Ada anekdot di kalangan dosen berbunyi, “Jangan takut kepada mahasiswa memiliki IPK 3,5 ke atas karena mereka itu akan jadi teman kita sebagai dosen atau peneliti, dan bersahabat lah dengan mahasiswa memiliki IPK 2,5 sampai 3,4 karena mereka itu akan menjadi pengusaha atau kaum profesional yang akan kita butuhkan sebagai mitra. Hati-hatilah kepada mahasiswa IPK nya 2,5 ke bawah karena mereka itu bakal jadi politisi dan suatu saat jadi eksekutif atau legeslatif.”

Ironi memang, dalam alam demokratisasi saat ini masih banyak pandangan sinis terhadap eksistensi politisi. Profesi ini sering dianggap sarat permainan kotor, menghalalkan segala cara, sehingga julukan burukpun sering dilekatkan kepada para politisi.




Seburuk itukah sepak terjang para politisi di benak masyarakat dewasa ini?

Memang tidak dapat dipungkiri selama ini banyak politisi mengecewakan masyarakat, terutama karena berita buruk banyaknya para politisi terjerat kasus korupsi. Para politisi juga sering dipandang hanya manis di bibir atau suka menabur janji tetapi tidak dipenuhi.

Janji muluk politisi dalam Pilkada, misalnya, sering dianekdotkan dengan menyebut ada perbedaan antara PILKADA dengan PIL KB. Dalam Pilkada, jika seseorang jadi (terpilih) ia akan lupa dengan janjinya, sebaliknya PIL KB jika lupa memakannya maka akan jadi (Hamil).

Soal janji muluk kampanye juga ada anekdot. Konon, seorang calon DPR kampanye berorasi penuh semangat berujar: “Saudara-saudari pilihlah saya karena jika saya terpilih akan saya bangun jembatan di daerah ini.” Di tengah orasi belum selesai itu, seseorang menyela dan berkata: “Maaf Pak, di sini tidak ada sungai!!!” Mendengar itu, untuk menutup rasa malu dan kesalahannya, sang politisi berkata: “Tenang.. tenang…. Sungainya juga akan saya bangun.”

Bener banyak kesan, dan berita buruk tentang peran politisi, namun bukan berarti bisa digeneralisasi semua politisi itu jelek, dan dunia politik tidak bisa diabaikan begitu saja.
Peran politisi sangat penting sebagai instrumen sistem demokrasi, mereka memiliki tugas mulia dalam tata kelola kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jika kwalitas atau performance para politisi saat ini banyak mengecewakan, hal itu perlu dilihat karena banyak faktor, situasi dan kondisi.

Era Reformasi saat ini memang zaman paling terbuka kesempatan berkiprah sebagai politisi, dan banyak muncul politisi dadakan yang tidak jelas idealisme maupun idiologinya. Pemilihan langsung sebagai anak kandung demokrasi moderen saat ini memang tidak ubahnya bagai pasar bebas, terjadi transaksi bebas penawaran dan permintaan sehingga siapapun bisa muncul dan terpilih.

Bukan hanya politisi yang muncul dari berbagai kalangan, partai politik juga banyak muncul tanpa idiologi jelas, bahkan partai politik terkesan hanya sekedar perahu antar jemput penumpang. Sehingga sulit mengharapkan partai politik melakukan kaderisasi dan pendidikan politik bermuara kepada partai politik memiliki idealisme dan idiologi.

Proses rekrutmen dan kaderisasi tidak baik ini merupakan salah satu faktor penyebab buruk kualitas lembaga eksekutif maupun eksekutif sehingga kesan buruk juga melekat dalam diri para politisi.








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.