Kolom Edi Sembiring: INGAT ANANDA SUKARLAN? LIHAT AKSI ZAADIT TAQWA

0
1049

Masih ingat aksi walk out-nya Ananda Sukarlan saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berpidato? Anies berpidato pada 11 November 2017 dalam acara peringatan 90 tahun berdirinya Kolese Kanisius.

Aksi Walk Out dilakukan mandiri oleh Ananda Sukarlan di acara itu. Walk out dengan sangat sopan dan tidak mengganggu acara. Tidak melakukan aktivitas fisik terang-terangan yang berusaha mengganggu Anies Baswedan ataupun acara yang tengah berlangsung. Dan tentu tidak memprovokasi.




Karena ia pun tahu, Anies Baswedan adalah tamu undangan dan juga orang penting di Propinsi DKI Jakarta. Dan acara ini adalah miliknya juga sebagai alumni yang sedang berbahagia. Apalagi Ananda juga mendapatkan penghargaan sebagai salah satu dari lima alumni lintas generasi.

Setelah menerima penghargaan, Ananda mendapat kesempatan berpidato. Dalam pidatonya, ia mengkritik panitia penyelenggara acara tersebut. Dan pada saat itupun, Anies Baswedan sudah tidak ada di tempat.

Itulah caranya menyampaikan kritikan dengan tidak mempermalukan tamu besar yang diundang. Dan tak membuat acara menjadi kurang berbahagia.

Lalu bandingkan dengan aksi Ketua BEM UI, Zaadit Taqwa, kepada Jokowi pada acara dies natalis Universitas Indonesia ke 68 di Depok [Jumat 2/2]. Presiden Jokowi adalah tamu undangan dan tamu kehormatan di acara resmi UI tersebut.

Siapa yang lebih santun?

Padahal di jaman pemerintahan Jokowi tak ada sumbatan dialog. Berbeda dengan masa Rezim Orba. Dan pada tanggal 18 Mei 2015 pun, BEM UI dan sejumlah kampus diundang oleh Jokowi berdialog di Istana.

Zaadit harus ingat ucapan pendahulunya yaitu Andi Aulia Rahman yang menjabat Ketua BEM UI kala itu:

“Bagi kami turun ke jalan adalah pilihan terakhir. Kami ingin menyampaikan empat isu utama, tentang hukum dan pemerintahan termasuk revolusi mental dan birokrat serta agenda pemberantasan korupsi, soal kenaikan harga BBM, kemudian masalah ekonomi di mana kenaikan harga bahan pokok, dan oligarki partai yang seolah mengendalikan,” urai Andi.




Sangat disayangkan aksi tidak simpatik ini dipertontonkan. Padahal di hari berbahagia ini, Jokowi dengan bangga menyatakan, “UI penyumbang terbanyak menteri di Kabinet Kerja. Sampai saat ini, ada 6 alumni UI yang bantu saya.”

Dengan gaya bersahabat, pada saat berpidato, Presiden Jokowi memperlihatkan foto zaman dulu menteri-menterinya. Foto-foto itu ditampilkan pada layar presentasi di tengah pidato Jokowi. Setelah menampilkan foto-foto zaman dulu itu, Jokowi juga menampilkan wajah terkini para menteri itu.

Wajah-wajah yang terlihat itu adalah Menteri Agraria dan Tata Ruang (Sofyan Djalil), Menko Perekonomian (Darmin Nasution), Menteri Keuangan (Sri Mulyani), Menko PMK (Puan Maharani), Menteri PPN/Kepala Bappenas (Bambang Brodjonegoro), dan Menteri Kesehatan (Nila F Moeloek).

Hal ini tentu membanggakan bagi almamater UI dengan besarnya sumbangan UI bagi pemerintahan kali ini. Dan tentu tak susah bagi utusan BEM UI ini untuk berdialog dengan para alumninya yang sudah menjadi Mentri.

Membicarakan soal kesehatan di Papua misalnya, tentu bisa berjumpa dengan Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, yang juga alumni UI. Malah bisa dilakukan sejak kabar duka itu datang dari Papua.

Bukan menunggu acara dies natalis ini ada. Atau lebih keren lagi, mahasiswa dan alumni turun untuk hadir di Papua. Bukankah ini akan menjadi kado terindah bagi Papua di acara dies natalis ini?




Sementara itu, Jokowi pun sudah memberikan tanda untuk menerima dialog dengan utusan BEM UI.

“Sempat dijanjikan bahwa kita akan bertemu Pak Jokowi, tapi sampai tadi pagi belum ada kejelasan,” kata Zaadit dalam jumpa pers di Pusgiwa UI, Depok, Jawa Barat [Jumat 2/2].

Tapi apa daya, gara-gara kuning setitik rusak rencana semula. Sebagai tuan rumah, Zaadit pasti tahu cara berkomunikasi dengan pihak panitia.

Sepertinya, Zaadit harus lebih banyak lagi belajar pada pendahulunya dalam cara berkomunikasi yang cerdas. Ini bukan lagi masa Orba yang anti dialog. Bahkan sebelum aksipun, para intel di jaman Orba sudah mengantongi nama-nama. Dan tak akan pernah, wajah para aktivis tampak satu ruangan dengan Soeharto.













Leave a Reply