Pergerakan partai pengusung pemenang di Pilkada DKI memang betul-betul ingin menguasai Indonesia. Betul-betul atraktif dan lebih ngeyel untuk mendapatkan kandidat yang mumpuni, yang dikalkulasi dan sangat diharapkan menjadi pemenang.

Setelah ndusel-ndusel ingin meminang Mbak Yenny namun ditolak, ketiga partai itu rupanya masih belum patah arang. Mereka pikir orang-orang Jatim adalah manusia-manusia seperti halnya yang sekarang menjadi penguasa DKI. Namun, mereka merusak tatanan, menggadaikan marwah Agama, mempecundangi kehormatan dan harga diri demi syahwat kekuasaan.







Pilihan selanjutnya adalah Pak Mahfud. Apakah Pak Mahfud lalu seperti Anis yang nggah nggih? Yang manthuk-manthuk disodori untuk menjadi kacung? Lagi-lagi harus kecele. Lagi-lagi harus kuciwa sekali. Pak Mahfud ternyata menolak mentah-mentah.

Meski secara eksplisit Pak Mahfud MD tidak mengatakan siapa peminang 3 partai yang menginginkan beliau agar maju di Pilkada Jatim, namun siapapun bisa dan gampang menebak ketiga partai itu ditengarai yang mau mengusung Mbak Yenny.




Ya, Mbak Yenny dan Pak Mahfud seakan mewakili pikiran dan hati masyarakat Jatim yang meski agak kosro dalam berbicara, namun secara umum, erema religius serta mempunyai cara pandang/ wawasan berbangsa dan bernegara lebih baik. Buktinya, Surabaya sebagai kota yang toleransinya menduduki ranking teratas. Buktinya lagi, ketika Bulan Puasa, ketika di kota-kota lain rumah makan disweeping, Kota Surabaya adhem ayem.

“Iki Jawa Timur, lho cuuk,” itu kata temen ketika ngobrol soal gagalnya ketiga partai yang membuat hingar bingar di Pilkada DKI.

Tiba-tiba temen tersebut mendekat. Seperti tidak ingin didengar orang, dia berbisik: “Kenapa tidak kadernya si Fadli Zonk yang dicalonkan, ya?”

Ngoahahaha… Kami tertawa bareng.



Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.