Jujur tentu kita sungguh terkejut ketika seorang Gubenur DKI Jakarta mempunyai ide mau membecakkan kembali Jakarta. Tiba-tiba bangsa ini seperti bangsa idiot yang memang susah untuk mikir. Bayangkan, ibukota metropolitan, sebagai etalase dari negeri ini harus melihat dan dibawa ke situasi dimana transportasi yang menggunakan otot dan cucuran peluh.

Begitu kontradiktif dengan lalu lalangnya mobil-mobil yang berseliweran.

Yang jadi soal, ketika negara-negara lain berpikir agar ada Moda Transportasi yang modern, cepat, efisien, nyaman dan diharapkan bisa mengurangi kemacetan, kenapa manusia sontoloyo yang kebetulan terpilih jadi Gabener ujug-ujug seperti orang kesurupan ingin membecakkan Jakarta?




Ada beberapa analisa yang bisa jadi sebagai berikut:

1. Gabener Lagi Kebingungan
Kapasitas Gabener yang tadinya hanya sebagai rektor, namun karena ambisi yang tidak terkendali, ketika bergabung dengan Pak Jokowi, lalu ditunjuk jadi menteri. Faktanya tidak mempunyai kapasitas. Antara kinerja dan ucapan sering bertolak belakang. Bagaikan tukang obat palsu yang saat diminum malah mencret.

Nah, seperti halnya sekarang, ketika semua ekspektasi selalu dibanding-bandingkan dengan Ahok, maka tentu saja siapapun tidak akan mau. Sekalipun manusia idiot. Maka, saking bingungnya, bisa kita lihat bersama kebijakan-kebijakan 100 hari pertama.

2. Gabener Lagi Kalap
Kita semua sudah mengetahui bahwa saat ini Bappenas sedang menggodok dan mengkaji tentang pindahnya ibukota negara. Bahkan informasinya tahun ini pengumuman kota mana yang akan ditetapkan sebagai ibukota negara. Tentu membuat Gabener menjadi kalap.

Terbayang jika ibukota pindah, tentu harapan untuk mendapatkan pundi-pundi sesuram masa depan abang tukang beca mari-mari sini saya mau beli. Eh, salah. Abang tukang bakso, ya.

“Jika lebih praktis naik Gojek, untuk apa naik becak?”








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.