Mau tahu kader partai paling galau sekarang? Mungkin kader PKS di Jabar. Masalahnya, tiba-tiba partainya mengalihkan kesepakatan yang sudah dibangun untuk mendukung Deddy Mizwar dan Ahmad Syaikhu maju jadi Cagub dan Cawagub Jawa Barat.

Entah kenapa, kesepakatan yang telah dibuat dengan Demokrat dan PAN untuk mengusung keduanya, tiba-tiba bubar jalan. PKS bersama Gerindra dan PAN kini mendukung Mayjen (Purn) Sudrajat dan Ahmad Syaikhu. Sedangkan Deddy Mizwar dilepeh begitu saja. Tentu saja Demokrat yang menjadi mitra koalisi PKS berang.

“Partai Khianat Selalu,” sindir Andi Arief, salah seorang petinggi Demokrat dalam cuitan akun Twitternya.




Mulanya memang PKS-Gerindra sepakat mengusung Deddy Mizwar-Syaikhu. Tapi rupanya Gerindra kurang sreg. Soalnya DM lebih berbau PKS, sedangkan Syaikhu sendiri kader PKS. Terus Gerindra dapat apa, dong? Makanya Gerindra menarik diri.

Sementara PKS dan PAN seolah istiqomah di belakang Deddy Mizwar meski jumlah kursi mereka berdua belum cukup untuk ikut mencalonkan pasangan. Tapi siapa yang percaya ada yang bisa istiqomah dalam politik? Toh, ujung-ujungnya, PKS berbalik arah. Mereka ikut tarian Gerindra untuk mendukung Mayjen (Purn) Sudrajat dan meninggalkan Deddy Mizwar begitu saja. Memang sih, wakilnya tetap Akhmad Syaikhu dari PKS.

Tapi di Jabar kali ini terasa PKS berada di ketiak Gerindra. Padahal di Jawa Barat Ahmad Heryawan berkuasa dua periode. Kursi PKS di DPRD juga lebih banyak dibanding Gerindra. Apalagi, meski bukan kader PKS, kedekatan Deddy Mizwar dengan kader-kader PKS di lapangan lumayan akrab. Masa nanti harus saling bertempur?

Keresahan kader PKS beralasan. Selama ini, elektabilitas Sudrajat belum ketahuan dalam berbagai survei. Popularitasnya juga masih jauh di bawah standar di Jabar. Sebab memang nama Sudrajat tiba-tiba nongol begitu saja disorong Gerindra.

“Rasanya ini seperti menyerahkan piring makan kepada lawan. Dengan mengsung Sudrajat yang beum terlihat popularitas dan elektabilitasnya, peluang keberhasilan PKS menang di Jabar lebih kecil,” ujar seorang simpatisan PKS.

Maksudnya menyerahkan piring makan kepada lawan adalah bahwa kekuasaan PKS yang selama ini tertahan di Jabar, kemungkinan besar akan berpindah tangan.

Kita tahu, Jabar punya Ridwan Kamil yang elektabilitasnya tinggi. Didukung oleh PPP, PKB dan Nasdem. Ada juga Deddy Mulyadi dari Golkar yang kini menggandeng Deddy Mizwar. Nah, hadirnya Sudrajat dirasa tidak cukup untuk melawan Ridwan Kamil yang memang sudah ngetop.

Kegalauan kader ini tercermin dari cuitan Fahri Hamzah di Twitter yang mengkritik keputusan mantan partainya itu. Fahri seperti memberi dukungan terus kepada Deddy Mizwar, tidak mempedulikan keputusan mantan partainya. Harus diakui, meski sudah dipecat dari PKS, Fahri memiliki basis dukungan yang lumayan. Kevokalannya dan posisinya sebagai Wakil Ketua DPR membuat suara Fahri lebih didengar kader-kader di akar rumput.

Selain Fahri, kekuatan PKS di Jabar juga bergantung pada Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat 2 periode. Tentu saja dia juga sebel dengan elit partai karena sama sekali tidak melirik Netty Heryawan, istrinya, untuk dijadikan alternatif calon. Jikapun bukan istrinya yang dilirik, minimal wakilnyalah. Eh, ini malah gak sama sekali. Netty dicuekin, Deddy Mizwar dilepeh.




Wajar saja kini kader-kader PKS di Jabar galau bukan main. Mereka setengah hati mendukung keputusan partainya. Sebagai kader, mereka merasa, keputusan PKS di Jabar kentara sekali membuktikan PKS berposisi inferior berhadapan dengan Gerindra.

“PKS ada di ketiak Gerindra. Payah,” ujarnya memercikan kekesalan.

Tapi juga, untuk mengalihkan suara ke Deddy Mizwar, rasanya kecil kemungkinan. Bukan apa-apa, bersama Deddy Mizwar ada Deddy Mulyadi yang secara garis ideologi berbeda dengan kebanyakan kader PKS. Ini yang membuat kegalauan mereka menjadi-jadi. Yang paling memungkinkan, jika terjadi pengalihan suara, mereka lebih memilih Ridwan Kamil.

Selama ini RK lumayan dapat perhatian juga dari kader-kader PKS. Alasannya simpel. Toh, di belakang RK ada PPP dan PKB yang juga representasi partai islam.

“Jadi kader partai, kalau lagi galau gitu obatnya apa, Mbang,” tanya Abu Kumkum.

“Hajar jahanam, kang…”






Leave a Reply