Kolom Eko Kuntadhi: REALITAS SEMU

0
486

Ini jaman imagologi, ketika citra lebih berarti dari realitas dan kemasan lebih penting dari isi. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Milan Kundera, seorang novelis kelahiran Ceko yang terdampar di Perancis.

Mulanya Kundera hanya melihat fenomena radio dan televisi sebagai media yang berhasil memoles realitas dan berhasil menampilkan sebuah citra baru. Tapi kini, kita tahu, ada media sosial yang membuat kesimpulan Kundera makin terasa penting.







Kundera misalnya, mencontohkan neneknya yang hidup di pedesaan. Dia otonom mengontrol realitas di sekelilingnya. Tanpa diganggu oleh pencitraan media realitas hadir sebagai realitas, sebagaimana dirasakan dan dicermati sang nenek. Sementara ada seorang pekerja di Paris, yang setiap hari menyaksikan televisi. Bagi pekerja ini, realitas adalah apa yang disaksikan di layar kotak itu.

Padahal untuk menghadirkan realitas itu, kru televisi telah melakukan seangkaian distorsi. Ada pemilihan tema, ada politik redaksional dan framing, ada editing, dan batas waktu penayangan. Dengan kata lain, serangkaian kerja redaksional itu, mengakibatkan gap antara kenyataan dengan kemasan yang tampil di TV.

Kita juga merasakan hal yang sama. Bahkan lebih dasyat ketimbang pekerja di Paris pada jaman Kundera itu. Setiap hari kita bertemu realitas suasana hidup di Indoesia yang adem. Orang-orang bekerja, mencari nafkah, kuliah, naik commuter line, dan saling berbagi senyum.

Tapi di media sosial, kita seolah menemukan kenyataan berbeda. Kita merasakan masyarakat sedang hamil tua dengan konflik dan gesekan ideologinya. Segala pikiran dilaga dan sumpah serapah disemburkan. Sesuatu yang mungkin saja tidak kita temui dalam kenyataan sehari-hari.




Orang-orang yang sholeh dan santun dalam kehidupan nyatanya, saat di sosmed berubah menjadi tukang caci-maki yang mengerikan. Seorang dokter yang biasa lembut menghadapi pasiennya, bahkan jadi menyebar hoax aktif, dengan tambahan hasutan yang jahat.

Seorang ibu yang baik, mengajar anak-anaknya dengan ujaran baik, mungkin saja berubah menjadi kampret saat tampil di media sosial. Ada keterbelahan kepribadian seseorang, antara di kehidupannya sehari-hari dengan hidupnya di alam maya.

Tapi, mungkin saja, justru media sosial bisa menampilkan wajah kita yang otentik. Jika di alam nyata segala ocehanmu dibatasi oleh etika komunal, rasa tidak enak dengan lingkungan, justru di media sosial seseorang merasa bebas berekspresi. Sebab sebagian orang masih menganggap media sosial seperti ruang sempit tempat seseorang bisa ngomong apa saja untuk disampaikan ke publik. Apalagi bisa menggunakan akun palsu.

Kebebasan itulah yang membuat kita merasa lebih otentik menampilkan diri di medsos. Dengan kata lain, kini realitas kepribadian kita, bisa dilacak dari akun media sosialnya.




Seorang teman yang bekerja sebagai profesional HRD, misalnya, kini memastikan untuk menelaah akun media sosial calon karyawannya. Dia bahkan punya seorang staff bidang IT yang tugasnya meneliti akun-akun karyawan atau calon karyawannya.

Bukan untuk diberi sanksi atau teguran terhadap status atau pemikiran seseorang di luar kerjanya. Tapi yang lebih penting, katanya, untuk memahami latar belakang dan pemikiran seseorang. Jika ada karyawan yang terbiasa memaki-maki orang di media sosialnya, itu juga akan jadi pertimbangan untuk jabatan-jabatan tertentu.

“Kalau ada karyawan yang ternyata intoleran, masa kita mau angkat dia menduduki jabatan strategis. Itu berbahaya buat perusahaan,” ujar rekan itu.

Di sinilah, sesuatu yang ada di media, yang tadinya adalah citra, justru di era medsos ini, kemungkinan besar menggambarkan realtitas kepribadian orang sesungguhnya. Sebaliknya, justru kehidupan nyatanya seseorang itulah yang menjadi kemasan kepribadiannya.




Ini jaman imagilogi, kata Milan Kundera. Dimana kemasan lebih penting dari isi. Media adalah penyebabnya. Tapi, ini juga jaman medsos, dimana isi tampil di media sosial dengan telanjang. Sementara dalam kehidupan nyata seseorang bisa saja cuma menggunakan topeng.

Seperti yang kita saksikan dari akun Kementerian Pertanian RI kemarin. Tiba-tiba akun tersebut nyinyir kepada pemerintah soal ditolaknya Somad masuk Hongkong. Orang-orang kaget, ngapain akun resmi sebuah kementerian mengkritik pemerintahannya sendiri.

Tidak lama kemudian, admin akun itu meminta maaf. Alasannya karena dia menggunakan sebuah HP dan lupa logout dari akun resmi yang dikelolanya ke akun pribadinya. Dia adalah karyawan bagian Litbang di Departemen Pertanian RI.

Nah, di alam nyata dia adalah PNS. Tapi di media sosial, dia mengkritik pemerintah yang militan.

Anda mau percaya yang mana? Dia sebagai PNS yang bicara soal informasi pertanian atau dia sebagai pribadi yang berdiri sebagai oposan pemerintah yang menggajinya dan memberikan fasilitas padanya?










Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.