Kolom Nisa Alwis: DARI MASJID

0
369

Sangat terkesan melihat geliat takmir masjid yang saya temukan di sebuah sudut kota Bandung. Tepatnya, di jl. Setiabudi, sisi terminal Ledeng. Turunlah anda menapak di beberapa anak tangga yang dibuat artistik. Ada masjid putih di tengah pemukiman, masjid Nurul Huda (cahaya petunjuk) namanya.

Ruang kantor mungil dilengkapi wi-fi. Ada dispenser air panas dan tersedia pula teh gula dan kopi. Di dinding nampak sebuah sketsa rencana sang ketua DKM membuat karya lukis raksasa di pelataran jalan Asia Afrika. Lalu di sisinya ada oretan orientasi masjid sebagai center of excellence. Pusat kegiatan warga, yang tak hanya concern sebagai area ibadah, tapi juga wadah penyemai gairah bagi moralitas dan spiritualitas yang dahaga akan kearifan beragama dan berbudaya.




Sedikit lagi anda menyusuri gang. Bila kebetulan berpapasan dengan warga, anda kan mendapat tegur sapa hangat khas urang Sunda. Sampailah anda ke area tanah berkontur namun lapang, dikelilingin pepohonan rindang menjulang. Area ini laksana paru-paru di lingkungan yang banyak tersedia kosan mahasiswa.

Sebuah saung perpustakaan mungil terbuka di sisi utara. Tempat ini dinamai CCL (celah-celah lagit) yang komandonya juga aktifis masjid, seniman kawakan, kang Iman Soleh. Saban dua kali sepekan, anak-anak kecil dan remaja berlatih silat di sana. Di tempat itu pula, tak terbilang berapa banyak pementasan seni dan dialog budaya digelar. Dihadiri warga erte hingga tamu-tamu tokoh nasional.

Dari masjid, tersiar semangat hidup yang arif dan kreatif. Di tangan orang-orang bervisi luas, berjiwa seni, berempati tinggi, masjid menjelma bagai peneduh sukma bagi siapa saja yang berlindung di sana. Oh iya, kemarin ada diskusi tentang “aksara”. Bagaimana asal muasal huruf yang kini digunakan manusia di Timur dan Barat, dari suatu kebudayaam kuno Funisia. Lalu, pergerakan manusia yang meluas, membuat peradaban berkembang saling mempengaruhi, saling mewarnai, hingga sekarang tiba di masa kita.

Saat saya duduk di sisi warung dekat tangga, terbayang oleh saya suasana indah di sudut kota Santorini Yunani, atau kawasan Sfax di Tunisia. Ada lantai paving block yang dicat warna warni membuat ceria, ada sudut-sudut kecil yang apik ditata jadi taman bunga, berkat partisipasi warga sekitarnya. Ooh iya, tambahan. wifi itu gratis bagi jamaah juga. Jika membutuhkan tinggal hubungi tamir masjid saja. Asiknyaaa, gratis selamanya. Ada pula selembar kaligrafi bagus sekali. Bila orang tak tahu bisa jadi disangka doa. Padahal itu hanya hiasan huruf saja, bunyinya “tahu bulat digoreng dadakan lima ratusan”.

Salam hangat
Salam hormat,
Ketua DKM dan maestro, Tisna Sanjaya dan Ahmad Nurcholis








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.