Kontroversi kebijakan Anies di etalase negeri ini memang betul-betul membuat gregetan yang berkepanjangan. Sepertinya ada kesengajaan untuk merusak DKI. Seolah sengaja ingin mbalelo terhadap Presiden untuk menunjukkan dirinya lebih hebat dan tidak patut dipecat sebagai mentrri.

Jika diurai, apakah kebijakan Anies orientasinya keberpihakan? Apakah hatinya, hidup matinya sudah diserahkan sepenuhnya untuk mengabdi pada Rakyat DKI? Atau itu semua hanya sebagai tumbal untuk melampiaskan nafsu birahinya sendiri?

Sejak awal, duo lucu ini bersuara soal keberpihakan namun, jika dicermati dan diamati, keberpihakan yang selalu digaung-gaungkan itu untuk siapa?




Sopir oplet demo karena penutupan di Tanah Abang adalah sebuah blunder. TUGP, team yang konon berjumalh 70 orang dan semua musti dibayar, ternyata berisi manusia-manusia yang hanya mau duit namun tidak mau mikir.

Saat Program Rumah DP 0% hingga Program OK OC, yg faktanya program tersebut bukan untuk membantu Rakyat DKI yang ekonominya lemah, namun justru membuat klenger karena terbukti sangat merugikan secara umum.

Bahkan kebijakan soal becak di DKI, kota megapolitan, kota yang diharapkan menjadi sample dan barometer saat jaman Ahok, sekarang bagaikan kota yang mundur dua ke abad silam, yang kumuh, semrawut dan sama sekali tidak nyaman. Ini wajar jika ada sebagian masyarakat menjuliki Jakarta Kota Begopolitan.

Kesimpulannya adalah, Anies yang dulu dianggap tokoh, dianggap pemikir, dianggap cendekiawan, ternyata untuk menjadi seorang pemimpin modalnya tidak hanya mikar mikir dan menata kata.

Jika Ahok berhasil mendapat pujian dan mendapat prestasi gemilang, dan terbukti berhasil menyabet empat prestasi sekaligus, apakah Anis dikemudian hari juga akan berprestasi?

“Saya rasa akan mendapat julukan The Man Of The Year diajak bicara dulu, dicatat, baru mikar mikir. Crazzy, bukan?”








Leave a Reply