Kolom Eko Kuntadhi: KENAPA TAKUT DENGAN BAKTI SOSIAL GEREJA?

0
730

Sebuah bakti sosial gereja Katolik dibubarkan kelompok ngaco di Jogja. Alasanya karena Kristenisasi. Eh, Sultan Hamengkubuwono X ikut-ikutan komentar, “Kalau mau bakti sosial gak usah bawa-bawa gereja.”

Saya memandang statemen Sultan seperti membenarkan kelompok yang membubarkan acara itu. Seperti setuju bahwa sebuah bakti sosial adalah sarana Kristenisasi.

Pertanyaanya, emang gampang masuk Kristen? Apalagi katolik. Orang harus ikut semacam pendidikan agama dulu yang matang (prosesnya bisa tahunan), ikut perjamuan kudus, baptis, baru kemudian bisa diakui sebagai Katolik.

Sebetulnya bukan hanya Katolik. Tidak ada orang yang gampang pindah agama. Persentuhannya membutuhkan waktu yang lama, intens, dan serius. Kebanyakan orang yang pindah agama, bukan dipicu oleh bakti sosial, tapi mengikuti agama pasangannya. Atau ikut agama orang dekatnya. Orang yang pindah agama tiba-tiba, kucluk-kuckuk begitu saja, amat sangat jarang. Apalagi cuma karena tertarik dengan acara bakti sosial menggelar bazaar murah.




Artinya, baru bersentuhan dengan sebuah kegiatan bakti sosial, jangan geer juga sudah bisa diakui sebagai penganut Katolik.Jangan terburu berprasangka juga jika sebuah bakti sosial tujuannya untuk mengkristenkan atau mengkatolikan orang. Jemaah gereja yang hendak menggelar bakti sosial itu sesungguhnya hanya hendak melakukan apa yang disampaikan Al Quran, Fastabiqul Khairot, berlomba-lomba dalam kebaikan.

Di Jogjakarta, para pembubar acara itu menampilkan Islam yang beringas. Yang membenci kebaikan. Mereka tidak mewakili Islam secara keseluruhan. Mereka melarang umat agama lain berbuat kebaikan justru dengan cara yang tidak baik. Membubarkan bakti sosial adalah tindakan paling bloon dari orang yang mengaku Islam.

Kenapa mereka begitu khawatir orangain berbuat baik? Karena mereka sendiri ragu apakah dirinya bisa berbuat baik juga. Jadi kalau ada orang lain berbuat baik, takut khawatir dibanding-bandingkan.

Setiap agama pasti mengajarkan kebaikan. Berkhidmad pada orang kecil adalah ajaran luhur kemanusiaan yang diajarkan semua agama. Jadi jika sebuah bakti sosial tidak boleh membawa-bawa nama gereja, itu sama saja ingin mengatakan selain Islam tidak boleh berbuat baik. Itu sama saja dengan mengklaim tidak ada kebaikan lain selain dari agamanya.

Kacau banget cara berfikirnya, jika begitu.

Padahal, jika kita setuju dengan negara yang Berketuhanan Yang Maha Esa, otomatis refleksi perbuatan baik warga negara adalah bagian dari cara mereka berketuhanan. Artinya, semua umat terdorong untuk melakukan kebaikan-kebaikan justru karena mereka beragama. Jadi, bakti sosial gereja justru sebuah penegasan, bahwa ini adalah negeri Pancasila dengan dasar ketuhanan. Bukan negeri sekuler.




Jadi bakti sosial Gereja. Bantuan sembako dari komunitas Budha. Layanan kesehatan dari jemaah Katolik. Aksi operasi katarak gratis dari dokter muslim. Atau jemaah Hindu yang membuat kerja bakti adalah wujud ibadah sosial setiap agama.

Seandainya semua komunitas agama –apapun agamanya– berfastabiqul khoirot (berlomba berbuat kebaikan), betapa asyiknya hidup di Indonesia. Jangan pernah khawatir orang akan pindah agama. Sebab kata Gus Dur ketika ada orang berbuat baik, yang kita ingat adalah perbuatan baiknya. Bukan apa agamanya.

Ada sebuah kisah di jaman Nabi mulia. Setelah sebuah perang, pasukan Nabi menahan beberapa tawanan perang Yahudi. Salah satu diantaranya adalah wanita. Di hadapan Nabi, wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai putri si Fulan. Mendengar nama itu, Kanjeng Nabi terdiam lalu memerintahkan pasukannya membebaskan sang tahanan.

“Ayahnya adalah orang baik. Dia suka memberi makan orang miskin. Suka mendermakan hartanya buat anak yatim,” ujar Nabi mulia.

Itulah penghormatan baginda Rasul kepada kebaikan manusia apapun agamanya.

Jika baginda Nabi saja menghornati kebaikan-kebaikan umat lain, masa kita mau menghardik sebuah bakti sosial yang dikakukan jamaah gereja? Norak amat.

Sebetulnya ketakutan pada orang yang berbuat baik ini hanya refleksi bahwa mereka tidak terbiasa berbuat baik. Mereka akan mencela kebaikan-kebaikan orang lain agar keburukannya tidak semakin kentara.

Sama seperti para pencela Jokowi ketika menjadi imam sholat di Afganistan. Mereka kebakaran celana dalam melihat orang yang dibencinya ternyata Presiden yang shaleh. Presiden yang bisa menjadi imam sholat. Ini adalah sejenis penyakit hati akut. Dia kelojotan sendiri jika menyaksikan orang lain jauh lebih baik dari dirinya.




Jika kuatir umat Islam bersimpati dengan kebaikan bakti sosial gereja, jalannya bukan dengan menghardik kegiatan itu. Tapi buatlah kebaikan-kebaikan baru yang lebih terasa manfatnya atas nama masjid, jemaah pengajian, atau organisasi Islam.

Sekali lagi Quran sudah jelas berkata, Fastabiqul khoirot. Berlomba-lombalah dalam berbuat baik. Bukan saling berlomba menghalangi kebaikan orang lain.

“Jangan-jangan mereka bukannya takut dengan bakti sosial, mas. Tapi takut dengan salibnya,” celetuk Bambang Kusnadi.

“Husshhh… Emangnya mereka vampire, Mbang?”










Leave a Reply