Kolom Ganggas Yusmoro: HIRUK PIKUK JELANG TAHUN POLITIK

1
515

Menjelang Tahun Politik, ada gejala negeri ini semakin dibuat hiruk pikuk. Hal-hal remeh dibuat gegap gempita. Sesuatu yang lazim dan biasa dilakukan seperti halnya hari Ibu dibuat amunisi agar bisa mengobok-obok negeri ini.

Apakah pengkondisian situasi itu ada korelasinya untuk Pilpres 2019?

Jika diamati dengan seksama, hiruk pikuk tersebut adalah sebuah kesengajaan. Hiruk pikuk tersebut sengaja diciptakan agar perhatian orang-orang waras di negeri ini terkonsentrasi pada hal tersebut. Dan justru serangan yang “mematikan” dan mak jleb sudah memporak-porandakan pertahanan. Jika dibiarkan niscaya akan semakin membabi buta.

Apa itu?







Sebentar. Apakah Si Felix dan Si Somad yang selalu membuat kacau tersebut orientasinya hanya soal agama? Apakah kebijakan Gabener dan Wagabener adalah kebijakan yang karena mereka orang-orang bodoh?

Hohoho, jangan salah, kawan. Kekuasaan, sebagaimana yang kita ketahui bersama, kekuasaan tentu banyak orang yang terlibat. Termasuk para pebisnis atau pengusaha yang ketika Jaman Pemerintah Pak Jokowi musti mati kutu. Harus gigit jari tidak lagi bisa menikmati manisnya Sumber Daya Alam Indonesia.




> Tidak bisa lagi main Minyak dan Gas. Karena Pak Jokowi mengawasinya dengan ketat.
> Tidak bisa lagi main-main soal pajak. Karena Ibu Sri Mulyani tidak bisa dikibuli.
> Tidak bisa lagi ngentit hasil laut. Karena ada wanita perkasa yang dikit-dikit teriak: “Tenggelamkan!!”
> Freeport juga sudah tidak bisa sak enaknya dewe. 51 persen harus dibagi ke Pemerintah Indonesia.

Nah, situasi ini adalah Grand Desain demi mengembalikan kejayaan para maling dan Koruptor.

Karena bangsa ini masih fanatik berlebihan terhadap Agama, maka seperti yg kita lihat bersama, Ustadz-ustadz yang berpihak pada mereka keliling Indonesia dengan dana yang cukup serta menugaskan team IT agar membuat video-video provokatif.

Serangan yang sesungguhnya adalah Partai Sapi dengan pendukungnya yang militan, selalu berfatwa dalam setiap acara keagamaan bahkan ketika Hari Jumat: “JANGAN PILIH SIAPAPUN PEMBELA PENISTA AGAMA DAN ULAMA.”

Terus, bagaimana solusinya? Apakah rela Indonesia kembali ke Jaman Kegelapan?
Jaman di mana maling dan koruptor sebagai penguasa?


1 COMMENT

  1. “Karena bangsa ini masih fanatik berlebihan terhadap Agama, maka seperti yg kita lihat bersama, Ustadz-ustadz yang berpihak pada mereka keliling Indonesia dengan dana yang cukup serta menugaskan team IT agar membuat video-video provokatif. Nah, situasi ini adalah Grand Desain demi mengembalikan kejayaan para maling dan Koruptor.”(GY)

    Dan, dalam politik, dikatakan oleh presiden FD Roosevelt begini:
    “In politics, nothing happens by accident, you can bet it was planned that way.”
    Jadi semakin jelaslah bagi publik dunia dan publik Indonesia khususnya bahwa ustadz-ustadz pada keliling ngepul dan berceramah bukanlah by accident, tetapi memang sudah direncanakan sedemikian itu.
    Kendaraan maupun ustadz-ustadznya ini bisa jalan tentu harus ada bensinnya. Berapa harga bensinnya dan siapa yang menyediakan duit bensin itu tentu tidak beda atau sama saja dengan peristiwa-peristiwa politik sebelumnya seperti biaya kudeta dan jagal 1965, biaya gerakan 411, 212, Saracen dll.

    Uang bensin kudeta dan jagal 1965 sudah terlunasi dan malah dapat lebih banyak, dari triliunan dolar hasil Freeport saja. Biaya bensin 411, 212, Saracen dll belum terbayar balik atau belum dapat untung besar dari situ (dari segi duit). Tetapi dengan harapan nanti bisa mengembalikan kekuasaan ke situasi gelap dimana maling dan koruptor berkuasa penuh, dimana nanti tentu tidak susah mengembalikan duit bensin ustadz-ustadz itu juga. Dan seterusnya mengembalikan semua kekuasaan SDA Indonesia ketangan lama neolib internasional. Inilah tujuan utama, duit, duit, dimulai dengan pengeluaran duit bensin ustadz-ustadz, biaya untuk bikin ratusan ribu akun Saracen, juga biaya Reuni 212.

    Kita bisa melihat semua gerakan/aktivitas ini bisa jalan karena ada duit atau ada yang punya duit banyak. Tanpa duit walaupun ada kekuasaan, gerakan begini tidak bisa jalan, tidak mungkin hidup. Karena itu duitlah kekuasaan yang paling tinggi. Seorang diktator dengan pesenjataan kuat bisa ditundukkan dengan duit, dan hanya dengan duit bisa ditundukkan kekuasaan sebesar apapun. Apakah kekuasaan nuklir ‘little rocket man’ Korut bisa ditundukkan dengan duit? Tinggal caranya dan timingnya. He he . . . walaupun masih banyak juga yang ragu tentunya.

    Duit yang lebih sedikit tidak bisa menundukkan duit yang lebih banyak. Karena itu duit paling banyak menaklukkan segala-galanya dalam situasi kemanusiaan sekarang ini, artinya selama tingkat kesedaran manusia masih ‘setingkat duit’. Dan tidak perlu diragukan dan juga kita semua mengetahui dari pengalaman dunia bahwa meraih duit paling banyak itu selalu dan hanya mungkin dalam KEGELAPAN atau dengan cara gelap. Karena itu kekuasaan besar/mutlak duit itu akan hilang dalam era keterbukaan. Kekuasaan mutlak duit itu semakin merosot dalam era keterbukaan yang semakin sempurna. Fenomena rencana NWO (New World Order) sudah dinyatakan kollaps atau finished bukanlah kebetulan. Orang-orangnya sudah pada melihat gejala kematian kekuasaan duit yang besar itu dalam era keterbukaan. Sebab utamanya yang terlihat ialah penelanjangan terus-menerus oleh publik dunia terhadap kekuasaan gelap duit itu. Lihatlah terorisme, Saracen, pecah belah Charlottesville Virginia, gerakan LGBT, gerakan Ustatz, dll semua ditelanjangi oleh publik yang luas, pada hal yang mau dikibuli ialah publik yang luas dan kemudian negaranya/pemimpinnya.

    Untuk mengembalikan duit biaya 411, Saracen, ReUni 212, juga gerakan Ustadz itu, semua tentu harus lebih dahulu mengembalikan puncak kekuasaan ketangan boneka pengikut setia pemecah belah neolib seperti Orba. Uang-kembali untuk bayar bensin ini jelas tidak mungkin diperoleh selama sang Jokowi masih bercokol di istana kekuasaan. Menyasar Ahok tadinya dianggap salah satu cara ampuh menyingkirkan Jokowi, tetapi ternyata gagal juga. Gerakan 411, 212, Saracen, Reuni 212, juga mengalami kegagalan. Sekarang giliran ustadz-ustadz untuk dimajukan, siapa tahu bisa berhasil. Penggiat gerakan ini tentunya tidak boleh diam saja, karena diam saja tidak akan bikin perubahan apa-apa, apalagi perubahan untuk menumbangkan kekuasaan sah nasionalis Jokowi, jelas tidak gampang seperti membalikkan tangan. Lebih-lebih lagi sudah terbukti bahwa gerakan 411, Saracen dan semacamnya ternyata gagal semua.

    Terorisme juga sudah terlihat tidak mempan untuk menakut-nakuti Jokowi seperti manakut-nakuti presiden Hollande di Perancis. Penduduk dan pemimpin Indonesia bersama aparat keamanannya malah tambah pandai menghadapi semua akal bulus yang sudah dicoba selama kekuasaan Jokowi. Terakhir dibikin akal bulus gerakan ustadz itu, dan kita masih akan melihat sejauh mana ustadz-ustadz ini melangkahkan kakinya.
    Selain gerakan ustaz sudah dimulai juga gerakan LGBT (lesbian, gay, bisexual, transgender) dimulai dan diluaskan secara terang-terangan 2017. Gerakan LGBT adalah gerakan politis, membentuk badan lobi politik menyokong NWO (new world order) supaya satu waktu badan lobi ini bisa diakui dan disahkan di Indonesia seperti di Thailand.

    Gerakan LGBT telah dimulai di AS tahun 90-an dan diteruskan ke Perancis tahun 2000-an. Perekrutan massa dan kegiatan menyolok LGBT di Indonesia sudah mulai terlihat diberbagai tempat, menyemarakkan perkawinan gay, mempopulerkan transgender, rekrut anak-anak muda berprestasi jadi anggotanya dsb.

    “It is really a war against civilization, as anti-Christian as it is anti-Islamic. Religion is a natural obstacle to a New World Order. LGBT activism, especially leftist, is part of this agenda.” (Henry Makow), https://www.henrymakow.com/gay_france.html

    Walaupun sebagian besar gembong NWO ini sudah menyatakan rencana NWO sudah finished, tetapi ada bagian-bagiannya masih tetap digiatkan sejauh mungkin. Kewaspadaan dipihak publik dunia masih harus terus dipertahankan. Dan bisa dipastikan bahwa disinipun tentu berlaku juga kata-kata Roosevelt: “In politics,nothing happens by accident, you can bet it was planned that way.”

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.