, dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan menjadi ‘agama adalah racun bagi rakyat’. Kutipan itu hanya diartikan sederhana begitu, artinya agama adalah racun, tanpa penjelasan lebih luas seperti Marx pernah tuliskan. Pengertian sederhana begini bertendensi dan berpotensi sangat tinggi memancing pertentangan dan permusuhan dikalangan penduduk, terutama dalam membenci dan memusuhi partai dan pengikut PKI. Perumusan ini sangat berpotensi memancing permusuhan besar dalam masyarakat.

    Penyederhanaan ini jadinya terlihat menyimpang dari pengertian Marx sendiri tentang ‘opium’ itu. ‘Opium’ pada zaman Marx dan dalam tulisannya diartikan sebagai obat penenang atau obat pengurangi rasa sakit. Dan bagi kaum buruh ketika itu memang itulah yang berlaku, sebagai alat penenang jiwa mengalihkan neraka yang dihadapi dalam kehidupan nyata setiap hari, dialihkan ke kenikmatan surga di kehidupan yang akan datang. Jadi religion adalah satu-satunya alat penghibur yang tersedia ketika itu. Kaum tertindas ini tidak bisa mengharapkan nonton film, nonton teater, atau piknik ke taman hiburan atau taman kreasi lainnya pada era penindasan yang kejam itu. Agama dibutuhkan sebagai satu-satunya hiburan/pelipur lara pada zaman penindasan dan penyiksaan kejam kapital. Atau seperti dikatakan oleh Marx “the illusory happiness of the people is required for their real happiness.” Jadi agama itu sebagai illusory happiness. Itulah yang dia maksudkan dengan istilah ‘opium’.

    Kata-kata Marx lebih lengkapnya dalam tulisannya mengeritik Hegel bilang begini:
    Religious distress is at the same time the expression of real distress and the protest against real distress. Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, just as it is the spirit of a spiritless situation. It is the opium of the people. The abolition of religion as the illusory happiness of the people is required for their real happiness. The demand to give up the illusion about its condition is the demand to give up a condition which needs illusions. It is the opium of the people.

    Dari kata-kata Marx itu jelaslah bahwa religion itu adalah sebuah ilusi yang diciptakan atau diharuskan oleh situasi yang memaksa orang (kelas buruh) untuk berilusi bahagia, surga dalam kehidupan yang akan datang, sekilas mengelak dari kehidupan nyata yang sangat getir, kejam dan menyiksa, yang harus dihadapi setiap harinya oleh kaum buruh industri.

    Bagaimanakah sekarang ini pandangan atau penilaian terhadap ‘opium’ atau religion, ‘the sigh of the opressed crature, the hart of a hartless world, the spririt of spiritless world di zaman Karl Marx itu?

    Sekitar 100 tahun setelah era Marx itu, tepatnya pada pertengahan kedua dari abad 20, religion atau ‘opium’ itu tidak lagi dipandang sebagai ‘illusory happiness’, terutama karena penterjemahan yang sangat profokatif oleh Lenin maupun Aidit dimana agama semata-mata diartikan hanya sebagai ‘racun bagi rakyat’, telah mempengaruhi dan mengubah keseimbangan kontradiksi dari dua hal bertentangan menjadi lebih tajam. Pemahaman berat-sebelah ini sangat mempermudah atau membantu mempermudah bagi pihak imperialis neolib internasional untuk menjadikan religion sebagai alat ampuh untuk politik pecah belah divide and conquernya. Bagi orang Indonesia, soal ini sangat terasa ketika adanya gerakan pembantaian massal dalam menjatuhkan Soekarno 1965, gerakan 411, 211, Saracen (pecah belah dua agama dengan ratusan ribu akun internet), dan terakhir gerakan Alumni 212.

    Di AS Virginia (Charlottesville) dipakai untuk mengadu domba orang-orang multiulti (campuran agama) kontra orang kristen kulit putih AS. Keduanya gerakan adu-domba ini hampir bersamaan waktunya dan keduanya juga ditelanjangi oleh kesatuan polisi setempat, di Charlottesville oleh polisi kotanya dan di Jakarta oleh Polri sendiri. Jadi perubahan religion atau penggunaan religion dari era Marx ke era Neolib adalah dari ‘illusory happiness’ ke alat divide and conquer demi tercapainya The New World Order. Tetapi seperti semua kita sudah dapat informasinya bahwa The NWO pada thun 2017 sudah dinyatakan gagal dan berakhir oleh hampir semua gembong besar neolib internasional terutama setelah Trump berhasil jadi presiden AS.
    What next? Mari ikuti pergolakan dunia.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.