Ya, ALLOH Gusti, presiden melakukan amal baik yo masih tega- tegane difitnah dan dicela. Mosok sudah jelas-jelas ngimamin sholat, masih aja dikatakan sholatnya tidak sah, penutup rambutnya tidak syari, atau sang Ulama Afghanistan katanya gak terima dan minta di ulangi lagi. Lha seng sah iku seng kepiye he iwak gabus?? Opo yang celananya cingkrang?? Opo yang dahinya ada stempelnya?? Opo harus kumur dulu pake fifis unta?? Weleh, hobi nebar fitnah dan hoax ko dikatakan jihad?? Jihad makmu salto?

Presiden sholat masih dibilang salah, lah apalagi presidennya gak sholat. Wuiih tambah sorak-sorak gerombolanmu. Katamu presiden klemar-klemer, tapi setelah nerbitin UU Ormas ngente beri label presiden diktator. Katamu demokrasi itu haram jaddah, lha ko waktu Pak Jokowi mbubarin HTI ngente bilang presiden sekarang itu anti demokrasi.




Ah, emboh, koen-koen kabeh iku memang seneng mencla-mencle he sikate wc ….

Presiden dari pribumi tulen dan Islam sejak dari orok ngente bilang dari keluarga non Muslim keturunan Tionghoa. Sedangkan Gabener keturunan Arab ngente bilang pribumi tulen. Atau si Capres abadi China mualaf ngente bilang pembela pribumi dan pemimpin paling Islami? Pikiran ko molak malik koyok godokan jamu, he kembang sundel ….

Yang Islam dan bisa menjadi imam sholat ngente kapir-kapirin. Yang jadi makmum saja salah ngente bilang pemimpin Islam yang top. Woalah yu yu, kalau minum fifis unta mbok yo jangan over dosis, to. Masak calon pemimpin yang paling Islami, nyuruh mbak Yeni Wahid jadi imam sholat? Lak, yo diguyu Gus Dur to di sana ….

Memanen durian di Rante Besi, Kecamatan Rante Besi, Kabupaten Dairi dengan model Sora Sirulo Elshita Ika Verbinna Bangun [kiri] dan Arisca Yuni Christy Tarigan [kanan]. Foto: Siska V. Tarigan.

Di saat bangsa-bangsa lain, mengagumi kebhinekaan dan jiwa toleransi yang rahmatan lil alaamin di Bumi Nusantara. Eh, sebagian anak bangsa sendiri malah berminat belajar faham intoleran, radikal dan kekerasan yang ada di Jazirah Arab sana. Hidup di Indonesia, tapi gaya ke Barat-baratan atau ke Arab-araban. Walah, mbah buyutmu nelongso, nduk, lihat cucu-cucunya wes gak Indonesia lagi.

Masih percaya 212 itu bela agama? Yang jawab “percaya” hayo ambil fifis untanya sana. Kentir kuadrat yang gak bertepi.

Salam Jemblem.








1 COMMENT

  1. “hobi nebar fitnah dan hoax ko dikatakan jihad??”

    Jihad apa kalau tujuannya cuma mau maki dan fitnah presiden yang sah dan terpilih secara demokratis? Jokowi dipilih oleh rakyat, karena itu bukan diktator. Kalau mau memilih presiden lain melengserkan Jokowi, harus lewat pemilihan yang demokratis juga. Dan semua punya kesempatan. Pemilihan yang demokratis tidak perlu fitnah, tetapi pakai argumentasi yang logis, ilmiah dan sopan santun yang sesuai pula dengan adat/tradisi leluhur bangsa ini. Pakai fitnah atau ‘fifis unta’ bukan tradisi bangsa ini, karena itu tidak harus dipakai. Tradisi kita adalah musyawarah, diskusi atau debat ringan yang meliputkan argumentasi yang ilmiah dan bisa dipahami oleh semua lapisan, semua golongan dan semua kultur peninggalan leluhur bangsa Indonesia. Tidak ada yang lebih baik dari situ.

    Kebarat-baratan atau kearab-araban bukanlah yang terbaik, kalaupun bukan yang terjelek. Indonesia menghargai dan menghormati semua nation dunia dan kulturnya. Dan memahami bahwa semua kultur/tradisi punya lokasi/daerah dan tempatnya di dunia. Kultur barat di barat, kultur Arab dan ‘fifis unta’ di Arab. Leluhur kita bilang: “dimana tanah dipijak disitu langit dijunjung”, atau ‘pendatang’ kata prof Kevin MacDonald ‘should not be able to remake society in their own image’. Orang Timur yang jadi pendatang di Barat harus menyesuaikan dirinya dengan tradisi/kultur Barat. Begitu juga orang Barat atau Arab yang datang ke Timur/Indonesia harus bisa menyesuaikan dirinya dengan kultur/tradisi Indonesia, bukan sebaliknya orang Indonesia harus berubah menyesuaikan dirinya dengan kultur Barat atau mengubah dirinya mengikuti kultur Arab dan ‘fifis unta’ nya.

    Perpecahan dan perang didunia dari satu segi banyak kaitannya dengan kultur/tradisi bangsa-bangsa dan nation dunia yang sangat beragam itu. Dari segi lain ialah soal duit, duit, duit . . . KESERAKAHAN neolib bankir dan rentenir internasional. Triliunan dolar yang sudah dipanen selama setengah abad dari emas Papua adalah salah satu contoh sebab utama pecah belah dan pembantaian 1965. Soekarno yang tidak SERAKAH digantikan oleh seorang diktator yang serakah dan disukai dan diangkat oleh PASUKAN SERAKAH INTERNASIONAL.

    PASUKAN SERAKAH ini masih terus melambaikan dan mengibarkan bendera pecah belahnya (divide and conquer’ keseluruh dunia demi melapangkan jalan ke sumber duit, duit, duit SDA, SDA nation-nation dunia. Kita masih ingat akun-akun biaya tinggi ratusan ribu akun Saracen!

    Juga masih belum lupa tentunya gerakan divide and conquer lainnya, 411, 212, HTI, Alumni 212. Walaupun semuanya sudah digagalkan oleh aparat keamanan Indonesia dan dibelejeti oleh publik Indonesia, gerakan divide and conquer ini harus terus diwaspadai kerena bisa muncul dalam bentuk-bentuk lain juga.

    Hebatnya publik Indonesia ialah sudah banyak belajar terutama generasi mudanya, bisa belajar, bisa menyimpulkan pengalaman pahit dan tahan uji.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.