Ketika dulu kawin, banyak temen yang menyelipkan ucapan di selembar kertas pada kado perkawinan. Semua rata-rata hanya mengucapkan: “Selamat menempuh hidup baru.” Namun, saat itu ada ucapan lain dari yang lain. Berupa pesan “menakutkan” sehingga pesan itu masih saya ingat hingga saat ini. Bunyinya begini: “Selamat menempuh Perjalanan Panjang di samudra luas dengan bahtera baru.”

Karena ucapan ini dari seorang temen karib, yang pernah runtang-runtung seperti orang gendeng menelusuri tempat-tempat ekstrim hanya mencari ilham untuk sebuah lukisan, tentu ucapan atau pesan itu selalu kuingat.







Perjalanan panjang dalam berkeluarga memang seperti biduk, seperti perahu atau seperti bahtera yang berlayar di samudra luas. Samudra yang tidak selamanya indah dengan angin semilir serta kicauan burung camar. Yang airnya tenang hingga ikan kecil ikut menari-nari.

Namun, bahtera keluarga seringkali harus menempuh badai. Menerjang ombak. Hantaman angin dari kiri dan kanan. Menyelamatkan semua isi pada biduk itu memang butuh kekompakan. Butuh saling mengisi. Butuh saling melengkapi agar kita bisa selamat di pantai yang kita inginkan.




Jika saat ini ada bahtera keluarga Ahok yang dikabarkan ada goncangan, dan ternyata itu hoax, bohong dan fitnah, sejatinya semua orang akan mengalaminya.

Banyak faktor bahtera itu tidak sampai di hamparan pasir putih dengan kembang warna warni.

Ada yang meski bahtera itu kokoh, namun karena terpaan badai terlalu kuat, bahtera itu terguling. Ada yang memang bahtera itu dari sononya rapuh sehingga, meski tidak ada angin dan badai, bahtera itu bocor dan karam ke dasar laut.

Hidup memang musti selalu waspada. Saling mengingatkan. Ada hal yang lebih penting dari Ego dan Emosi. Apakah itu? Menyelamatkan anak-anak. Anak-anak kita yang tentu menginginkan keutuhan keluarga.

Anak-anak. Ya, mereka adalah penyemangat agar bahtera tetap kokoh berlayar di samudra.


1 COMMENT

Leave a Reply