Polisi Syariat Kota Banda Aceh telah bekerja sejak sepekan lalu menempelkan seruan di tempat umum, cafe, restoran dan warung kopi. Isinya melarang warga merayakan tahun baru dan meminta pengusaha tempat hiburan dan usaha lainnya tidak memfasilitasi perayaan tahun baru.

Merdeka.com (31 Desember 2017) (lihat di SINI)

 

Kalau orang Kristen mengucapkan Selamat Hari Raya kepada sahabat/ tetangga orang Islam, situasinya terasa sangat bersahabat. Dan juga disambut dengan gembira oleh sahabat Islam itu. Sangat indah! Ini adalah contoh dan sikap tradisi leluhur bangsa Indonesia bahkan jauh sebelum berbagai agama datang ke negeri ini.

Hebat memang way of thinking dan tradisi leluhur kita. Tetapi, mengapa sekarang jadi luntur, ya? Siapa yang mengosok-gosok jadi luntur tradisi mulia kita itu dan dialihkan ke politik perpecahan?







Wow . . .  sejarahnya sangat panjang, memang. Kalau diteliti ke akar-akarnya, ternyata akarnya adalah  . . .  DUIT, KESERAKAHAN, POWER!

Dunia dipecah dengan berbagai macam perang. Ternyata, Perang Dunia I dan II juga adalah ulah bankir rentenir internasional untuk membungakan duitnya. Pertama, sebelum perang hasut dulu, dan pinjamkan duitnya ke fabrik senjata. Ke dua, pinjamkan lagi duitnya untuk pembangunan setelah perang. Wow, betapa bunganya berlipat ganda. Hebat tidak ini?

Orang biasa atau bahkan ‘orang ilmuan’ cari ke sana ke sini sebab utama perang . . . Jawabnya apa? Imperilaisme sebagai bentuk tertinggi kapitalisme! Atau penjajahan baru, kolonilisme bentuk baru atau tertinggi. Sampai di situ saja, selebihnya tidak dibuka. Inilah yang diajarkan di sekolah atau yang disebarkan oleh MSM (Main Stream Media) milik bankir rentenir itu sendiri.




Penduduk dunia percaya soal ini karena belum ada yang namanya Media Sosial atau internet ketika itu, yang memungkinkan pengetahuan dan informasi dari semua pihak, dari publik yang luas dan banyak ahli. Tidak ada sumber pengetahuan lain atau sumber informasi lain. Orang/ ahli yang mungkin sudah tahu persoalan ini tetapi tak punya kesempatan/ alat komunikasi untuk menyebarkan pengetahuannya.

Makanya tidak heran juga kalau pengetahuan/informasi yang seharusnya sudah diketahui oleh publik, sebutlah infromasi/pengetahuan seratus tahun lalu, baru sekarang ini publik/rakyat biasa bisa mengetahuinya. Sebutlah misalnya perang kemerdekaan Amerika. Bagaimana pengetahuan kita sekarang soal ini? (Lihat di SINI).

Atau, sebut lagi satu contoh lain seperti pecah belah dan bantai 3 juta orang 1965. Baru sekarang kita mengetahui sebab utamanya . . . duit, duit, duit . . . Contohnya Freeport dikeruk triliunan dolar selama lebih dari setengah abad tanpa suara!

Kalau Ulama Aceh belum mengetahui soal ini dan mereka larang merayakan Tahun Baru karena tidak bermanfaat, renungkan lagi.







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.