Seorang teman membawa kabar itu beberapa hari lalu.

“Mas, ada isu Ahok dan Bu Vero akan bercerai,” tulisnya. Saya cuma terdiam. Lalu, saya bertanya dari mana sumbernya.

 

Kini berita itu benar muncul di media. Meski kebenarannya harus di cek sekali lagi. Tapi, saya bertanya pada diri sendiri, selama ini, sebagai apa saya mengapresiasi Ahok? Apakah sebagai personal atau sebagai pejabat publik? Apakah sebagai seorang suami atau sebagai politisi?

Saya mengapresiasi Ahok sebagai seorang politisi dan pejabat publik. Sebab perilakunya ketika memegang jabatan itu patut diapresiasi. Jadi, jika ada sesuatu terjadi dalam kehidupan pribadinya, bagi saya biasa saja. Tidak akan menghilangkan nilai Ahok di mata saya.

Sama seperti ketika sebagai bangsa kita mengapresiasi Soekarno sebagai bapak bangsa ini. Kita tahu Presiden pertama RI itu pernah bercerai. Menikah lebih dari satu kali. Toh, kita tetap menempatkannya dalam titik penting sejarah bangsa.




Sebab, dalam diri seorang besar seringkali ada jarak antara kehidupan pribadinya dengan kehidupan sosialnya. Sama seperti rakyat Afrika Selatan yang tidak kehilangan rasa terimakasih pada Nelson Mandela, meski dia juga pernah bercerai. Atau rakyat India menghormati Gandhi, walau kehidupan rumah tangga Gandhi tidak mulus.

Kita disentuh oleh mereka dalam kehidupan sosialnya. Sementara dalam ranah pribadinya, dia menjalankan kehidupannya sendieri. Jadi, buat apa saya pusing dengan berita perceraian Ahok dan Bu Vero?

Akan aneh jika orang yang meributkan isu perceraian Ahok ini justru mereka yang selama ini mengidolakan Prabowo. Bagaimana mungkin mereka menjunjung Prabowo sedemikian rupa, sekaligus meributkan isu kehidupan rumah tangga Ahok? Ini seperti kata pepatah, gajah eek di hidungnya tidak terasa tapi tahi lalat di seberang comberan jelas terlihat.

Jadi, begitulah saya menempatkan diri dalam isu perceraian Ahok. Soal urusan rumah tangganya, bukan menjadi domain perhatian saya. Dan tidak ada gunanya saya mengorek-ngorek isu soal rumah tangga Ahok. Sama seperti pendukung Prabowo yang malas jika harus berbicara soal rumah tangga idolanya.

Jadi, jika berita perceraian Ahok itu benar, saya mungkin sedikit kaget. Tapi tetap tidak melunturkan apresiasi saya pada Ahok. Saya menilai caranya bertindak ketika memegang jabatan. Ketika dia menjalankan amanah yang disandangnya sebagai politisi dan pejabat publik.

Soal rumah tangga tentu saja punya lika-liku sendiri. Ada yang mampu mempertahankannya. Ada yang akhirnya memilih untuk berpisah. Tapi cerai atau tidaknya seorang Ahok tidak ada hubungannya dengan kepentingan publik. Tidak ada dampaknya untuk rakyat banyak.

Mungkin saja, jika berita itu benar akan ada perdebatan di kalangan penganut Kristiani soal makna sebuah perceraian. Tapi dalam kacamata hukum formal, hal tersebut bisa saja dijalankan. Namun itu menyangkut masalah private. Sekali lagi tidak ada hubungan langsung dengan kepentingan masyarakat. Saya sendiri merasa tidak berkepentingan untuk masuk ke ranah itu.




Saya rasa kita pelan-pelan harus belajar memisahkan persoalan personal dan sosial. Apalagi dalam menilai seorang tokoh publik. Tentu saja selama mereka bukan ulama atau penceramah agama.

Sebab bagi seorang ulama atau pendeta perilaku personalnya sekaligus adalah gambaran makna ajaran yang dibawanya. Jadi sebagai umat yang sering mendapat nasihat moral dari mereka, kita penting juga menilai perilaku personalnya.

Sementara bagi seorang politisi atau pejabat publik yang kita perhatikan adalah perilaku jabatannya. Bagaimana dia menjalankan amanah, bagaimana dia bekerja dan fikiran-fikiran apa yang disampaikan ke publik. Sekali lagi, soal kehidupan pribadinya itu ranah yang bukan wilayah kita memasukinya.

Kita hanya sanggup berdoa dan berharap. Semoga yang terbaik untuk Ahok dan Bu Vero. Hidup memang penuh lika-likunya sendiri.

“Mas, kalau Raisa dan Hamish Daud, belum ada kabar, ya?” tanya Bambang Kusnadi.










Leave a Reply