Apakah sekedar manuver atau bagaimana, kita belum tahu pastinya. Tadi malam muncul 2 berita yang membuat kita terpana menatap “papan catur”. Sebuah media memberitakan bahwa PDIP sudah hampir final mengusulkan pasangan Djarot dan Sihar Sitorus. Lebih mengejutkan lagi, Tribun Medan memberitakan Tengku Eri berpasangan dengan Sihar Sitorus akan diusung oleh Partai Demokrat menggantikan pasangan JR Seragih dan Ecan Selian.

Meski mengejutkan, kalau memang itu yang akan terjadi, bukanlah sesuatu yang tidak mungkin bila Tengku Eri tiba-tiba muncul lagi ke permukaan menggantikan JR Seragih. Pertama-tama, kemampuan Sihar Sitorus mengganti semua kerugian JR Seragih sangat tidak perlu diragukan. Ke dua, para pengamat dan pengatur strategi di Partai Demokrat bisa menilai bahwa kans JR Seragih tidak besar sejak muncul Djarot dalam bursa Calon Gubernur Sumut ini. Apalagi kalau betul-betul Ngogesa Sitepu yang mendampingi Djarot. Pemilih JR Seragih akan pindah ke Djarot atau setidaknya menjadi terpecah.







Mengapa kalau Ngogesa Sitepu kans JR Seragih semakin tipis?

Wilayah harapan dukungan JR sangat terbatas di kalangan Suku Simalungun dan Suku Karo sehubungan dengan ayahnya Simalungun dan ibunya serta istrinya Karo. Di lain pihak, Ngogesa adalah dari Suku Karo dengan istri yang Jawa. Walaupun JR Seragih adalah Kristen dan ayah mertuanya adalah pengetua di gereja terbesar Karo (GBKP), sebagaimana saya katakan sebelumnya, sejarah sudah mengajari kita kalau orang-orang Karo sama sekali tidak memilih agama. Terlebih pula, di sini pula keistimewaan Ngogesa, dari dulu “tangan kanannya” adalah seorang Kristen dan meupakan tokoh penting di gereja Karo yang terbesar ini. Lewat tangan kanannya ini, Ngogesa sering sekali memberi bantuan ke GBKP untuk mengadakan acara-acara besar.

Istri Ngogesa yang orang Jawa membuatnya sangat berpengaruh di kalangan Suku Jawa. Kabupaten Langkat dan Kabupaten Simalungun sebagian daerahnya adalah perkebunan sejak Jaman Kolonial sehingga, karena itu, di sanalah kantong-kantong Suku Jawa yang dulunya didatangkan oleh Belanda dari Jawa Timur. Istrinya yang Jawa dan diapun beragama Islam pula menambah kedekatan Ngogesa dengan orang-orang Jawa di Langkat. Apalagi pergaulan Suku Jawa dan Suku Karo terkenal sangat hamornis sehingga ada istilah Karoja (singkatan Karo Jawa). Ngogesa juga cukup populer di kalangan orang-orang Melayu di Langkat yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan.

Perbedaan lain dari keduanya adalah partainya. Meski mereka sama-sama Ketua DPD dari partai masing-masing, partainya JR Seragih (Partai Demokrat) termasuk masih muda dan popularitas partai inipun mengikuti naik turunnya popularitas si pemilik partai (SBY). Lain halnya dengan partainya Ngogesa yang merupakan sebuah partai tua. Sejak rezim Suharto hingga sekarang merupakan salah satu partai terbesar di Indonesia. Dengan begitu, pengurus dan pengikutnya lumayan kuat di mana-mana. Apalagi Ketua Umum GOLKAR yang baru telah menyerukan agar semua Cagub maupun Cawagub dari Partai GOLKAR mendukung Jokowi untuk 2 periode.

Itu kira-kira pehitungan kita bila Ngogesa atau putrinya yang mendampingi Djarot. Tapi, bagaimana dengan berita bahwa Sihar Sitorus hampir final mendampingi Djarot?

Sejak awal pun saya mengusulkan agar yang mendampingi Djarot sebaiknya seorang Kristen dari Suku Batak karena tanpa Karo, Pakpak, Simalungun dan Mandailing pun Suku Batak itu sangat besar jumlahnya. Hanya saja, orangnya bukan Sihar Sitorus yang merupakan putra dari Alm. D.L. Sitorus. Ini membuat banyak orang Batak sendiri mengelak untuk memilihnya, apalagi yang non Batak. Cocoknya memang Maruar Sirait. Tapi, masalahnya, apakah Maruar Sirait mampu menjadi penopang dana kampanye sebagaimana bisa diharapkan dari Sihar Sitorus atau Ngogesa Sitepu?

Lagipula, Maruar Sirait adalah dari PDIP juga, berarti tidak akan ada penambahan jumlah dukungan kursi di DPRDSU agar PDIP bisa mengusung sepasang calon. Bagaimana dengan Sihar Sitorus?




Apakah dia akan memberi tambahan kursi dukungan ke Djarot untuk bisa lolos menjadi Calon Gubernur? Boleh saja dia “membeli” dukungan partai dengan uangnya, tapi masa lalu ayahnya akan tetap mencederai image tentang Djarot yang bersih dari nafsu terhadap uang.

Walaupun aspek yang kita perhitungkan sudah cukup luas, tapi bagi PDIP sendiri belumlah cukup luas untuk menentukan siapa yang mendampingi Djarot. Saya juga tidak mengetahui nama-nama lain selain yang telah mencuat ke permukaan lewat media. Tapi, bila nama-nama yang menjadi pertimbangan adalah yang sudah kita sebut, maka sebaiknya, menurut pertimbangan saya, Ngogesa Sitepu atau putrinya yang mendampingi Djarot. Dengan begitu, saya yakin PDIP akan memenangkan pertarungan ini.

SELESAI


Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.