Tersebutlah Gabener diundang pesta perkawinan. Karena keberpihakan, maka sebagai seorang Gabener datang bersama rombongan dengan jumlah besar. Apakah TUGP ikut? Ya jelas ikutlah. Kan lumajang, eeh …. lumayan dapat makan gratis sekaligus siapa tahu ada stasiun TV yang meliput.

Semua berbahagia. Rebana dipukul bertalu-talu mengikuti suara merdu penyanyi. Irama Padang Pasir membuat suasana jadi semarak. Wajah-wajah ceria dan bahagia tentu semakin melengkapi suasana pesta.




Diantara para tamu undangan yang hadir dengan baju bagus, di sudut dekat pagar ada lelaki tua yang berpakaian kusut. Wajahnya yang keriput seakan tidak berada di suasana pesta. Wajahnya begitu menyiratkan kecemasan.

Sebagai seorang Gabener yang tahu situasi, apalagi ada beberapa wartawan yang mengikuti, Gabener mendekati lelaki tua itu.

“Bapak kenapa? Apa yang membuat Bapak sepertinya bermuram durja? Bapak sakit? Bapak sudah makan?” seperti biasa Gabener berkata dengan manis.

Wartawan tentu saja mengabadikan momen ini. Lampu blitz berpijar dari semua arah.

Gabenerpun duduk di samping lelaki tua itu. Namun, lelaki tua nampaknya tidak peduli. Gabener makin penasaran.

“Bapak siapa? Apakah warga sini?”

“Saya dukun pawang hujan, Bapak.”

Rebana makin gegap gempita. Tak Tung tung. Tak tung tung.








Leave a Reply