Sebagaimana biasa, sahabat saya yang seorang Banser setiap setahun sekali selalu rutin memenuhi panggilan kemanusiaan untuk ikut berpartisipasi menjaga rasa aman perayaan Natal di gereja-gereja sekitar tempatnya tinggal.

Yang saya tahu, sahabat saya ini setiap kali “bertugas” tidak pernah sekalipun merasa ada ganjalan. Begitu nyata keikhlasan dalam merawat dan menjaga kerukunan sebagai satu bangsa meski taruhannya nyawa sebagaimana yang pernah terjadi di Mojokerto 17 tahun silam.







“Sampai kapan Perayaan Natal harus dijaga ya, Mas?” Itu pertanyaanku semalam.

Sahabatku ini tertegun. Sepertinya tidak terlintas ada pertanyaan yang seperti ini. Sejenak aktivitasnya saat menyemir sepatu “tentara” kebanggaannya berhenti. Matanya menerawang jauh. Ada kegundahan yang saya rasakan.

“Entahlah, Pak. Saya tidak pernah kepikiran. Bahkan selama bertahun-tahun saya ikut berjaga, saya tidak pernah punya pertanyaan yang semacam ini. Namun, memang pertanyaan Bapak membuat saya terkejut. Iya, ya. Sampai kapan?”

Kami tidak melanjutkan obrolan. Sahabatku ini kembali sibuk dengan sepatunya. Saya kembali memelototi gadget. Berita yang selalu hangat setiap perayaan Natal dan Tahun Baru selalu dari itu ke itu. Dari kontroversi ucapan Haram hingga ada Golongan yang merasa superior dan ketakutan jika Agama Nasrani dianggap menyaingi.

Entahlah, Sampai kapan negeri ini tidak mempersoalkan agama dalam berbangsa dan bernegara. Entahlah, sampai kapan aparat dan dibantu Banser serta Ormas pemuda lainnya tidak harus repot-repot menjaga gereja dan bertaruh nyawa.

Toh saudara kita yang Nasrani hanya merayakan Hari Natal setahun sekali. Itupun tidak dengan hingar bingar menyebut-nyebut Suara Tuhan mereka melalui TOA.

Untuk waras memang susah.








Leave a Reply