ANDREAS GINTING. BIRU-BIRU. Gua adalah salah satu destinasi wisata yang disukai para pecinta alam dan petualang untuk explotasi atau liburan. Biasanya dilakukan oleh anak-anak muda. Di pihak, kolam renang biasanya dijadikan lokasi liburan oleh para pehobi renang dan biasanya dilakukan oleh orang-orang yang tinggal di perkotaan. Tapi, ada juga kolam renang air panas alam menjadi liburan yang menarik bagi banyak orang.

Bagaimana bila gua dan kolam renang alami itu ada di dalam sebuah lokasi yang sama? Tentu luar biasa mantap. Kondisi seperti itu bisa kita temukan di Desa Peria-ria, Penen (Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deliserdang).







Penduduk sekitar daerah ini kebanyakan adalah Suku Karo dan memang sedari dulu adalah bagian Taneh Karo meskipun di Jaman Kolonial dimasukkan sebagai wilayah Kesultanan Deli.

Mulut goa

Di Penen memang terdapat kolam air panas di tengah kampung dan sudah dijadikan tempat wisata (Walaupun masih terbatas wisatawan lokal). Selain itu, menurut Fernando Bukit, salah seorang pemuda setempat, selain sumber air panas, di daerah ini juga terdapat beberapa gua. Ada yang sudah dikelola dengan baik oleh swasta dan ada yang belum disentuh.

Ada 2 goa yang sudah dipermak baik oleh pihak swasta terletak di Dusun Peria-ria. Begitu kita masuk ke lokasi tersebut, kita dikutip biaya Rp 5 ribu/ orang. Begitu masuk sebelah kanan jalan, kita akan menemui goa yang dikelilingi oleh pohon-pohon besar di sisi atasnya dan bagian dalam goa dipenuhi stalagnit yang selalu meneteskan air.

Tepat di bawah goa ada kolam alami yang sudah dipermak sedikit dengar air warna putih dan terasa hangat mungkin sekitar 10ºC. Di sebelah kanan goa besar ini ada goa lain dengan diameter lubang sekitar 3 meter. Di bawahnya ada air, tapi tidak hangat seperti goa di sampingnya.




Menurut Fernando Bukit lagi kepada Sora Sirulo, dulu mereka sering masuk ke dalam goa untuk mengambil lingkaber (kelelawar). Keluar dari lokasi sekitar 100 meter ke arah hulu, kita menemui goa lain namun berbeda dari goa sebelumnya. Goa itu dari atas kelihatan seperti 2 lobang besar.

Pengunjung dapat masuk ke dalam melalui jalan seperti terowongan. Dalam perjalanan kita akan melihat beberapa stalagnin. Di sisi kiri ada kolam renang air panas yang sangat mantap untuk dinikmati. Di bawah stalagnin sudah dibuat sedemikian rupa menjadi meja dan kursi.

Dari dalam goa kita terus berjalan dan menemui anak tangga. Tangga ini menuju lubang ke dua. Namun, di lubang ke dua ini, dalam pembuatan kolam belum selesai. Di antara lubang pertama dan lubang ke dua di dalam gua di bawah stalagnit yang meneteskan air terdapat pancuran air hangat yang digunakan pelancong untuk mandi begitu selesai berenang dari kolam.

Perbedaannya dengan Lau Debuk-debuk di Dataran Tinggi Karo (kaki Gunung Sibayak) adalah, di kolam goa ini, badan kita tidak bau belerang usai mandi, sedangkan di Lau Debuk-debuk bisa seharian badan kita berbau belerang. Selain itu, keluar dari kolam air panas, kita tidka langsung keinginan sperti halnya di Lau Debuk-debuk yang udaranya memang dingin karena terletak di Dataran Tinggi.

Desa Penen terletak di Karo Hilir (Karo Jahe) (Kecamatan Biru-biru, Kabupaten Deliserdang). Dapat ditempuh selama sekitar 1,5 jam perjalanan dari Medan dengan kecepatam 40 Km/ jam. Kondisi jalan sangat mulus, namun agak sepit. Spanjang perjalanan akan kita lalui suasana pegungan yang sejuk dan asri, tapi tidak sedingin Dataran Tinggi Karo (Karo Gugung).







Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.