Uang bukanlah masalah, manusialah yang selalu bermasalah dengan Uang. Lihat saja, di mana-mana manusia berbicara soal “angka”. Di pasar, di rumah sakit, di sekolah, di kantor-kantor pemerintahan, di rumah ibadah, bahkan di kuburan pun ada transaksi yang melibatkan Uang.

Uang telah menggantikan peran Tuhan yang sifatnya Imaginer, sementara Uang adalah suatu entitas yang real, bisa dilihat bentuk, karakter, warna sekaligus nilainya.







Manusia sangat cerdas menciptakan anekdot atau semacam perumpamaan soal bagaimana kita selalu mencoba menghibur diri soal uang. Misalkan puisi sarkastik seperti “Uang bukanlah segalanya” lalu ditimpali oleh kalangan yang lebih opportunist dan realistic dalam memandang uang “Tapi segalanya butuh uang”. Bahkan toilet yang dicap untuk umum ada angkanya.

Itulah kekuatan uang. Ingat, terrorist kelas satu yang diburu oleh hampir semua pasukan elit yang beraliansi dengan USA, Osama Bin Laden namanya, dia sangat membenci semua yang datang dari America, dan sangat mencintai Dollar America, lagi-lagi uang bisa menjawab persoalan kebencian.

Saya membayangkan, jika uang adalah jembatan penghubung antara kebencian dan cinta, lalu mengapa uang tidak dijadikan alat? Ternyata ada problems fundamental yang secara mental melekat pada kesadaran manusia.

Pertama, sebagai species yang tidak akan pernah berhenti bergerak dan bertanya, manusia punya kecendrungan yang berkarakter “universe” dimana menciptakan dan menghancurkan telah menjadi satu paket.

Ke dua, species manusia lewat pikirannya sanggup melakukan apa saja yang dia kehendaki. Tuhan dalam imaginasi manusia bisa dicapai lewat kerja-kerja experiment.

Ke tiga, species manusia akan senantiasa melewati proses evolusi kompleks yang tidak akan pernah berakhir. Itulah manusia, kemampuannya dalam membentuk wajah kemanusiaannya punya dua sisi. Seperti coin; di satu sisi tersenyum dan di sisi lain berteriak seperti orang marah.

Nampaknya sisi kemarahan dari coin manusia sedang dikoreksi dengan pendekatan cinta kasih, lewat perantara uang sebenarnya semua bisa dijawab, jika akses terhadap uang terbuka lebar untuk semua, macam spirit demokrasinya Abraham Lincoln Uang datang dari Rakyat, oleh Rakyat dan digunakan untuk Rakyat.

#Itusaja!








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.