Guru dan orang tua sejak kecil mengajarkan kita ramah dan respect pada sesama. Saat orang lain mendapat anugrah kebahagiaan kita ucapkan ‘selamat’. Jika ada yang ditimpa musibah kita sampaikan ‘turut berduka’.

Hidup dibawa normal saja. Di kampung seluruh tetangga saya Islam. Tidak ada urgensinya ucapan natal-natalan. Tetapi di Serpong, kiri kananku nasrani. Rasanya abnormal kalau saya membisu pada hari raya tetangga baik di sini.







Angelina Lumy ketagihan ketupat opor ayam yang biasa saya bagi bila lebaran. Jika imlek ia membawakan ke rumah saya kue keranjang dan jeruk mandarin. Kalau ke gereja ia kerap menitipkan kunci rumahnya. Saat tiba-tiba anakku sakit dan saya panik ia yang paling dulu datang membantu ini itu. Meski tak berani sentuh, anakku suka menggoda si ‘kipit’, anjing kecilnya.

Kontroversi soal ucapan selamat ini selalu ada, tidak mengapa. Bagi saya, ucapan selamat natal adalah bagian dari etika berkawan dan bertetangga, ekspresi kecil dari ukhuwah basyariyah. Mengapa tidak. Ini norma dan normal saja.

Tapi, kini saya dengar ada yang sampai bilang ucapan selamat natal itu penistaan agama. Menurut saya itu sudah bablas antisosialnya. Apakah iman sesederhana cucian warna yang luntur sebelum dijemur karena di dalam ember bercampur baur?

Selamat beristirahat








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.