Baru saja duduk di warungnya Mbak Ngatemi, belum juga dibikinkan kopi kothok (kopi tubruk), bagaikan suara tawon sang pemilik warung kopi ini sudah seperti orang yang lagi kesambet.

“Itu Jakarta piye tow, Mas, Mas. Ibukota negara kita, lho. Masak ngisin-ngisini. Memalukan. Sangat tidak pantas sebagai ibukota negara menghidupkan kembali transportasi yang memakai dengkul. Coba perhatikan, ketika negara-negara lain membuat moda transportasi yang modern, yang canggih, yang lebih manusiawi dan mengurangi kesemrawutan, lho…. kok Gubernur baru malah mendatangkan becak. Berarti jakarta bukan lagi kota Metropolitan, tapi Begopolitan..”




” Apa, Mbak? Begopolitan?”

“Ya jelas tow, Mas. Jakarta sudah bagus saat ditata Ahok. Eehhh…. Dipimpin Gubernur baru kok malah amburadul semua. Kan ya begopolitan, tow?”

” Kan cuman becak thok tow, Mbak?”

“Becak thok apanya. KJP yang sangat membantu rakyat kecil beritanya tidak ada saldo. Alias kosong. OK OC Yang beritanya dulu dapat bantuan modal, nyatanya malah dikenakan bunga 13%. Kan ya itu namanya mencekik rakyat kecil. Itu membegoin rakyat namanya.”

“Ya udah. Yang bego biar bego. Kopinya mana?”

Klinting…. klinting …. Mbak Ngatemi ngadhuk kopi.

~dapat kata Baru dari dua orang. Dari Mas Tanto Lorenza dan Mbak Ngatemi. ~

~Jakarta kota Begopolitan ~








Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.