Rubrik Berpikir Gila: KOPDAR MALAM JUM’AT

0
428

Oleh: Rio Susanto

 

Berbagi Cerita – Kampung Anjah, Lombok Utara. (Foto Koleksiku)

Diskusi kemarin malam [Kamis 4/1] dibimbing oleh Bpk. A Bintoro Bodot Ponconugroho dengan tema Sosial-Politik-Budaya & Agama. Semua dibahas dengan “Berpikir Gila” dan begitu lugas oleh beliau, maka terang benderanglah area tempat diskusi kita tadi malam.

Semua yang dibahas sangatlah menarik. Dari sosial-politik-budaya dan Agama. Dan saya sangat tertarik dan antusias ketika beliau membahas soal Agama dan Budaya bangsa kita. Beliau bertutur, jadilah kalian sebagai diri sendiri.

“Jangan pernah menipu diri sendiri, karena menipu diri sendiri sama saja menipu manusia lainya. Tetaplah menjadi orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang hanya numpang hidup di Indonesia,” kurang lebih seperti itu bahasa yang saya tangkap dari beliau.







Sesampainya di rumah, saya coba memahaminya dan renungkan. Lalu, saya teringat ucapan dari guru saya KH Ahmad Muwafiq.

Majulah bersama Qur’an dan Hadist

Arabisasi membabibuta dan pemaksaan pengamalan keagamaan secara skriptural dengan label Islamisasi, kembali pada Quran dan Hadits adalah agenda terselubung untuk menjauhkan kita dari kebudayaan Nusantara dan jati diri bangsa Indonesia.

Entah mengapa kita kok disuruh kembali kepada Quran dan Hadits, padahal kita tidak pernah pergi ke mana-mana, kita masih seperti yang dulu…..

Kopdar Malam Jumat [Kamis 4/1] dari members grup facebook BERPIKIR GILA.

Sangat mungkin ini adalah bagian dari perang ekonomi dan skenario asing untuk menguasai kekayaan melimpah negara kita yang luarbiasa. Karena, jika kita sudah jauh dari budaya, akarnya sudah tercabut maka kecintaan kita pada bangsa dan negara akan pupus. Di situlah mereka akan menyetir kita, kalau perlu dijadikan seperti Suriah, Iraq, Afghanistan, Libya dan sebagainya yang sekarang kekayaan alamnya dikuras oleh mereka.

Tetaplah menjadi orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang hanya numpang hidup di Indonesia. Tidak perlu inferior menjadi bangsa Indonesia. Karena, ketika Islam datang, nenek moyang kita sudah memiliki peradaban yang jauh lebih tinggi daripada peradaban bangsa Arab yang jahiliyah.

Bagaimana kita mau dipaksa memahami doktrin agama secara tekstual wong dari segi bahasa saja kita lebih kaya makna. Contohnya, bahasa arabnya cuma ar ruz, tapi bagi kita istilahnya jadi bermacam-macam: Ketika di sawah, namanya par/padi. Di sana masih ruz, begitu padi dipanen, namanya ulen-ulen/ulenan, di sana masih ruz.




Begitu ditutu, ditumbuk, digiling, mereka masih memahami ruz, padahal di sini sudah dinamai gabah. Begitu dibuka, di sini namanya beras, di sana masih ruz. Ketika berasnya cuil, di sini namanya menir, di sana masih ruz. Begitu dimasak, di sini sudah dinamai sego/ nasi, di sana masih ruz.

Begitu diambil cicak satu, di sini namanya upa, di sana namanya masih ruz. Begitu dibungkus daun pisang, di sini namanya lontong, sana masih ruz. Begitu dibungkus janur kuning namanya ketupat, di sana masih ruz. Ketika diaduk dan hancur, lembut, di sini namanya bubur, di sana namanya masih ruz.

Jadi, ber-Islam itu jangan kaku, sedikit-sedikit haram, bid’ah, kafir, musyrik, fasiq, murtad dan sebangsanya. Jika ada orang yang disebut sebagai ustadz tapi dakwahnya masih seperti itu, maka sebenarnya dia bukan ulama tapi cuma pembaca kitab.


Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.