Di akhir tahun 1980an, kira-kira, Presiden Suharto pernah berpidato mengatakan Indonesia adalah negara sekuler. Langsung saja kritikan muncul dari para politisi tertentu yang mengingatkan isi Pembukaan UUD 1945 menyatakan bahwa Kemerdekaan RI adalah atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Dan, Presiden Suharto pun mencabut ucapannya yang menggunakan istilah negara sekuler.

Tidak berapa lama setelah itu, Menteri Luar Negeri saat itu (Ali Alatas) berkunjung ke Belanda. Dalam sebuah acara di Universitas Leiden, Ali Alatas mendapat pertanyaan dari hadirin apakah Indonesia adalah negara religius atau negara sekuler. Ali Alatas mengatakan bahwa Indonesia adalah negara sekuler.

Ralat dari Suharto atas ucapannya Indonesia sebagai negara sekuler akhirnya meredam keributan di Dalam Negeri tanpa harus mengangkat senjata. Sedangkan pernyataan Ali Alatas di Universitas Leiden bahwa Indonesia adalah negara sekuler (meskipun Soeharto sudah mencabut pernyataannya) menenangkan banyak negara di dunia terutama negara-negara Barat yang rata-rata sekuler.




Namun, dengan cara seperti ini, terkesan main kucing-kucingan. Nampak pula bahwa Rezim Suharto terlalu takut terhadap desakan pihak Islam. Sejarah bangsa telah mencatat, hubungan antara Islam dengan Rezim Suharto sangat tidak baik. Puncaknya adalah Peristiwa Tanjung Priok (1984) yang melibatkna L.B Moerdani yang saat itu sebagai Panglima ABRI.

Peristiwa Tanjung Priok masih membekas tidak hanya di ingatan para korbannya, tapi juga telah mengubah komposisi struktur perpolitikan Indonesia, khususnya di dalam tubuh TNI. Kenyataan bahwa Moerdani beragama Khatolik membuat peristiwa itu jadi melebar ke persoalan lintas agama, tidak lagi sebatas antara kaum muslimin dengan pemerintah yang berkuasa saat itu. Tidak mengherankan bila lewat Mayjen [Purn.] Alamsyah Ratu Prawira Negara yang Menteri Agama RI mendesak Ibu Tien Suharto untuk mualaf masuk Islam yang sebelumnya adalah Khatolik.

Dari situ kita melihat bahwa kekuatan sosial politik Islam mampu menggoyah kemapanan Rezim Suharto. Kegagalan politik Islam menyetir Rezim Suharto sepertinya secara sengaja maupun tidak sengaja dipelesetkan sebagai “gara-gara L.B. Moerdani” yang Khatolik. Asumsi seperti ini semakin kuat ketika Prabowo masuk ke dalam lingkaran keluarga Soeharto yakni sebagai menantu dan menempatkan diri sebagai “pelindung mertua”. Makin melebarlah dualisme di tubuh TNI; satunya adalah kaderisasi L.B. Moerdani dan yang satunya lagi menjalin persahabatan dengan kelompok-kelompok Islam bahkan, konon, punya andil dalam merebaknya Ormas-ormas berjubah agama di Jakarta.

Keadaan menjadi lebih kompleks ketika persahabatan antara TNI dengan sipil di tubuh GOLKAR mulai pula merenggang dan di tubuh sipilnya tumbuh pula dualisme Aburizal Bakri versus Jusuf Kala. Sebagian dari TNI-Golkar merapat ke Jokowi seperti Wiranto dan Luhut Panjaitan.




Jokowi memanfaatkan kunjungannya ke Pakistan mengeluarkan jurus pamungkasnya yang dikenal dengan nama Sapu Jagad di komik-komik Indonesia seperti Jan Mintaraga, MAN, Teguh Santoso, Djair, dan Troy TS (Tarigan Sibero). Perlu dicatat sebelumnya bahwa Pakistan adalah secara resmi merupakan negara Islam dan pernah tukar-tukaran warga dengan India dalam permusuhan mereka antara Islam dengan Hindu.

Di depan parlemen Pakistan, Jokowi memaparkan jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Selanjutnya, Jokowi memaparkan bagaimana dukungan Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina dalam upaya menunjukkan solidaritas bangsa ini terdahap negara-negara Islam. Akan tetapi, katanya melanjutkan, Indonesia juga mengakui keberadaan agama-agama lain seperti Hindu, Budha, Protestan, Khatolik, dan lain-lainnya.

Indonesia is a pluralistic country,” imbuh Jokowi disambut tepukan meja yang riuh karena antusiasme dari para anggota parlemen Pakistan.

Jokowi tidak memilih satupun dari dikotomi negara sekuler – religius. Dia juga tidak menggunakan kata multikultur yang popularitasnya semakin merosot saat ini di Eropah atas peningkatan semangat nasionalisme yang menggebu-gebu. Orang-orang Eropah sadar kini bahwa konsep multikultur dipergunakan untuk memperkuat posisi perusahaan-perusahaan multinasional mendatangkan buruh murah dari luar negeri (awalnya dari Maroko dan Turki serta kini dari Eropah Timur) tanpa memperhitungkan posisi warga setempat alias minus nasionalisme.

Hampir semua istilah adalah jebakan yang bisa menjerat Jokowi maupun bangsa Indonesia untuk terkapar dan kemudian dicabik-cabik oleh lawan politik Jokowi yang konon hendak menjadikan Indonesia sebagai negara Islam atau setidaknya menjadikan kaum muslim sebagai warga negara kelas satu di Indonesia (karena selebihnya adalah kafir).

Dengan istilah pluralistic country, Jokowi berhasil meningkah ranjau-ranjau yang ditanam di akar rumput sambil menggelapi mata-mata yang mengintip untuk melancarkan serangan di kala dia lengah. Diskusi mengenai pluralistic country boleh segera dimulai dan itu akan meningkatkan pamor Jokowi menuju 2019 serta meramaikan timnya untuk Pilkada serentak 2018 dan Pemilu Legislatif setelahnya. Berbeda dengan bila saja dia menggunakan istilah negara Pancasila, or Pancasila state, ratusan senjata lama akan langsung beterbangan ke arahnya. Walau tak satupun akan melukai tubuh Jokowi, tapi pamornya akan sedikit menurun. Dan, memang itu yang selalu diupayakan para lawan-lawannya, apalagi bila ada peluang membuat fitnah seperti PKI, anti Islam, dan lain sebagainya.

Ini adalah tonggak sejarah, dengan pidato Jokowi di podium utama National Assembly of Pakistan di Islamabad.




“Saya mengingat pendahulu saya, Presiden Soekarno, yang 55 tahun silam berdiri di tempat yang sama untuk berbicara di depan Parlemen Pakistan. Di sini, pada 26 Juni 1963, Presiden Soekarno menggelorakan semangat melawan kolonialisme dan menggugah semangat kerja sama negara-negara yang baru merdeka,” kata Jokowi.

Sebagian netizen meneteskan air mata haru dan bangga bersamaan dengan citra Indonesia kembali melambung tinggi di dunia persilatan. Hal yang sama saya katakan pada Perayaan 100 Tahun Soekarno di Amsterdam pada tahun 2001 di hadapan orang-orang Indonesia yang tinggal di Belanda.

“Suku Karo mencintai Soekarno bukan karena alasan ekonomi. Suku Karo sudah sejak Pre Kolonial selalu yang terkaya di antara suku-suku di sekitarnya hingga saat ini. Tapi adalah karena harkat dan martabat mereka serasa diperjuangkan oleh Soekarno mereka mencintai Soekarno hingga sekarang. Soekarno menjadi perpanjangan lidah mereka dalam menghadapi dunia tiada batas ini. Oleh karena itu, ini adalah suara dari balik Gunung Sibayak, bawalah Suku Karo mengharungi dunia luas maka mereka akan mencintaimu. Bila ada pemimpin yang membawa mereka ke dunia picik dengan janji-janji muluk menjadi lebih kaya, lupakan Suku Karo,” demikianlah kira-kira penutup ceramahku saat itu.

Mejuah-juah dan pekik MERDEKA !!!!










Leave a Reply