Orang hampir selalu sampai pada keyakinan mereka bukan atas dasar bukti tapi berdasarkan apa yang mereka anggap menarik (Blaise Pascal, dalam De l’art de persuader).

Bukti memang sedikit ‘menyebalkan’ bagi mereka yang sudah terbiasa bermain dalam ilusi pikiran yang didesain secara massive oleh otoritas.

Tidak heran jika orang-orang membenci sesuatu hanya berangkat dari ‘trend’ atau katanya kitab suci, atau katanya orang-orang yang dicap memiliki kemampuan yang supranatural (dukun). Padahal, faktanya justru berbicara terbalik. Misalkan orang lebih percaya apa katanya ASU dari apa yang sudah terbukti dikerjakan oleh Jokowi, AHOK, Jarot.

Hal ini terjadi karena sentimen buta, yang membuang nalar lalu mengaktifkan iman yang memang buta. Apa yang kita dapat dari sikap mental demikian? Tidak lain hanyalah kerusakan di mana-mana dan itu terbukti.







Orang hanya karena kesamaan iman lalu bersikap bodoh dengan sembrono meminum kencing onta yang dicapnya sebagai sesuatu yang berkhasiat bisa menyembuhkan penyakit. Sementara jika bicara bukti bahwa di mana-mana yang namanya air kencing adalah sumber penyakit yang dibuang oleh tubuh kita secara natural. Kamu berani minum air kencing onta, sementara tidak berani minum air kencingmu sendiri.

Inilah kebodohan yang maha kuasa dan jangan mau dibohongi hanya karena iman, belajarnya menghargai fakta apa adanya.

Memang menjadi manusia waras itu butuh kerja keras. Otak harus diisi dengan pengetahuan terbuka. Karena pengetahuan memang selalu berkembang lewat fakta-fakta baru, sementara Iman dari sononya memang Ignorant, idiot, jumut, lagi berkarat. Tidak ada yang baru dalam iman. Bahkan, kalau iman di up grade, bisa rontok semua dogma yang memang menjadi sumbernya.

Lalu, apakah anda tidak boleh beriman? Tentu saja boleh. Dalam negara hukum yang sehat, rasional dan waras selalu menyediakan ruang yang sangat luas bagi iman untuk tetap hidup, tapi tidak dalam ruang-ruang publik yang rasional, melainkan dalam ruang-ruang private masing-masing manusia.

Mengapa? Karena hidup memang misteri. Kita benar-benar belum memiliki pengetahuan yang utuh atas apa yang terjadi dialam semesta, termasuk apa yang terjadi dengan manusia yang otaknya begitu kompleks, weird dan unik.

Makanya perlu dipisahkan, mana wilayah Imaginasi dan mana wilayah reality, jika pemisahan ini bisa di pahami dengan pengetahuan dan kesadaran yang maksimum, maka kita akan sedikit dipermudah dalam ruang-ruang interaksi sosial.

Namun jika pemahaman tersebut masih “blur”, maka yang kita nikmati adalah salah paham permanent, karena yang beredar dalam ruang kesadaran umum bukanlah pengetahuan, tapi “keyakinan” yang basisnya bukan pada pengetahuan ilmiah, tapi pada Iman.

Inilah pekerjaan besar dari mereka yang pengetahuannya terus mengembang, mencoba terus menerus memberikan pengertian lewat bahasa-bahasa umum yang mudah di pahami dan tidak perlu allergy dengan berbagai macam penolakan, atau sikap kritis; karena sejatinya idea memang hanya layak disebut idea jika dia sukses melewati proses verifikasi yang ketat, faktual dan logis.

Bepijaklah pada data, fakta, dan argument yang logis, karena kebenaran hanya muncul lewat pembuktian, bukan lewat keimanan.

Yang paling membingungkan yang akan Anda dapatkan adalah ketika Anda mencoba meyakinkan hati dan jiwa Anda dari sesuatu yang diketahui oleh pikiran Anda adalah sebuah kebohongan, begitu kata Shannon L. Alder.

#Itusaja!








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.